Showing posts with label sumthing to share. Show all posts
Showing posts with label sumthing to share. Show all posts

Thursday, September 20, 2012

Those cowards

I supposed to attend a french course today which is held at Alliance Francais Balikpapan. Surprisingly the office was all shut down today, the doors are locked while me and my friend, as the students, received none of any notification at all for what is actually happening today. I met a french lady who wanted to go to the Alliance Francais's office and told me that all the french schools are closed for today and tomorrow. I asked her why, but she only smile and said that there's something happening in French and I might should find out on the internet.

Then I got this news from here:

France to shutter embassies, schools over new Muhammad cartoon

France said it would temporarily close its embassies and schools in 20 countries Friday after a satirical magazine in Paris published insulting cartoons of the Muslim prophet Muhammad, a move it fears will add “fuel to the fire” of global tensions over an anti-Islam film.
The French government, which had urged the weekly not to print the cartoons, said it was shutting embassies and schools as a precaution on Friday, when protests sometimes break out after Muslim prayers.
“We have indeed decided as a precautionary measure to close our premises, embassies, consulates, cultural centers and schools,” a Foreign Ministry spokesman told Reuters. Riot police were also sent to the offices of the weekly magazine, Charlie Hebdo.

Arab League Secretary-General Nabil Elaraby called the drawings outrageous but said those who were offended by them should "use peaceful means to express their firm rejection".
Tunisia's ruling Islamist party, Ennahda, condemned what it called an act of "aggression" against Muhammad but urged Muslims not to fall into a trap intended to "derail the Arab Spring and turn it into a conflict with the West".
In the northern Paris suburb of Sarcelles, one person was slightly hurt when two masked men threw a small explosive device through the window of a kosher supermarket. Police said it was too early to link the incident to the cartoons. One small local Muslim group filed a legal complaint against the weekly but there were no reports of reaction on the streets of France.

The acting head of Egypt’s Muslim Brotherhood said French courts should deal with the case as firmly as it dealt with a magazine that published topless photographs of the U.K.'s Duchess of Cambridge.
The publication came amid widespread outrage over a crude, provocative film, made by anti-Islam campaigners in California, that mocked the Prophet and ignited days of deadly protests including an attack in Libya in which U.S. Ambassador Chris Stevens was killed.
The front-page cartoon had the figure in a wheelchair saying "You mustn't mock'' under the headline "Untouchable 2," a reference to a hugely popular French movie about a paralyzed rich white man and his black assistant.


Muslim Brotherhood: Respect beliefs of others
Muslim leaders criticized the magazine’s cartoons as another Western insult to their faith and urged France's government to take action.
"We reject and condemn the French cartoons that dishonor the Prophet and we condemn any action that defames the sacred according to people's beliefs," the acting head of Egypt's Muslim Brotherhood's Freedom and Justice Party, Essam Erian, said, according to Reuters.
Erian added that the French judiciary should deal with the issue as firmly as it had handled the case against the magazine, Closer, which published topless pictures of Britain's Duchess of Cambridge, the wife of Prince William.
"If the case of Kate (the duchess) is a matter of privacy, then the cartoons are an insult to a whole people. The beliefs of others must be respected," he told Reuters.
Erian also spoke out against any violent reaction from Muslims but said peaceful protests were justified.
Mahmoud Ghozlan, spokesman for the Muslim Brotherhood, welcomed French government criticism of the cartoons but said that French law should deal with insults against Islam in the same way as it deals with Holocaust denial.

"If anyone doubts the Holocaust happened, they are imprisoned, yet if anyone insults the Prophet, his companions or Islam, the most (France) does is to apologize in two words. It is not fair or logical," he told Reuters.
In Lebanon, leading Salafist cleric Sheikh Nabil Rahim said the cartoons were extremely insulting and could lead to more violence.
"Of course it will anger people further. It will raise tensions that were already dangerously high," he said, according to Reuters.
He accused those involved of trying to provoke a clash of civilizations, not dialogue. "We will try to keep things managed and peaceful, but these things easily get out of hand. I fear there could more targeting of foreigners, and this is why I wish they would not persist with these provocations."
An official in Egypt's Coptic Orthodox Church said the move was a deliberate provocation. It showed "some international powers" wanted violence to escalate in Egypt so that the country would not develop economically, the official, who asked not to be named, said without elaborating. 

***
 
I'm  too sick with all the news about offending Islam or the Prophet. I look pity at those people. Whom are they actually addressing their jokes to? To the Prophet? The whole universe never stop giving shalawat to him. None of those people that are big or strong enough even if they're united all together to fight against Allah, the prophet and Islam.

Monday, January 9, 2012

The New Balikpapaneese part.1

Mulai dari mana deh ceritanya? Mulai dari pertama lah ya.. (ya menurut lo..?)

Baiklah kalau begitu, dimulai dari review singkat soal hotel tempat gue tinggal sebelum akhirnya pindah ke housing yang disediain perusahaan tempat laki gue kerja ini yaah! Udah lama gue pengen cerita sedikit soal hotel ini. Ceritanya... mengecewakan!

Sebutlah nama hotelnya: Le Grandeuruo! Billy dapat masukan dari temen kerjanya untuk request hotel yang ini kalau mau bawa keluarga, karena ceunah lebih cozy buat keluarga. Nah, begitu dapat contekan kaya gitu kan langsung terpikir kamar besar, lobby asoy, playground buat anak, plus fasilitas deket pantai gitu kan... kan.. kan??? Emang sih ini satu-satunya hotel yang dekat pantai di Balikpapan. Pantainya sih asik, tapi lautnya kotor karena dekat muara sungai, emang jarang banget orang berenang di lautnya. Sebenernya, emang jarang banget orang berenang di laut kota Balikpapan sepengetahuan gue. Tapi mungkin gue salah, lah pan gue baru balik jadi warga sini paaaan.....

Okeh, kembali ke hotel Le Grandeuruo.... Hotel yang katanya bintang lima ini kalau dapat nilai dari gue sih gue kasih bintang 3 udah lumayan banget deh.... nggak jarang fasilitasnya mau gue samain sama kelas melati. Hehehehe... kejam yaa eike! Begitu masuk kamar kesan pertama yang gue dapat adalah bau rokok! Gue aseliiiik deh nggak tahan sama bau rokok. Bodo ah mo dibilang kampungan kek, tapi semenjak punya pengalaman terjebak 12 jam di mobil L-300 yang penuh asap rokok di sepanjang perjalanan berliku-liku antara kota Blangkejeuren - Medan dipadu dengan telinga yang diperkosa sama musik dangdut atau pop Indonesia yang sama sekali nggak ngasih kesempatan penumpangnya buat istirahat..... somehow setelahnya otak gue muak... eh nggak.. bukan... bukan muak tapi MUAKKKKKKK BANGETTTTT sama bau rokok! Tapi ya salah kite juga sih, kita nggak tau kalau ternyata lantai itu adalah lantai khusus perokok, dan gue baru tau setelah beberapa hari nginap di sana. Jadi masalah kamar bau rokok itu bisa dimaklumi deh. Next...

Kamar yang kita dapat ternyata nggak sesuai dengan bayangan gue tentang hotel yang family friendly. Well, Billy request buat dapat kamar yang lebih besar, tapi kantornya yang medit itu cuma ngasih kamar  standar aja rupanya. Mikirin bakal tinggal lama di kamar itu dengan anak, gue langsung khawatir anak gue bakalan bosan, tapi ternyata anak gue seneng-seneng aja,dia pikir dia lagi liburan! hehehehe...

Teruuuuusss.... apa dooong review jeleknya tentang si hotel sampe nilainya turun kelas dua tigaperempat bintang?

Good question! Dimulai dari penampakan seekor kecoa di dinding kamar yang tiba-tiba gue liat pas mau bobo malam. Hellooooooooooo.... berapa bintangnya katanya? Lima?? Ada kecoa di dalam kamar hotel bintang lima??? Oh bloody! Jangan dulu tercengang, karena gue rasa penghuni berkaki lebih dari dua di kamar yang gue tempatin kayanya nggak cuma kecoa. Waktu gue masih nginap di kamar smoking floor, kaki and tangan gue sempet gatel banget dengan bekas gigitan serangga. Awalnya gue kira karena serangga yang mungkin nyerang waktu main-main di pantai. Cuma dua gigitan aja, so I didn't take it seriously.

Setelah kita sadar bahwa kita tinggal di smoking floor, akhirnya kita minta pindah kamar di non smoking floor. Nah setelah 2-3 hari di kamar ini tiba-tiba jidat and kaki gue diserang serangga yang gue nggak bisa liat penampakannya. Kutu kah??? Gue nggak tau yang jelas GATAL BANGET SODARA-SODARAAAAA!!!!!! Ada kali belasanan bentol...ntar gue itung dulu, bekasnya bahkan masih ada sampe sekarang. 6 di jidat, dan entah berapa di kaki... total jendral pokoknya banyak!!! Nggak cuma gue yang kena, laki gue juga. Alhamdulillah banget anak gue nggak kena. Kalo nggak bisa nggak tidur gue sepanjang malam sampe gatalnya ilang, dan gatalnya nggak ilang sampai berhari-hari lhoooooo. Ih, alhamdulillah anak gue nggak kena, boro-boro kutu, digigit nyamuk aja anak gue gatalnya berhari-hari. Bahkan kadang sampe sekarang masih gatel tuh bekas gigitan yang ada di kaki gue.... parah ya book! :(

Gue langsung telpon room service minta diganti semua seprei, bantal, selimut, dan gue bilang gue digigit serangga yang nggak keliatan di kamar itu biar disemprot gitu. Kali ini gue yakin kena di kamar karena setelah pindah ke kamar itu sebelum kena gigitan serangga gue belum main-main ke pantai. Kadang pas frustasi karena gatalnya pengen rasanya gue minta suami request pindah hotel sekalian, tapi nanggung karena kita cuma nunggu beberapa hari lagi buat masuk ke housing sementara kalau mau pindahan barang yang di bawa segambreng. Dan setelah segala-gala diganti tetep aja gigitan serangganya nambah dong.

Bugs problem itu adalah masalah yang paling fatal. Masalah-masalah lainnya jadi sepele deh, such as: suami gue minta semirin sepatu tapi nggak disemirin padahal udah ditaro di tempat semir sepatu, laundrynya yang harga bintang lima tapi nggak ada wangi-wanginya acan, kualitas makannya yang sama sekali nggak bintang lima; nasinya yang terlalu keras lah, variasi makanan breakfast yang sangat terbatas lah, kadang bahkan beberapa menu bisa kehabisan. Oh come on! Gue pernah tinggal di hotel yang nggak bintang empat pun, tapi variasi menu breakfastnya lebih bagus dari Le Grandeuruo! Menu yang selalu ada di buffet pas breakfast (gue sampe hafal): Sossis & bacon , sup kacang merah, kentang yang masaknya berubah-ubah kadang rebus, goreng, panggang..., mi goreng atau bihun goreng (yang kalau datangnya kesiangan mienya udah kering bener), nasi yang kadang-kadang diganti sama nasi goreng, dan yang pasti berubah-ubah tiap hari adalah sayurnya, terus ada buah-buahan, yoghurt 3 rasa, macam-macam roti yang selalu sama, bread pudding (yang selalu sama juga), cereal, milk and juices. Terus ada stall sandwich dimana tamu bisa meracik sendiri sandwichnya, ada stall omelet dimana kokinya masaknya agak lama jadi tamu males nunggu tapi minta diantar.... nggak jarang kita jadi ilfeel mau minta karena lah kokinya mana??? ...rupanya kokinya lagi antar-antar omelet pesanan customer. Ada lagi stand bubur ayam dan bubur ikan. Trus terakhir ada stall makanan yang selalu ganti-ganti antara nasi kuning, rawon, soup kimlo, tekwan, atau lontong sayur. Biasanya kalau kesempatan nginap di hotel bintang ini kesempatan gue buat makan keju-keju mehong, jangan harap nemu keju mehong di Le Grendeuruo... nggak ada keju disini! *ngekngoook*

Eh tapi pernah lho ada tamu yang marah-marah sama salah satu petugas restaurantnya, yaaa nggak marah-marah kaya politikus lagi adu debat di tipi gitu sih, tapi lumayan nyentil lah. Gue nggak sengaja dengar si Bapak Tamu (BT) ngomong gini : "makanannya cuma ini doang?"
Petugas : "iya Pak, tapi bapak bisa ambil sepuasnya kok."
BT : "ini mana mienya, habis? Buahnya cuma segini? Ini petugas yang bikin omelet mana? Kok nggak ada?"
...
Selanjutnya gue nggak denger karena langsung duduk nemenin anak gue sarapan, tapi kalau waktu itu lagi nggak pegang piring rasanya gue mau kasih standing applause ke si Bapak Tamu seketika!

Apa lagi dah? Tentunya masalah wallpaper kamar yang robek pun jadi terlihat sepele kaan? Terus lampu kamar yang tiba-tiba mati juga sepele kan? Dua kali lhoooo lampu kamar kita mati, dan cuma kamar tempat keluarga gue nginep doang yang mati. And when I said "lampu kamar" I mean segala listrik di kamar gitu deh. Kece kan? Terus masalah playground buat anak-anak yang nggak ada...? Hah? Emang itu masalah ya???  Lobby yang kecil untuk kelas bintang lima pun kayanya bukan masalah dong yaaak...*standar langsung drop!* -___-"

pemandangan laut dari jendela kamar diwarnai wallpaper yang blewer... :p
Tapi biar gitu tetep aja hotel ini rame. Menurut Billy kebutuhan hotel di Balikpapan emang tinggi banget, jadi mungkin karena itu juga standar hotel bintang lima jadi nggak terjaga kali yak. Walaupun kualitasnya drop dibanding kelasnya tetep aja tamunya banyak. Selama gue tinggal disitu gue pernah ketemu sama rombongan family gathering perusahan kontraktor yang kayanya dari Smarinda, pernah juga ketemu sama rombongan partai biru yang ngadain rapat di situ. *tsk!* Dan waktu liburan Natal yang jatoh pas long weekend hotel mendadak rameeee sama keluarga-keluarga yang bawa mobil. Gue rasa Balikpapan ini jadi semacam Bandungnya Jakarta bagi orang-orang Samarinda, if u know what I mean.  Dan dikala hotel itu lagi rame-ramenya dengan keluarga, surprisingly mereka menutup restaurant untuk sarapan dan mindahin ke ruangan lain. Waktu ngeliat restaurantnya ditutup kita pikir mereka emang antisipasi untuk tamu yang membludak biar cukup, karena waktu rombongan family gathering dari Samarinda yang pas weekend juga gue sempet terpaksa berbagi meja sama tamu lain saking penuhnya. Ternyata eh ternyata, sarapan dipindah ke ruangan yang lebih kecil jadi untuk sarapan kita harus antri pake waiting list. Blaaaaaah.....! Restaurantnya ditutup buat acara Christmas brunch, yang gue nggak tau deh free buat tamu atau buat tamu undangan atau siapa, yang jelas kamar gue nggak dapet undangan tuh... cih!

Tapi akhirnya waktu kita check out kebetulan Billy diajak ngomong sama salah satu petugas yang ternyata berpangkat "duty manager"... jeng jeng jeeeeeng!!!! Namanya gue lupa, lagian kalau gue inget pun kan nggak layak lah ya gue tulis disini. Waktu Billy tanya si bapak yang ngajak ngobrol ini kerjanya sebagai apa, dan beliau jawab bahwa ternyata dia adalah sang duty manager langsung lah Billy kasih tau apa-apa yang menurut Billy sebaiknya jadi review buat sang manager. Sayangnya laki gue cuma inget urusan nasi keras, sepatu nggak disemir doang.... untung gue denger, gue langsung dong dong dong nambahin urusan bugs problem sambil kasih liat bukti jidat jenong kece gue yang mendadak totol-totol thanx to their outstanding pet control! Billy bahkan nggak bilang rusan wallpaper yang robek. Laki gue itu sangat lembut hati, padahal gue sempet ketemu beberapa kali sama si duty manager ini. Sayang waktu itu gue nggak tau dia siapa, kalau nggak dia bakalan dapat kritikan lebih pedas dari sambal lado gilo dari gue. :p

Gitu deh review gue soal hotel Le Grandeuruo. Hmmmm... kalau ente-ente mau main ke Balikpapan dan nyari hotel bintang lima, yah gue nggak suggest hotel ini deh dengan dasar pengalaman gue.


Yuuuuk mariiiii...


Sunday, October 9, 2011

They didn't start it easily.

I met some new people recently. No, they are not my patients, they are people who was once in my place where I'm seating now. (So they've once using your laptop too?) Err... no -____-". They are successes entrepreneurs who once crawled from zero just like me now. I didn't waste my chance to get their experience, I've pretty much asked some of them questions, which they've generously answered and shared me their stories.

There was Silverius Oscar "Onte" Unggul, an eco-social entrepreneur who works for TELAPAK. He was one of some speakers on E-idea EA at Shangrila Hotel last Wednesday. TELAPAK is an NGO who works for the environment, what they have done and do pretty much inspires me. They save trees and help illegal loggers to cooperate with them and earn more money. While illegal loggers used to cut trees and sell woods in cheap price, TELAPAK made a system to certified trees which will worth more because each tree is noted for its age, height, diameter,  precise position and for each tree that is cut will be replaced with another tree. And when those woods are transformed into furniture or stuff like that, its certification will tell the buyer that that furniture is made from tree which was cut from where, in what age, what year and so... Brilliant idea!
Before he finally made those illegal loggers to cooperate with him, Bang Onte (it's how some people call him) spent 7 years to approach them. Seven years!!! In seven years he didn't produce anything yet, he just tried to get along with those loggers; sleep, eat, play soccer with them. The guy is so very nice, he shared me a social enterprise manual... I'm still learning on it.

And there was Wahyu Aditya, a quite famous entrepreneur who is the founder of Hello Motion. The man runs a design school, makes design festival once in every year, runs a distro, produces printed tees... He shared his experiences when he first run his business. It takes 5 years until he can say that his business is finally established.

And there was more couples of people who also has interesting stories... But what I can conclude is that the first 3 years of running a business is the period that we can say "masa berdarah-darah", so please enjoy! And another thing I got is, "motivation is above ability". When you (read: I) have a great motivation of doing something, you (read: I) will do anything to make something that seems impossible to be possible. Oh, cool! Saying it is so easy, but to do it is a hard work and "berdarah-darah". But bring it on! I - WANT - MY - DREAM - COMES - TRUE !!! You hear me universe??? I know you do! Make it happen!!!!!


Sincerely,
a trying-to-be-an-eco-social-entrepreneur yang masih kroco, coro, combro, misro, minumnya teh botol sosro. :p

Sunday, October 2, 2011

Coral. green craft with the love to ocean


Apaan sih Coral.? Coral. itu mimpi gue yang lahir sekitar lima bulan yang lalu, dimana waktu itu gue lagi getol-getolnya browsing blog tentang crafting, dan lagi eling tentang gaya hidup yang ramah lingkungan... dua-duanya ditemukan, disatukan, lahirlah Coral. .

Agak keterlaluan emang kalau gue belum cerita tentang Coral. sedikit pun di sini. Maaf yaaa blog.... Padahal gue udah umbar-umbar di twitter, facebook, bahkan udah diikutin kompetisi dan sempet lolos jadi finalis segala. Tapi nggak belum sedikit pun gue share di sini. Ter - la - lu ! :(

Adalah gue, si tukang bosan dan selalu pengen coba ini itu. Salah satu dari sekian panjang list yang pengen gue coba adalah berwirausaha, tapi selalu mentok dengan pikiran modal, tempat, waktu... endesbrei. Belum lagi ilmu wirausaha gue itu yaaaah... hampir sama banyaknya sama ilmunya anak gue soal wirausaha kali ya... eh lebay ya? Pokoknya lo bisa bilang gue begok deh kalo urusan ini! Emang! Selama sekolah dan kuliah sayangnya gue sama sekali nggak dapat ilmu wirausaha. Dan di lingkungan keluarga pun tadinya nggak ada yang berwirausaha (keluarga dekat banget maksudnya). Sementara gue bisa lah dibilang manusia kebanyakan teori, kalo belum dapet teorinya kayanya belum paham gitu.

Tapi biar begok gue udah berkali-kali punya mimpi atau niat berwirausaha, kan ada laki gue kan yang pinter.... hehehe. Gue dan suami pernah berniat mau buka apotik waralaba, tapi pupus karena ternyata butuh modal yang nggak terjangkau. Pernah juga mau buka klinik gigi kerjasama dengan apotik deket rumah, udah sempet ketemu dan ngobrol-ngobrol sama pihak apotik tapi gagal juga gara-gara pihak apotiknya sampe sekarang menghilang aja gitu...hiiish! (tapi untung juga nggak jadi, kalo nggak bingung juga gue urusannya kalau akhirnya mesti pindah ke Balikpapan kaya gini.... tuh kan, emang mantep deh skenarionya Allah!) Terus pernah juga niat bikin bisnis pastry rumahan, udah pamer segala ke temen-temen, bagi-bagi taster juga... tapi pupus gara-gara gue nggak berani maju. Berat juga kayanya mau bisnis makanan yaaak...udah mana itu pastry gue bikinnya sendirian, gimana ntar kalo permintaan banyak, gimana kalau basi, gimana supaya tetep manteb sampe di tangan customer??? Kebanyakan gimana akhirnya gue ngak berani maju.
hehehe...

Tapi biar begok plus penakut, tetep loooh gue pengeeeeen banget berwirausaha. Akhirnya setelah tercipta ide bisnis kreatif, gue langsung bbm-in adik gue Nadya yang udah jadi entrepreneur duluan dari jaman kuliah. Setelah gue ceritain apa ide gue responnya cuma bilang "langsung bikin!!!!!!". Gue dengan dodolnya nanya "hah, emang harus gitu ya?". Jawabnya, "Lah, emang lo mo nunggu apaan? Bikin langsung!!!"
Wuiiiiih??!

Tapi terus gue pikir mungkin emang harus gitu kali ya kalau mau mulai usaha. Setelah ngebahas ide gue ke suami, akhirnya kita sepakat kalau bisnis kreatif ini bisnis yang nggak perlu tempat, nggak perlu modal besar, nggak perlu tenaga banyak. Terus dalam hati gue juga makin menggaung deh omongan adek gue "iya ya, apa lagi dong yang mesti gue tunggu?". Tapi saat itu respon suami sekedar mendukung (suami gue mah emang selalu dukung apa pun ide gue selama nggak kelewat sinting.... iiiiih cintaaaaak! :*) tapi dia nggak bisa ciptain ide-ide kreatif, jadi dia cuma bisa support mentally, while I refuse to be supported financially (taelaaaah... padahal mah tetep minta-minta juga dikit :p).

Sebelum tercipta ide bikin produk dari sampah, dan sebelum tercetus nama Coral., gue sempet trial and error bikin beberapa dua produk lampu hias. Keduanya hampir bisa dibilang gagal, eh...  satu deh yang gagal, yang satu lagi cuma gagal diterusin aja. :p

Akhirnya nongol deh ide bikin lampu hias dari sampah botol kaca dan bantal dari sampah plastik. Terus untuk nama, dengan picik dan amatirnya langsung tercetus nama "Coral." karena gue cinta laut, itu aja alasannya. Hehehehe... gue si wirausahawan amatir tolol yang masih belajar, sekarang mulai paham tentang pentingnya nama suatu usaha. Baiklah, sekedar masukan buat yang mau mulai buka usaha nih yaaaa.... bikin lah nama yang sangaaat kreatif yang nggak ada miripnya, yang bisa jadi tanda khas ibarat tompel pada Rano Karno, tahi lalat pada Marilyn Monroe! (menurut para "dragons" di acara entah apa tentang penawaran kerjasama bisnis ke para pebisnis multimillionaire di BBC). Yah tapi Coral. udah kepalang dikenal dengan Coral., dan gue belum ketemu nama yang kreatif, jadi sebelum bikin bubur merah putih, biar lah dia dipanggil Coral. dulu walau pun yang kenal belum banyak. Eh by the way... punya ide nama nggak lo? #eaaaaaaaa....!!!!

Nggak lama setelah gue punya ide bikin Coral., adik gue si Nadya (macam adik gue ada lebih dari 1 aje :p) lagi-lagi ganggu gue sama bbmnya. Tau-tau dia share link tentang kompetisi E-idea dari British Council. Idih, apaan ituuuuuuh???? Yang jelas, sebagaimana kompetisi-kompetisi lainnya, E-idea ini pun punya deadline yang harus ditepati kalau mau ikutan nimbrung. Deadline? Bagosss!!! Gue si pemalas ini emang butuh deadline, supaya ada target kapan produk gue kudu kelar. Sama seperti niat bikin bisnis pastry dulu, Coral. ini pun gue kerjain segala-galanya sendiri, kecuali bagian kapnya gue minta tolong ke tukang kap lampu. Dan sebagai one-woman-standing-for-her-own, cum emak rumah tangga, cum PRT, cum praktek.. aduhai begitu mudahnya buat melambat-lambat ngerjain satu produk aja. Jadi karena deadline, akhirnya gue ikut kirim proposal ke kompetisi E-idea ini, mepet waktu tentunya! :p

Ajaibnya terpilih lah Coral. jadi salah satu  dari 24 finalis. Kadang-kadang gue khawatir jangan-jangan jurinya keselip file gue diantara yang lolos jadi finalis... kok bisa lolos sih gue? Tapi gue sedih juga sih nggak dipilih jadi pemenang (eaaaa labil!). Tapi yaa nggak sedih-sedih amat, nama juga masih baru, kerja pun masih sendiri, satu-satunya tim yg gw punya ya laki gue. :p Dan gue lah satu-satunya finalis yang berdiri atas nama diri sendiri, bukan tim atau badan. Kalau dipikir-pikir, seandainya pun menang emang masih terlalu prematur juga buat Coral. kali yaaak. Iya deh...

Semenjak E-idea itu berhubung produk gue udah ada yang jadi, mulai lah gue mencari pasar buat jualan. Dasar emang gue wirausahawan masih kroco, membuat sesuatu itu satu hal yaaak, tapi bikin supaya yang kita buat itu laku itu hal yang lain, dan itu justru yang paling krusial! Jadi berhasil kah gue menjual produk gue? Belum. -_____-"

Beberapa lampu gue yang udah jadi sedang duduk manis di suatu stand di Koloni Mall of Indonesia dengan sisstem konsinyasi, sampai sekarang. MOI ini sepertinya memang nggak terlalu rame yaaak... dan Koloni pun setelah dua kali gue kesana emang terlihat sepi walaupun standnya banyak, bahkan ada standnya gantibaju.com lho di sana (kalo yang suka baca-baca tentang entrepreneurship pasti tau deh yang satu ntu). Trus kenapa tetep naro disana? Yaaaa... seenggaknya kalau ada  yang pengen liat produk gue langsung gue punya jawabannya gitu. :p

Dalam urusan berwirausaha ini gue masih merayap lambaaat macam ular ganti kulit, gue masih perlu belajar banyak, masih perlu usaha yang luebuiiiiih ekstra lagi, masih perlu dikasih hantaman motivasi dari kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah, gitu deh! Macam sekarang ini tawaran konsinyasi gue ke salah satu artshop di daerah Kemang ditolak boook, gara-gara target pasar yang beda. Mata gue kurang jeli kalau barang-barang yang ditaro di etalase mereka itu barang untuk pasar anak muda atau anak kuliahan, sementara produk gue dianggap untuk pasar ibu-ibu gitu. Aih, rasanya macam diputusin pacar! Ha ha ha ha ha.... Yaaaah nggak papa deh, namanya juga masih baru kaaaan? (menghibur diri sendiri).

Gitu deh lebih kurangnya cerita tentang Coral. lo bisa liat blognya di www.corallivingproject.blogspot.com atau follow twitternya di @coralproject





 














Berniat beli nggak? Beli dooong.... hehehehe... *jualan* :p

Tapi kalau pun nggak beli, paling nggak doain aja yaaa supaya cita-cita gue ini bisa tercapai. Sama kaya anak yang masih tumbuh, cita-cita Coral. pun masih dinamis gituh, tapi tetep manis kok. hehehehe.... Beli yaaak! *eaaaa... jualan lagi*

Saturday, August 6, 2011

If You Call Your Self A Diver...

...Then you should give total respect to the sea! Gitu deh kira-kira yang seharusnya. Eh.. eh... ada apa ini? Kok tau-tau nyolot? Jadi begini ceritanya... teng teng teng teng...

Beberapa minggu yang lalu, gw dikasih kesempatan sama suami buat ikut one day dive trip di Sangiang, happy gembira bukan kepalang dong gw! Apalagi beberapa hari setelahnya gw berencana ikutan workshop yang bakalan ninggalin anak seharian selama beberapa hari, so tawaran dari suami ini layak diterima dengan hati berbunga-bunga, sekalian buat ngelatih anak seharian ditinggal emaknya gitu. Nggak tanggung-tanggung lhooo suami gw, segala dive gears dan tetek bengeknya dia yang nyiapin lho, gw cuma diminta nyiapin kebutuhan anak aja selama gw tinggal dive. Soalnya waktu itu gw lagi sibuk juga dengan sederetan deadlines. Ajib yaaa doi! Cintaaak! :*

Pokoknya segala-galanya udah dipersiapkan deh, gw tinggal duduk manis di kapal dan nyemplung ke laut. Selama di kapal susah payaaah banget gw buat nahan ujung bibir biar nggak naik. I believe I have failed big time. Walau nggak nyemplung sama suami, tapi yaaah kalo urusannya masuk laut sama aja rasanya kaya nunggu suami pulang setelah dua minggu di lapangan, macam mau ketemu pacar gitu! huhuhuhuhu...

Orang-orang yang akan dive bareng saat itu lumayan menyenangkan, somehow kita langsung akrab aja gitu. Ada 8 divers yang dibagi dalam 2 kelompok, kelompok pertama untuk fun dive ada 5 orang termasuk gw ditemenin sama 1 dive guide, kelompok kedua lagi ambil discovery dives 3 orang ditemenin sama 1 instructor.

Pada awalnya semua menyenangkan, walaupun Sangiang nggak serame dive spot beken yang lain, tapi tetep aja bikin happy! Tapi di dive pertama mulai deh gw ngeliat pemandangan yang bikin sakit mata, I saw a diver hanging on tight to coral to keep him self from drift. Ada coral yang bentuknya kaya batang pohon itu, si diver tadi lagi pegangan kuat kesitu macam narik tambang. Langsung gw samperin dan gw tegor... dan setelah gw liat-liat lagi, gw baru nyadar ternyata dia dive guidenya! heleeeeeeeh.... :(

Setelah dive pertama, kita mendarat di pulau Sangiang buat makan siang. Perasaan gw rada nggak enak sih sebenernya begitu tau yang gw tegor ternyata si guide sendiri, berasa macam tamu sotoy gini gw, but I have to do what I have to do kan?? So pura-pura lupa sama kejadian tadi gw pun nikmatin makan siang sambil becandaan sama divers yang lain. Setelah makan siang, I impressed dengan gaya mereka yang mengumpulkan semua sampah bekas makan dan dibawa (I thought) menuju kapal. Saat itu gw mulai mikir, waaaah... hebat-hebat ternyata orang-orang ini, senaaaaaang :). Tapi begitu di dermaga, terjadilah pemadangan yang bikin sakit mata kedua.... itu plastik gede berisi segala sampah bekas kotak makan dan gelas plastik (eh mereka nggak pake styrofoam loooh, gw juga tambah senang tadinya) ternyata di taro dengan anggun begitu aja di pinggir dermaga. laaaaaaahhh....???

Spontan gw nanya "itu sampahnya ditinggal disitu?", dan si guide jawab "iya, nanti dibakar." Jiaaaaah....! Sempet 2 atau 3 kali gw nengok balik ke plastik merana itu, rasanya pengen gw ambil aja gw pulung buat proyek gw tapi tengsin juga. Dan tengsin pun menang! Hufff.... sementara di rumah segala plastik dicuci dan diupayakan nggak masuk tong sampah, apalagi dibakar eeeeh kali ini gw ngeliat plastik gede dibiarin melongo di pulau orang, berharap dibakar sama penghuni pulau supaya mereka bisa nyium asap hasil pembakarannya.... (iya, sarkasme)! Itu bukan perilaku tamu yang baik rasanya :(

Jadi lah gw kembali ke kapal dengan sedikit sedih. Tapi langsung dihibur dengan nyemplung ke laut. Etapiiiiiiiiii..... beberapa menit kemudian terjadilah pemandangan menusuk mata yang ketiga dan keempat. Ada satu diver dari kelompok discovery dive yang dengan bringas nendang-nendang koral di bawah kakinya, nggak cukup nendang diapun berakhir nginjak koral tadi macam lagi naik eskalator. Sempet gw foto sebelum akhirnya gw tegor. Dan baru meleng dikit aja dari diver yang ini, eh gw liat diver dari discovery juga yang lagi nangkring imut pegangan pake semua jari-jari tangannya di atas coral. Kena tegor pula seketika!

YOU CAN NOT DO THIS!!!!!!!


Gw sih paham kalo mereka newbie, tapi mestinya sebelum mereka masuk laut mereka harus tau dulu aturannya dong. Sama lah macam belajar bawa mobil, lo mesti tau dulu aturan di jalan raya kan sebelum akhirnya lo nyetir di jalan raya. So there is no excuse for what they did! Ah sedih gw... Dan setelah naik ke kapal gw minta maaf ke mereka karena jadi diver yang nyinyir, tapi mereka harus tau, KORAL NGGAK BOLEH DIPEGANG APALAGI DIINJEK!

Dan setelah-setelahnya berulang kali gw ngeliat pemandangan yang sama sekali nggak sesuai dengan prinsip gw, such as: buang puntung rokok ke laut, plastik aqua gelas jatuh ke laut and they didn't do any effort to pick it up, ambil nudibranch buat ditunjukin ke diver yang lain, angkat batu yang ada nudibranchnya buat ditunjukin ke diver yang lain . Dan ada kejadian dimana gw lagi motoin plastik yang terperangkap di antara coral yang kaya ranting pohon. Ada satu diver yang notice apa yang lagi gw foto, dia berinistiatif mau ambil plastik itu tapi tangannya besar dan pake glove sementara celah untuk ambil plastiknya sempit, dan cara dia ambil sama sekali nggak seperti mau ambil dengan hati-hati, tapi gragas. Gw tahan tangannya sebelum dia matahin koral ranting tadi, gw ambil pelan-pelan trus gw kasih ke dia. Pas di kapal gw puji dia gara-gara udah mau mungut plastik di laut, tapi ternyata dengan polosnya dia bilang plastiknya udah dibuang lagi ke laut.... Laaaaah bung, lo hampir aja ambil itu plastik dengan cara yang merusak, buat apa effort bringas lo kalo akhirnya tu plastik lo buang juga???

Sedih gw jadinya. Yang gw sayang-sayang diperlakukan semena-mena. Dan karena gw udah 3 kali negor orang hari itu, jadi semua pemandangan rese setelahnya gw telen aja pait-pait. Dari situ gw jadi sadar, nggak semua diver itu pecinta laut ya. Ada sebagian diver yang menganggap aktivitas diving itu mungkin adventurous, atau macho gitu..jadi mereka suka dengan aktivitasnya bukan dengan lautnya. Padahal mestinya sama sekali nggak gitu. Yang gw tau kita diving buat menikmati laut, jadi mestinya kita tenang, relax, no adrenaline rush, nikmatin pemandangannya, hormatin isinya. Di bawah laut sana kita ini tamu, harus hormatin tuan rumahnya; segala penghuni laut. Menginjak, nyentuh, colek, ambil, ganggu, apalagi merusak sama sekali nggak boleh! Dan laut pun padahal nggak pernah minta kita jadi tamunya, kita aja yang kandung cinta pengennya berkunjung terus, kita yang butuh sama laut karena itu hargai! Bayangin kalo tau-tau ada tamu masuk rumah kita terus angkat-angkat perabotan kita, ninggalin bekas kerusakan sana-sini, gimana kira-kira perasaan kita?

And you know what? Just few days before gw baca artikel yang bilang divers lah perusak karang yang utama, bukan bomb fishing atau sianida dan pada hari itu gw membuktikan sendiri. So if you call your self a diver, please give more respect to the sea! PLEASE.

Meanwhile, nih oleh-oleh dai Sangiang.... ;)









Monday, April 25, 2011

Who Am I To Judge?

Belakangan ini banyak kejadian yang bikin gue mikir...err, mikir banyak hal. Gue secara subjektif dan pribadi (taelaaaah) setiap denger satu cerita pasti langsung menerima pake reseptor-reseptor pendek yang paling aktif di kepala: namanya reseptor subjektif. Alhasil, komentar gue habis denger berita yang aneh-aneh atau nggak sesuai dengan cara berpikir gue, si reseptor-reseptor subjektif tadi bakalan bunyiin saraf-saraf motorik untuk gerakin otot alis biar naik, otot jidat biar ngernyit, dan yang paling penting otot bibir biar bisa langsung nyerocos nyinyir...

Contoh kasus:
1) Ada ibu single parent beranak satu yang memutuskan pergi kerja ke luar negeri and ningalin anaknya sama orang tuanya. >> reseptor subjektif menerima >> kirim sensor ke motorik otot bibir >> nyinyir otomatis:"tu emak gilak yaaa, kagak sayang anak!!! nggak abis pikir gua, kok ya tegaaaaaaaaaaa....."

2) Ada istri yang kerja nine to five, bahkan mungkin lebih, anak ditinggal di rumah, biarin suami yang jaga, suami kerja di rumah. >> reseptor subjektif menerima >> kirim sensor ke motorik otot leher sama otot lidah >> kepala geleng-geleng, lidah berdecak >> otot bibir nggak ketinggalan terima sensor >> nyinyir otomatis : "nggak abis pikiiiiiiiiir, kok bisa nyuruh suami jaga anak? tsk..tsk..."

Sebaliknya ada lagi contoh kasus dimana gue yang di-"subjektifkan". Ada orang yang nggak suka dan menganggap konyol tentang cara gw melakukan ini-itu di rumah. Kali ini yang nerima bukan reseptor subjektif, melainkan reseptor sok bijak. Respon yang dihasilkan adalah pemikiran: "Urusan apa orang itu ngejudge cara gue ngurus rumah tangga gue sendiri? Segala yang gue lakuin ini kan pake pemikiran yang matang buat kebaikan keluarga gue doooooooooooong......"

Dari sini gue jadi ketampar, lah gue pan sama yaaak kaya dia??! Setelah gue pikir-pikir lagi contoh kasus di atas, ternyata ada reseptor objektif yang garis hantaran listriknya kepanjangan jadi suka kalah cepet sama reseptor subjektif, nyaris tak terdengar....

Contoh kasus:
1)Ada ibu single parent beranak satu yang memutuskan pergi kerja ke luar negeri and ningalin anaknya sama orang tuanya. >> reseptor objektif menerima (jalannya lamaaaaaaaaaaaaa banget) >> nggak kirim sensor ke bibir, mata, alis, leher, kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki >> tapi kirim telegram ke otak: "bok, lo tau ape??? Dia kerja ke luar negerikan demi bisa ngidupin anaknya dan dia sendiri biar nggak minta-minta sama orang tuanya. Dia single fighter loooh, mending lo bisa kaya dia, duit laki lo aja masih sering lo abisin!" -____-

2)Ada istri yang kerja nine to five, bahkan mungkin lebih, anak ditinggal di rumah, biarin suami yang jaga, suami kerja di rumah. >> reseptor objektif menerima, tapi nerimanya macam pake sinyal *** di tengah hutan rimba (ga boleh sebut merek) >> kirim telegram ke otak : "eh nyong, lo tau apeeeee? Mungkin suaminya nanggung kalo mo kerja, karena masih ada kontrak sama kerjaan yang sebelumnya (die kerja di kapal gitu critanye), tapi kalo dua-duanya nganggur ntar mereka makan pake apaaaa... Jadi ya bininya kali yang mengalah demi karir lakinye yang tetap berjaya dan keluarga yang tetep sentosa!" *apa deh!*

Ih gue malu deh sama diri gue sendiri... sok tau, sok iye! Sebenernya contoh kasusnya banyak loooh... ya ampun, banyak juga ya dosa su'uzon gue berarti nih! xp

Makasih yaa, yang udah ngejudge gue, gue jadi ketampar and jadi sedikit sadar kalo orang-orang, err... semua orang (termasuk gue) pasti melakukan sesuatu karena alasan yang terbaik menurut mereka. Siapa deh gue dengan sotoynya mikir kalo pendapat gue yang paling bener? Emang gue bisa liat isi kepala orang-orang??? Cih!

*malu* *ngumpet dibawah selimut* *met bobooook...*

Friday, April 15, 2011

One Of My Big Questions Recently

this is my email to marinebuddies@googlegroups.com since it has ben an obstacle in my mind... Who knows, maybe oneday it can really happen :)

2011/4/15
Diana Saib
‪‬

Hallooooo marbud'

Mo tanya2 soal ikan. Akhir-akhir ini suka jadi kepikiran di kepala, bahkan sampe kebawa mimpi segala... Di mimpi itu saya beli ikan di supermarket yang ditempelin label "eco friendly", maksudnya ikannya ditangkap dengan cara yg ramah lingkungan gitu. Pas di mimpi itu rasanya legaaaaa banget, akhirnya ketemu tempat beli ikan di jakarta tanpa merasa "berdosa". Apa daya, ternyata cuma mimpi... :p

Akhirnya jadi penasaran, apa ada supermarket di jakarta yang nempelin label "eco friendly" macam itu buat produk lautnya? Kalo ada dimana ya? Trus apa ada supermarket yang pajang seafood guide di bagian ikan-ikannya? Kalo belum ada, apa mungkin wwf or marbud meminta supermarket2 buat bikin yg seperti itu?

Karena menurut saya pendekatan ke konsumen saja masih kurang. Contohnya saya sendiri, saya masih kepingin makan hasil laut yang ada di zona kuning, tapi saya bingung, yang saya mau beli itu masih merugikan ekosistem apa tidak? Pastinya kan bisa lebih mudah kalau supermarket bisa diajak untuk membimbing konsumen..

Yang masih memungkinkan untuk diajak kerjasama sih supermarket gitu kali yaaaa, kalo pasar mungkin masih susah ya. Supermarket2 aja udah mau mulai memperbaiki masalah plastik yang undegradable demi lebih ramah lingkungan, masak nggak mau bijak sama jualan hasil laut... Imho.

Saya jadi berkhayal, kalau supermarket mulai hanya meminta hasil laut yg ditangkap dengan cara yg benar, maka nelayan mau nggak mau juga akan mengikuti permintaan. Lama kelamaan mungkin pasar tradisional pun akan terbawa imbasnya....

Sekedar masukan aja. Demi laut yg tetap lestari sampai anak-cucu-cicit...dst. :)

Salam.
Diana Saib

Monday, April 4, 2011

Wiser Life For Greener Living

Sejak jadi orang tua, ada beberapa issues yang suka kepikiran di kepala. Salah satu issue yang suka jadi pembahasan gue dan suami adalah (eng ing eeeeng...) global warming issue.

Kita semua ngerasain banget deh efek global warming sekarang. Kerasa banget bedanya bumi jaman kita dulu masih kecil-kecil tahun 80-90an dibandingkan sekarang. Nggak usah jauh-jauh ngintip es meleleh di antartika sana, di Indonesia, di Jawa, di JABODETABEK udah berasa banget efeknya: panas yang bukan kepalang dikala siang, cuaca yang nggak lagi bisa ditebak; badai & banjir di musim apa aja....
Dan kalo lo suka baca-baca soal laut dan terumbu karang, sekarang ini mulai banyak lho terumbu karang yang mati (bleached coral) gara-gara suhu di laut meningkat. Eh, jangan lupa juga urusan ulat bulu yang jadi teror dimana-mana.... hiiiiisssshhh!

Kadang gue pikir ada andil dosa untuk ngelahirin anak ke bumi di jaman yang iklimnya udah mulai absurd kaya gini. Kasian amat ya anak-anak gue terpaksa berjuang dengan iklim yang nggak bisa ditebak, padahal dia nggak punya andil bikin bumi jadi garang kaya gini. Yang punya andil ya emak-babe dan nenek-moyangnye... Tapi untuk nggak mau punya anak kan juga nggak mungkin, jadi menyimpang dari ajaran agama dong. Jadi gimana dong jalan keluarnya?

Gue percaya bahwa ada Yang Maha Adil. If you do good, you'll get good. Gue sangat pengen anak gue bisa merasakan iklim yang lebih stabil seperti dulu gue rasain waktu masih anak-anak. Gue sangat berharap anak gue bisa merasakan suhu yang nggak sepanas sekarang, apalagi lebih panas dari sekarang. Gue pengen banget anak gue masih bisa nikmatin koral-koral yang warna-warni pada waktunya nanti. Teramat sangat pingin... How?

Since I believe that if I do good I'll get good, jadi gue mau mulai berusaha untuk lebih ramah sama bumi, mudah-mudahan anak-anak gue nanti bisa ngedapatin benefitnya dari itu. Mungkin yang gue kerjain nggak sebanding dengan perusakan yang lebih masif, tapi teruslah yakin sama Yang Maha Adil. ^^

So, what have I done to earth? Not so much... yet. Aheheheheheu... But thanx to earth hour on March 26th kemarin, gue jadi teringatkan kembali untuk mulai hidup yang lebih ramah lingkungan. Sebelumnya gue dan suami udah mulai sedikit-sedikit dari memisahkan sampah kering dan sampah basah. Tapi yang kita kerjain kayanya masih jauh dari benar hehehehe... Yah, maklum lah yaaaa kita masih belajar untuk bisa lebih go green. Tapi setelah browsing dan baca2, kita memutuskan untuk mulai hidup yang lebih bijak sama bumi, dan mudah-mudahan bisa dikerjakan dengan serius. Jadi ini lah yang kita ubah di rumah:

1. Hemat listrik!
Semenjak earth hour kemarin, gue jadi lebih tergerak untuk hemat listrik. Matikan listrik yang nggak perlu. Matikan TV kalo ngak ada yang nonton. Cabut charger kalo nggak dipake. AC nyala saat kamar emang ada orangnya. Biar bagaimana pun, anak cucu gue nantinya butuh listrik tapi gimana mereka bisa dapat listrik cukup kalau gue foya-foyain sekarang?

2. Hemat air!
Matikan keran pas sikat gigi. Hidupkan keran seperlunya pas sabunan. Hidupkan keran seperlunya waktu nyuci-nyuci buah, sayuran , endesbre.... nggak perlu keran yang kenceng banget toh?!

3. Pelit plastik!
Yang ini kita masih sangat-sangat berupaya... (mudah-mudahan berhasil mengurangi sampai titik terminim). Biasanya di rumah gue selalu mengumpulkan sampah basah di dalam tempat sampah yang ada di dalam rumah. Tempat sampah itu ditampung pake plastik. Setiap hari plastik itu dibuang ke tempat sampah besar di luar rumah buat diambil sama tukang sampah. Berarti kami masih menyumbang paling tidak 1 kantong plastik tiap harinya untuk mencemari bumi. Dan dengan menampung sampah pake plastik membuat kami jadi ketergantungan plastik. Ini yang berusaha kami ubah.

Setelah berdiskusi panjang dengan suami akhirnya kami memutuskan untuk: menampung sampah di tempat sampah dalam tetap pake plastik, tapi sampah dituang di tempat sampah besar dan plastik tempat sampah dalam bisa dipake kembali. Plastik yang menampung di tempat sampah besar diplester, dan ditutup tempat sampah tersebut kami tulis "demi mengurangi sampah plastik, mohon ambil sampah hanya jika plastik telah penuh dan diikat." Maksudnya supaya tukang sampah yang mengumpulkan sampah tidak mengambil plastik di tong sampah luar tersebut setiap hari. Mudah-mudah ketergantungan akan plastikk pun bisa berkurang.


Satu lagi yang bikin dosa plastik membumbung adalah pada saat belanja ke pasar. Kalau belanja ke pasar buat beli ikan, ayam, yang basah-basah gitu penjualnya suka kasih plastik dobel. Plastik bekas ikan dan ayam pasti bau amis dan ngundang semut, alhasil nggak bisa disimpan untuk dipake lagi jadi deh langsung masuk tong sampah. Ini yang suka bikin gue merasa bersalah... :( Tapi akhirnya, demi masa depan anak cucu *tsaaaah* gue mau berkomitmen untuk bawa kotak-kotak plastik (kaya kotak bekas eskrim gitu lhooo) kalo ke pasar buat naro ikan atau ayam atau apa pun yang basah2. Kita bisa minta penjualnya untuk bersihin ikan dan ayamnya, masukin kotak, pas sampe rumah langsung susun di freezer, malah lebih ringkes yaaaaak?!!!!

Plus, gue juga pesen tas bagoes dari @greenerationid buat mengurangi pemakaian plasik. Jadi kalo belanja bisa ditampung pake reusable bag bagoes itu deh, tapi karena baru beli 2 doang jadi kalo belanjanya banyak yaaaa, kudu bawa bekal plastik dari rumah kali yaaaak...

>>tas bagoes



4. Lebih wise sama sampah!
Selain pesen tas bagoes dari @greenerationid, gw juga pesen keranjang takakura. Asal muasalnya gara-gara dapet brosur dari @greenerationid waktu main-main ke deep and extreme Indonesia expo. Dari situ gw dapet info soal keranjang takakura. Keranjang yang bisa mengolah sampah organik jadi pupuk kompos. Lumayan kan, kita jadi mengurangi sampah rumah tangga...

>>keranjang takakura


Jadi deh sekarang di rumah gue ada 3 tempat sampah besar: sampah recyclable, unrecyclable, dan sampah organik yang bisa dikomposin. Nggak cukup sampe disitu siiih.... Masalahnya walau pun kita udah misahin sampah recyclable and unrecyclable, tapi di TPA ternyata sampah yang diambil sama truk-truk sampah itu akhirnya berakhir di tempas yang sama. Jadi percuma dooong kita udah capek-capek misahin dari rumah....

Since we are planning to be wise, yaaa berarti kita pun harus pinter buang sampah. Sampah yang recyclable dikumpulin trus diantar sekali dua minggu ke penampung sampah plastik/kertas. Ada lhoooo yang mau nampung! Kenyataannya sampah yang recyclable ini emang lama kekumpulnya kalo di rumah gue. Dan supaya sampah ini nggak jadi panggilan menarik buat tikus atau binatang apa kek gitu, pastiin plastik-plastik yang masuk kesitu udah dicuci, paling nggak dibilas lah biar nggak bau atau nggak ada lagi sisa-sisa makanan yang menggoda.

Gitu deh usaha gue and suami demi mendambakan bumi yang lebih ramah buat anak cucu... *sedaaap* :p But anyway, we should always remember what Ghibran has said; "we dont heritage the world to our children but we are borrowing the world from them". Yang terakhir, semuaaaaaaa yang kita kerjain di dunia ini harus ada pertanggung-jawabannya karena semuaaaaaa pasti terkait hukum sebab-akibat, so we really need to be wise :)

*toss ijo-ijo*

Monday, March 7, 2011

Nyiyir Nggak Selalu Salah

Sekitar dua minggu yang lalu blackberry saya bermasalah karena tidak mendapatkan sinyal. Sinyal yang di dapat di sekitaran komplek rumah hanya GSM, jadi BB saya resmi hanya bisa untuk sms dan telpon. Apa gunanya smartphone kalau hanya bisa dipakai sms dan telpon saja? Setelah bolak-balik menghubungi call center selama 5 hari tapi tanpa hasil (kecuali pada akhirnya mereka menelpon dan berpikir kalau BB saya yang kena virus, blah!) dan BB saya tidak berfungsi selama 6 hari, akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk pindah provider lain. Maka langganan blackberry dengan provider yang lama pun dihentikan dengan cara menelepon ke 116 dan juga memutuskan layanan via *363#.

Tapiiiiiii.... tiba-tiba dua hari yang lalu saya menerima sms bahwa pulsa saya terpotong 99ribu untuk meneruskan langganan blackberry dengan provider yang lama. Saat itu saya rasanya benar-benar muntab. Saya langsung menghubungi call center provider tersebut tapi mereka hanya meminta saya untuk sabar dan tidak bisa melakukan apa-apa selain membantu membuatkan laporan. Dan apakah pulsa saya akan kembali? Tentu tidak bisa. Luar biasa bukan kepalang.

Karena kesal maka saya berniat menuliskan kekecewaan saya yang bertubi-tubi tersebut di koran. Tapi sayang dari hasil googling saya dapatkan bahwa sudah banyak yang komplen tentang provider tersebut via media tapi mereka acuh saja. Saya pun mencurahkan kekesalan saya melalui twitter dan facebook. Saya berharap pihak provider tersebut mau memperbaiki layanannya dari koar-koar saya di social media yang tentunya nyaris tak terdengar. Sedikit usaha lebih baik dari pada tidak.

Nah.... inti post kali ini bukan tentang provider mengecewakan tadi. Tapi nanti....

Setelah saya menuliskan keluh kesah saya di twitter atau pun facebook, salah satu orang terdekat saya mengingatkan bahwa hal yang saya kerjakan itu tidak baik untuk saya sendiri. Beliau mengacu pada kasus Prita, pikir beliau, jangan sampai kekecewaan yang saya tumpahkan melalui media akan merugikan saya sendiri dan keluarga.

Setelah diberi nasehat yang demikian saya jadi sedih. Sedih luar biasa dengan keadaan sekarang. Skip dulu bagian ini, saya akan cerita tentang hari ini...

Hari ini seorang teman, pengacara (ProBono) yang sedang membela clientnya yang tidak mampu, mengeluh di twitter tentang hakim yang mengadili kasusnya. Hakim minta disuap, menurut ceritanya beliau minta "tanda terimakasih" agar keputusan bisa cepat keluar. Tapi untungnya teman saya tidak mau mebayar. Bagaimana nasib clientnya nanti? Saya nggak tau, tapi yang jelas ya begitu lah pengadilan.

Kita semua tau, bahwa semua kasus yang sampai ke pengadilan bisa dibeli. Siapa yang kaya dan tangguh tidak perlu takut dengan apa pun. Siapa yang kecil dan jelata, jangan berani melawan. Orang dekat saya yang menasihati saya untuk menjaga-jaga omongan melalui media, mengingatkan betapa kita sebenarnya tidak berdaya dengan hukum sekarang oleh karena itu jangan berani main api. Sedih!

Kalau demikian berhasil sudah pengadilan membuat bungkam mulut jelata. Kasus Prita bukannya membuat rakyat/konsumen/orang kecil semakin berani lantang, justru semakin ciut. Gilas saja kami, kami tidak berani melawan karena kami tidak bisa meyuap pengadilan. Sedih! Sedih karena saya berada di negara yang tidak bisa menjamin keadilan bagi saya (rakyat). Sedih karena saya pun membesarkan anak di negara yang tidak bisa menjamin keadilan bagi dia juga, karena kami jelata. Sedih karena saya tidak boleh sembarangan menuntut keadilan kepada oknum yang besar.

Yang paling baik yang bisa saya lakukan adalah menjaga diri dan keluarga saya dari mempunyai masalah dengan orang-orang atau oknum besar. Tapi apakah nasihat kerabat itu akan membuat saya lebih diam? No! Yang salah harus diteriakkan, tapi tentunya dengan cara yang paling bijak. Cerita provider itu adalah cerita remeh-temeh. Inti dari posting ini adalah, supaya kegilaan hukum sekarang tidak membuat kita semakin tunduk karena takut. Kalau tidak bisa melakukan apa-apa untuk melakukan perubahan, nyinyir adalah salah satu jalan yang sbisa kita kerjakan, tentunya selain doa.

Tuesday, March 3, 2009

underestimate is part of bullying and human rights abuse

No one likes being underestimated. Underestimate is like labeling or accusing prototype to something. It's like giving a bad thought without based on fact. At the time you underestimate someone or something, you just destroy an optimism and kill someone's hopes and dreams. As dream is a door to better future, so killing a dream means you're also killing a future!

So do not underestimate the underestimating! It's a part of bullying and human rights abuse!

Friday, December 5, 2008

beuh!



si bundeng, bos utamanya sumber-chaos-tanpa-dosa-bermuka-mirip-tapi-tak-sama itu akhirnya bikin blog jugeeeeee...... prukutuy!

Thursday, August 21, 2008

true story

Something nice to read from Pak Nug... Enjoy!

Kisah di musim dingin
(true story , dimuat dalam Xia Wen Pao, 2007):

Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun,
Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan
menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan
membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil
lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat
keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei
menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru.

Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak
terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah.. Marahlah Siu Lan.Putrinya
benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain
dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk
menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya
untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.

Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari
luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran,
pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu
tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan
sudah tidak bernyawa. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis
meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan
membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan
nama Lie Mei.. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.
Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus
kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada
kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap
terbaca *,"Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku
membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli
biskuit ukuran besar. Hi.hi.hi.. mama selamat ulang
tahun."*

-------------------

**Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi
kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.

Take time to THINK. It is the source of power
Take time to READ. It is the foundation of wisdom
Take time to be QUIET. It is the opportunity to seek God
Take time to DREAM. It is what the future is made of
Take time to PRAY. It is the greatest power on earth....... .

Friday, August 15, 2008

define happy


Happy is…
when you really can’t stop smiling and people start to think you’re crazy
when you hear music on your ears while you’re standing next to a construction project
when you see so many colors on cloudy sky
when someone tell you sad story but still you smile
when you actually have nothing but oh well… you feel rich and complete
when someone unintentionally step on your foot with high heel but you feel anesthetized
when you think that crowd hectic traffic an extravagant parade …and an ugly old bus looks like a smiling elephant
when you feel like dancing and you’re even thinking to do split like ballerina does
when it’s actually raining and discomforting afternoon but u can’t disagree that it’s a perfect day
when your boss keeps bombing you with anger and more tasks but all you hear is Sebastian Bach playing from his mouth and those papers are comedy DVDs to watch
when everything seems so perfect
when there is no mistake and if there is, well it’s a beautiful mistake
when u see stain, scratch, debris as a wonderful art
when I’m typing this post
and (hopefully) when you’re reading this…

Tuesday, June 24, 2008

everything happened by reason(s)

I met an old friend today, used to be one of my close friends years ago. She knew me when I had difficult character. And today we talk about that, the reason why I had such character, which she thinks it’s almost similar to her husband.

Though I’m not a shrink, but I have realized that in psychology is all about cause and consequence theory. We don’t get our character genetically, we gain it while we grow. How a person can be so lame or so hard, easy or difficult; it all happened by reason(s). And the main influence is from home, family at the first place, then friends or social life. Realizing or not, we must have affected our closest relative’s personality whom we meet everyday. And so do them to us. But the main affecting time is when we are still a kid until we are considered psychologically adult.

Since my job is being a doctor, all I know is that we only able to cure thing if we can find out what has caused it. And I also put that theory in psychology. There are causes why I’m being my self. My surrounding has built my character, and I allow it to be, so that’s how I become me. And do I satisfy with my own character? NO! So many reasons that make me hate my self. But no body is perfect in psychology; everyone has his/her own issues. And I have figured out what has caused mine, but still I can’t cure it. Coz again, I’m not a shrink. And even a shrink must have psychology issue!

But one thing for sure, I might not be able to cure my bad characters, but since I know what has made it I hope I wont heritage it to my offspring one day. Still need to learn a lot. And I think that’s what life is for, learn and work hard to be a better person….. or better offspring!

Tuesday, May 27, 2008

Pengamen cilik


Kaki kecil telanjang itu melangkah masuk tiba-tiba ke dalam mikrolet yang berisikan tujuh orang di bagian belakang. Langkahnya terseok-seok menyeimbangi goyangan mobil, badan mungilnya berkali-kali terlempar ke bangku dan lutut-lutut penumpang. Tangan-tangan iba sekaligus gemas menggapai menahan badannya yang kurus, menahannya agar tidak jatuh. Bocah mungil itu dengan acuh terus berjalan hingga ke belakang mikrolet sambil membagi-bagikan amplop kepada setiap penumpang di belakang.

Seluruh mata yang memandangnya langsung mengirimkan sensor ke otak untuk mengeluarkan sejumlah uang pada anak kecil tersebut. Tiga perempuan dewasa menyodorkan uang kepada si bocah, sebelum dia membagikan amplop kepada mereka. "Bental!" tolak bocah perempuan itu, sekali lagi badan kecilnya terlempar ke bangku. Bibir-bibir tersungging melihat betapa lucunya anak ini, begitu kecil, mungkin hanya dua tahun umurnya. Sebagian kembali merogoh lembaran ribuan dan menyodorkan kembali pada si
bocah. "Bental! Bental!" kembali dia menolak, tangannya memegang kuat pada bagian mikrolet yang menopang kaca belakang, matanya menatap polos pada lampu-lampu malam jalanan.

"Ambil ni Dek, saya mau turun nih!" seru seorang perempuan yang duduk di dekat pintu. Tangan mungil itu menyambut lembaran biru yang kucel yang disodorkan untuknya. Ketiga perempuan dewasa yang sebelumnya menyodorkan uang kepada bocah kecil itu kembali memintanya untuk mengambil sedekah mereka.

"Bental...bental..." Bocah kecil itu tetap saja acuh, dan melihat keluar kaca belakang.

"Siapa namanya?" tanya salah seorang dari mereka.
"Ani."
"Ani, ambil ini. Ini dari tante."
"Bentaaal."
"Lho, kalo tante mau turun gimana? Ayo ambil."

Seketika kakaknya yang telah jauh lebih besar yang sedari tadi menyanyi di pintu mikrolet, memberi kode kepada si bocah untuk mulai memunguti lembaran-lembaran dari tangan-tangan penumpang karena mereka sudah harus turun. Bocah kecil itu pun langsung melakukan ritualnya, mengumpulkan amplop-amplop dan kembali berjalan gontai demi menjaga keseimbangan untuk keluar dari mikrolet.

Mata-mata terus memandanginya, dan sejumlah tangan memeganginya ketika ia hampir jatuh. Tapi mata lemah ini, justru memalingkan wajah menahan air yang sudah menggenangi kelopak menunggu untuk jatuh. Adik kecil... berapa umurmu? Sementara darah dagingku mampu hidup enak, bagaimana hidupmu? Kalau kuperbanyak sedekahku untukmu, serigala-serigala lapar di belakangmu akan semakin senang mempekerjakanmu. Tapi kalau tidak kuberi... apa kamu akan makan malam ini?

Air dari kelopak mata tidak mampu lagi tertampung. Seseorang akan diminta hisab atas penderitaan anak-anak itu!

Adik kecil... semoga kamu mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik di akhirat nanti.

Monday, May 19, 2008

changes...changes...changes... part two!



As I spoke about changes yesterday. A big change has happened on my closest friend, Deedee; she decides to wear hijab! If you know Deedee you wont ever believe that she would have a thought to wear hijab. She's so metropolis minded; workaholic, great spender for clothing and stuff, dress and look is very important, a lil hedonistic wont be a mater on her. No mater how, I respect her for every principal she hold.

The last few days she has been hunting me by a (disguise) reason to consulting her dental health, but then I finally found out that it's not about her dental health at all. She was in doubt to wear hijab. Deedee just got an awakening! She's been on her own battle to be a better Moslem's for some days ha ha ha... (and why the hell I laugh???) And now she's officially wearing hijab!

I salute Dee for her great step, this is a big revolution of her life. I know Dee so well. When she decides to enter something, she wont enter it only part by part but she will enter the whole part into it. We've got to salute her for that!!!

Congrates Deedee, and welcome to hijab, barakallahu lakum! love u before and more after now... huhuhuhuhuhuhu!!!!

As dee has made her big revolution on her life, whet have we done on ours?? *wink!*