Showing posts with label Gili Trawangan. Show all posts
Showing posts with label Gili Trawangan. Show all posts

Monday, April 8, 2013

Freediving Gili

pic from here




Seperti yang gue bilang di postingan sebelumnya, akhirnya gue dan Billy membulatkan tekad untuk ambil freedive course. Pada saat daftar, none of us has any idea what the course might be. Yang gue tau, entah gimana caranya pokoknya gue akan diajarin untuk bisa nahan nafas lebih lama dan main di dalam air tanpa tabung oksigen. Pada saat kita berdua datang ke kantornya Freedive Gili kita ketemu sama guru yoga yang namanya Tina, a  British lady. Selain buka kelas untuk freedive, Freedive Gili juga buka kelas untuk yoga dan Tina ini megang kelas yoga sepertinya. Menurut Tina masih belum jelas siapa yang akan ngajar gue dan Billy, could be Jackie or Mike, and Mike is the owner. Gue nggak peduli siapa yang ngajar, tapi yang jelas gue harap yang ngajar cukup sabar sama gue hehehehe... Yang gue rasain waktu itu antara anxious dan takut gue bakalan malu-maluin. Selagi masih di Balikpapan gue sempet coba ngitung berapa lama gue bisa tahan napas di dalam air dan waktunya nggak sampe satu menit. Hehehehhe... Tapi Tina cukup ramah meyakinkan bahwa kursusnya akan menyenangkan dan either Jackie or Mike is patience enough to handle us. Orang Inggris emang cenderung sopan yaaak. Dan hari itu kita dipinjamin buku Freedive course keluaran SSI untuk dipelajari. Nah, pertama kalinya ini gue belajar sama SSI instead of PADI hehehe... lagian gue nggak nemu kursus freedive-nya PADI. :p

Photos of Freedive Gili and Gili Yoga, Gili Trawangan
This photo of Freedive Gili and Gili Yoga is courtesy of TripAdvisor

Besok paginya kita datang ke kantor Freedive Gili jam sembilan pagi. Ternyata Jackie yang akan ngajar kita, cewe bule tinggi macam model dari US. Bicara soal fisik, pada saat kita keluar dari kantor Freedive Gili sehari sebelumnya dan ngobrol sama Tina, rombongan orang-orang yang baru selesai freediving baru aja turun dari kapal. Dan semua badannya kurus-kurus tinggi-tinggi macam peragawan peragawati.... Gue dan Billy langsung saling pandang dan ngelirik perut masing-masing. Ngek ngooook... :p

Balik lagi ke hari pertama kursus... Ternyata yang ambil kursus level 1 saat itu nggak cuma gue dan Billy, tapi ada satu orang lagi dari Jerman yang namanya Oliver. Thank goodness,Oliver nggak berperawakan macam peragawan hehehehe... kita nggak sendirian! Begitu datang kita langsung disuruh isi form, ritual biasa lah setiap ambil kursus. Kemudian kita pindah ke ruang yoga. Freedive Gili punya aula untuk yoga yang cukup luas, enak banget tempatnya. Jackie langsung nyuruh kita ambil satu mat dan satu balok dan ambil posisi di aula. Mau yoga nih kita... pikir gue. Tapi gue udah cukup sadar bahwa freedive nggak bisa lepas dari yoga, dari yoga kita belajar relaksasi otot-otot pernafasan supaya bisa ambil nafas maksimal. Billy dan Oliver belum pernah yoga sebelumnya, speaking of which, gue udah pernah ngajak Billy yoga dulu tapi doi sama sekali nggak tertarik. Naaaaah... jadi ngerasain deh dia sekarang. :)

Sebelum exercise dimulai, Jackie membuat perkenalan singkat dan minta kita masing-masing kasih tau alasan kita ambil kursus freedive. Menurut cerita dia, dia mulai scuba sejak 2006 dan nyoba freedive sejak satu tahun yang lalu dan nggak pernah berminat mau scuba lagi sejak itu. Oh waaaaw, tapi dalam diri gue belum apa-apa udah timbul pertentangan "ney! I will definitely not stop doing scuba!" Hahahahaha... Dan gue bilang lah alasan gue nyoba freedive karena gue penasaran, pengen juga rasanya bisa meliuk-liuk bebas macam ikan untuk berenang sama ikan, dan gue pikir skill yang akan gue dapat di freedive ini bisa menunjang skill scuba gue. Sementara Billy bilang alasannya ambil freedive karena diajak istri hahahahaha... dan juga penasaran sama freediving of course. Sementara alasan Oliver lebih kurang sama lah sama alasan yang lain.

Exercise yang pertama adalah pengenalan teknik nafas, ini jadi ingetin gue praktikum faal di kuliah dulu. Jackie kenalin kita tentang pernafasan paru-paru, diafragma, dan combining paru-paru dan diafragma. Kemudian kita diajarin teknik pernafasan sebelum ambil napas terakhir utuk kemudian ditahan selama mungkin. Amazingly, gue berhasil nahan nafas selama satu menit, padahal dulu kalo gue coba maksimal cuma 40an detik. Tapi urusan nafas kayanya gue murid tercupu, karena Billy dan Oliver bisa nahan napas sampai nyaris dua menit. Belum apa-apa gue udah malu-maluin, padahal mereka berdua nggak pernah yoga sebelumnya :p

Setelah selesai latihan di yoga hall, Jackie langsung ajak kita ke swimming pool. Freedive Gili punya swimming pool sepanjang 20 meter, yang emang dirancang untuk latihan freedive. Sebelum ke pool, kita diajak pilih alat dulu. Karena gue dan Billy udah punya wetsuit, mask dan fins sendiri jadi tinggal Oliver yang pilih alat. Tapi tunggu dulu.... ternyata mask untuk freedive ini berbeda dengan yang dipake di scuba. Mask freedive ini punya rongga udara yang lebih sempit dan bagian karet yang lebih lebar dan lentur, supaya nggak terlalu squeezing saat nyelam. Kalau aja gue tau soal mask freedive sebelum beli mask sendiri dulu, gue bakalan beli mask freedive sekalian deh, nyaman banget! Jadi akhirnya kita pinjam mask dari mereka.

Tanpa basa-basi Jackie langsung nyuruh kia menyelam sejauh 10 meter horisontal tanpa nafas, tentunya dengan teknik persiapan nafas yang udah diajarin sebelumnya. Tanpa saling ngomong, tapi gue dan Billy udah bisa baca pikiran masing-masing: "e sumpeeee looooo, yang boneng!!??? 10 meter nggak nafas?". Tapi karena cukup nervous, we prefer not to talk. Dan ternyata kita semua bisa, walaupun rasanya macam mau mati! Sumpah deh.... Saat itu di kepala gue mulai maki-maki diri gue sendiri, "begooo, ngapain ikut kursus beginian? ngapain nahan-nahan nafas??? Oksigen kan enaaaak, nafas itu enak, ngapain lo tahan-tahan??? Moroooon!"

Berkali-kali juga Jackie meyakinkan kita bahwa the urge to breathe atau keinginan kita untuk membuang karbondioksida yang diproduksi tubuh cepat-cepat itu nggak perlu digubris, and the mind that telling us that we NEED TO BREATHE is just A LIE! Jackie bilang, kita bisa nahan nafas lebih lama, dan nggak akan terjadi apa-apa kok kalau kita nggak menggubris pikiran kebutuhan nafas yang ada di kepala kita. Sistim alert akan kebutuhan nafas yang dibuat oleh otak itu masih menyediakan marjin yang cukup jauh sampai ke titik krisis dimana tubuh benar-benar butuh nafas beneran. Haaa! Tapi, almost everytime Jackie said that my mind tells me lie, otak gue nggak kalah kenceng protesnya "NO!!! She's the one who lie!!! You need to breathe, your body needs it, your brain needs it!!!! Breaaaaattthhhe!!!! You need to breathe at THIS SECOND!". Di lain kesempatan otak gue macam protes hopeless... "Nafas kan enak.... ngapa dah ditahan-tahan. Nafas dooong....". Ada pula suara di kepala yang lebih pathetic: "Mamaaaaaaaahhhh......!" Yah, demikian lah kiranya.

Segala ketidaknyamanan dan protes batin yang berisik di kepala gue tentunya nggak pernah gue keluarin di depan Jackie. Theoretically, Jackie emang benar. Ya iya laaaah... masa dia mau bohong. Walau pun sampai detik ini gue tetap berpikir bahwa peringatan kebutuhan nafas yang dibuat di otak itu udah tercipta dari sananya, it's nature and nature NEVER lie. Tapi periode timbulnya the urge to breathe itu bisa dilatih dan dimanipulasi untuk digeser lebih lama,dan itu yang coba dilatih di kursus freedive. Dari kursus ini juga gue mengenal istilah "mamalian dive reflex" yaitu reflek mamalia untuk menurunkan denyut jantung atau bradikardi saat muka terkena air atau suhu dingin. Dengan denyut jantung yang melambat, pembakaran oksigen juga berkurang, sehingga produksi karbondioksida juga berkurang, dan akibatnya mamalia bisa menahan nafas lebih lama di dalam air.

Ada banyak teori yang cukup menarik sebenarnya. Sayang waktu itu gue terlalu malas buat bikin catatan dan mereka hanya meminjamkan buku (dengan jaminan deposit) untuk dibaca selama kursus. Beda dengan kursus scuba dengan PADI, kita selalu dapat bukunya. Gue nggak tau apakah SSI emang nggak memberikan buku ke murid atau Freedive Gili doang yang nggak ngasih buku ke murid. Semua gerakan dan penggunaan otot jadi perhitungan di freedive. Karena semakin banyak otot yang digunakan, semakin banyak oksigen yang perlu dibakar, semakin pendek kemampuan kita untuk menahan nafas. Bahkan kalau gue nggak salah ingat, the urge to breathe it self sebenarnya memberikan keuntungan untuk diver, tapi gue lupa bener gimana fisiologisnya. Secara teori sebenarnya freedive ini menarik, secara praktek juga, tapiiiiiii..... kalau yang freedive orang lain dan kita nonton doang! Hahahahaha....

Setelah mempraktekan freedive hosrisontal di swimming pool, akhirnya kita siap-siap naik kapal ke laut. Dan ternyata yang akan freedive siang itu nggak cuma rombongan Jackie doang, ada juga tiga murid lain dengan satu guru yang lagi ambil kursus level 2 (kedalaman sampai 20 meter). Ntah karena gue kurang minum dan sarapan gue yang nggak sehat, atau pikiran paranoid gue yang mulai berkuasa, atau mungkin keduanya, siang itu gue benar-benar merasa nggak nyaman. Tanpa bermaksud sombong, tapi biasanya gue bukan yang bermental gampang ciut untuk urusan begini-begini. Gue bahkan pernah lompat dari jembatan ketinggian belasan meter ke sungai dan gue nggak separanoid saat gue mau freedive di laut. Seperti gue bilang tadi, entah karena sarapan gue (pagi itu gue sarapan jaffle isi telor keju, buah, dan kue aniversary lumayan banyak... kue anniversary ini kan menteganya banyak yaaaak!), atau kurang minum atau ketakutan gue yang bikin perut gue mual. Bodohnya lagi, gue nggak bawa minum di kapal, dan mereka juga nggak menyediakan minum.

Saat itu lautnya bisa dibilang tenang, dan kapal juga melaju tanpa terombang-ambing. Dalam keadaan normal gue biasanya nggak akan mual dengan kondisi seperti itu. Tapi Billy bahkan bisa lihat kalau gue nervous hahahaha... Begitu kita nyemplung ke laut, perasaan gue mulai membaik, and my mind goes "okay, ini laut,  I'm with my mom now, everything is gonna be fine!".

Ternyata yang kita kerjakan di laut adalah berpegangan pada buoy yang diikatkan dengan tali yang dipasang pemberat sejauh belasan meter ke dalam laut. Lalu kita semua mempraktekkan relaxation breathe di permukaan. Namanya juga realxation breathing, jadinya harus relax, jadi yaaaa lama gitu deh! Dan ternyata berlama-lama di permukaan laut sama sekali nggak bikin gue tambah baik, I get even worse. Walaupun laut cukup tenang tapi bukan laut namanya kalau nggak ada ombak meskipun kecil. Dan tergoyang-goyang di permukaan laut bikin gue tambah mual. Akhirnya gue bilang ke Jackie kalau gue mungkin kena seasick, dan Jackie bilang itu cuma ada di pikiran gue yang paranoid karena lautnya lagi tenang dan nggak mungkin gue kena seasick. Haaa!

Jackie mulai mencontohkan skill tahap demi tahap, dan minta kita untuk meniru setiap tahapnya secara bergantian. Dan dasar apes, gue pun dapat giliran paling terakhir selalu karena giliran dibuat sesuai dengan arah putaran jam yang dimulai dari Oliver. Oiver ternyata cukup tangkas, dia kelihatan cukup menikmati kemampuan freedivenya. Billy punya masalah dengan equalizing telinganya. Beda dengan scuba, penurunan ketinggian yang lebih cepat dan posisi badan yang terbalik secara vertikal membuat equalizing lebih sulit tapi jauh lebih penting di freedive.

Oh ya, harus gue gambarkan dulu, cara kita menyelam adalah memutar balik badan kita sehingga kepala kita berada di bawah dan kaki di atas, posisi kepala harus tegak lurus seperti kalau kita lagi berdiri tegak dan pandangan lurus ke depan, mata harus selalu melihat ke tali yang menjadi guide line. Menahan kepala untuk selalu lurus ini susah-susah gampang, karena secara insting saat kita menyelam kepala pengennya ambil posisi mendangak dan mata pengen lihat apa yang ada di bawah, tapi ini nggak bener. Dengan memiringkan kepala ke belakang, kita membuat pembakaran oksigen ekstra untuk otot di leher dan pundak belakang, dan terkadang menimbulkan paranoid bagi penyelam pemula karena melihat dasar laut, selain itu juga membuat arah selamnya nggak lurus ke bawah tapi mengikuti arah kepala. Urusan paranoid karena melihat dasar laut itu nggak berlaku buat gue. Buat gue yang berlaku kebalikan! Harus selalu melihat ke tali bikin gue nggak tau apa yang ada di bawah, atau seberapa jauh lagi gue sampe jarak target, dan keadaan nggak tahu justru bikin gue parno!

Manila Freediving Course
pic from here

Kembali ke urusan equalizing... Billy nggak bisa serta merta turun ke bawah sambil equalize dengan kepala di bawah. Mungkin karena bentuk anatomi saluran telinganya, equalize dengan posisi kepala terbalik jadi nggak bisa dicapai. Akhirnya Billy terpaksa memutar balik badannya untuk equalize, trus kembali lagi mutar kepalanya ke bawah untuk turun, dan berkali-kali seperti itu sampai mencapai target. Itu sangat nggak menguntungkan, karena semakin banyak energi yang kepake semakin singkat menuju urge to breathe. Kasian Billy...

Kebalikan dari Billy, anatomi telinga gue alhamdulillah menguntungkan gue. Susah untuk diterangkan, tapi gue bisa equalize telinga tanpa perlu mencet hidung. Nah yang belum ngerti apa itu dan gimana teknik equalize perlu gue terangin dulu. Kalau kita menyelam di air, tekanan udara cepat sekali berkurang, akibatnya udara yang ada di saluran telinga menciut dan membuat gendang telinga tertarik ke dalam, itu yang namanya squeeze. Untuk memperbaiki squeeze kita perlu equalize yang biasanya dilakukan dengan cara menutup hidung dengan jari sambil menghembusakan nafas kehidung dengan mulut tertutup, jadi kita mentransfer sedikit udara dari diafragma ke saluran telinga untuk mendorong kembali gendang telinga yang ketarik tadi. Tapi alhamdulillah ntah karena anatomi telinga gue atau kemampuan fisiologis otot-otot di sekitar rahang yang bisa bikin gue equalize tanpa menutup hidung. Awalnya Jackie berkali-kali mengingatkan gue untuk equalize dengan menutup hidung, tapi dengan segala pikiran parno dan perasaan mual, equalizing dengan tangan itu macam nambah beban. Walau pun awalnya gue juga tetap harus equalize dengan jari, tapi setelah dua tiga kali dive akhirnya telinga gue mengadaptasi dirinya sendiri, jadi konsentrasi gue nggak perlu nambah terpecah dengan equalizing pake tangan.

Selama sekitar dua jam lebih kita ada di permukaan laut, nggak semenit pun gue nikmatin! Freedive ini dikerjain di laut yang dalam. Dengan visibility yang rasanya nggak lebih sepuluh meter, jadi nggak ada apa-apa yang bisa dilihat kecuali ubur-ubur kecil atau binatang sejenis cacing yang transparan, yang kalau lagi scuba hampir nggak akan gue perhatiin. Tapi disaat pikiran lagi konstentrasi untuk melawan mual dan rasa takut, fokus ke binatang-binatang yang sebelumnya nggak berarti jadi penting banget rasanya.

Di akhir-akhir skill, gue akhirnya minta sama Jackie untuk dapat urutan pertama. Gue udah mulai nggak tahan pengen muntah. Terserah mau dibilang cupu, culun, parno, apa kek.... yang jelas gue beneran eneg dan gue pengen cepat selesai. Jackie sempet nawarin gue untuk istirahat ke kapal, bah... terombang-ambing di kapal juga nggak akan bikin gue lebih baik, yakin dah. Gue cuma pengen cepet selesai. Dan akhirnya Jackie ngasih kesempatan gue untuk jadi yang pertama di skill yang terakhir. Selesai deh latihan hari itu!

Setelah kursus gue sempet mikir mau mundur aja rasanya. Lebih enak kalau besok gue scuba sama Billy, lebih nyaman, nggak berasa mau mati, dive log nambahh pula. Tapi Billy mau nggak ya? Lagian kan kasian juga udah bayar. Berkali-kali gue nanya ke diri sendiri and ke Billy, apa sih yang dinikmatin orang dari freedive??? Gue kok nggak suka yaaak?? Billy sendiri nggak juga menikmati karena dia nggak bisa equalizing.

Menurut pandangan gue dan Billy , walau pun freedive nggak terpisahkan dari yoga yang harus dikerjakan dengan tenang, tapi itu olahraga yang jelas jauh lebih menantang dibanding scuba (malahan scuba sih nggak ada tantangannya sebenernya, selama dikerjakan dengan benar). Kita benar-benar dipaksa keluar dari comfort zone. Ada pula pertandingan freedive, untuk adu kedalaman atau adu lamanya kemampuan nahan nafas, yang dari sudut pandang gue terasa hampir sama konyolnya dengan mendaki puncak everest. Hehehehhe... What's the point? Yang gue cari adalah bisa tenang menikmati laut, relax, santai, tanpa beban, bukan sesak dan mual di dalam laut. :p

Tapi akhirnya diputuskan untuk terus lanjut selesain kursus. Kalau gue mundur sebelum selesai, gue khawatir bakalan nyesal sampai gue punya kesempatan bisa nyoba freedive lagi. Lagian, mungkin rasa mual kemarin memang karena pengaruh sarapan yang terlalu berat dan bukan semata-mata karena paranoid. Lagian rasanya gue nggak separanoid itu.

Jadi di hari kedua gue cuma sarapan buah yang banyak. Jackie nyuruh kita untuk sarapan yang cukup, karena kita akan beraktifias berat. Teh dan kopi dilarang, karena akan mempengaruhi kerja jantung, jantung yang tenang sangat dibutuhkan untuk freedive. Nah, ini lagi yang gue suka dari freedive.... mereka sangat memperhatikan pola makan dan gaya hidup, jadi nggak heran lah ya kalau badannya pada macam pragawan-pragawati semua gitu. Sekali Oliver pernah nyeletuk "Why do I don't hear a lot about freedive as much as I hear about scuba, like in a party or something...". Dan dijawab sama Jackie dengan "because we're not party people! We don't party! We eat healthy food, and drink healty drink. You will not hear about freediving in a party." Bah... selama ini gue pikir para surfer lah yang doyan party, scuba diver mestinya juga nggak minum alkohol kalau mereka mau nyelam, tapi ternyata menurut freediver, scuba diver masih tergolong party people. :p

Ternyata sarapan yang sehat bikin gue jauh lebih baik hari itu. Karena gue merasa jauh lebih baik, gue mulai menikmati apa yang gue kerjain. Hari itu Jackie pasang pemberat lebih jauh dari hari sebelumnya, tapi dia nggak mau ngasih tau berapa jarak talinya sampe diakhir diving. Dan meskipun tetap ada tali, kali ini kita nggak lagi boleh pegangan tali untuk turun ke bawah. Makin kasian deh Billy, tanpa tali dia terpaksa mutar balik badannya dengar effort lebih besar untuk equalize. Yang paling keren masih Oliver, walau pun menurut dia hari itu dia nggak setenang kemarin, tapi dia berhasil sampe ke bagian tali paling bawah. Sementara gue masih nggak bisa menaklukkan my urge to breath :p. Pernah pula kejadian bodoh, pas gue merasa lebih punya persediaan oksigen untuk terus ke bawah, Jackie yang selalu nemanin kita turun ngasih tanda untuk mastiin apa kuping gue baik-baik aja dan gue jawab dengan ok, dan dilanjut dengan sign kebawah dari Jackie dengan jempol yang di arahkan searah kepala tentunya karena posisi kita yang terbalik. Bleheknya gue, otak gue nerima bahwa jempol yang diangkat searah dengan kepala itu artinya naik.... yipppyyyyyy.... disuruh naik! Padahal mah maksudnya of course disuruh terus turun! :p

Yang paling nggak asik dari latihan hari itu adalah pada saat kita disuruh turun ke bawah dan buka mask pada saat di bawah trus naik ke atas tanpa mask. Maksudnya untuk prepare kalau pada saat freedive tiba-tiba mask bocor atau gimana gitu. Boleh aja buka mata kalau mau, tapi yaaa berhubung mata gue bukan mata ikan, ya gue nggak bisa gitu melek di air laut, jadi gue milih tutup mata. Tapi berada di dalam laut tanpa tabung oksigen dengan mata tertutup itu yaaa sodara-sodara..... it's a MAJOR PANIC! Setelah sampai di atas dan selesai recovery breath, Jackie nanya apa yang gue rasain (dia selalu nanya apa yang kita rasain setiap habis dive), gue bilang gue panik! Bahkan kata Billy dia bisa liat kepanikan gue dari atas hehehehe...

Ada pula moment dimana Billy ngerasa nggak sanggup lagi turun ke bawah karena telinganya. Karena Billy harus selalu balik badan untuk equalize dan balik badan lagi untuk turun, Jackie sering ada di bawah duluan. Sekali waktu Jackie nyuruh Billy untuk terus turun tapi Billy nolak, dan dia balik ke atas. At the surface gue liat hidungnya berdarah, but he was OK. Beberapa hari setelah kita pulang ke Balikpapan, Billy pergi ke dokter untuk periksa telinganya, dan ternyata ada sedikit robek di gendang telinga, mungkin karena dia nggak berhasil equalize waktu freedive. Tapi untungnya, keadaan gendang telinga yang agak robek itu nggak mengganggu kemampuan divingnya, karena besoknya dia tetap bisa scuba diving tanpa masalah, alhamdulillah. Untungnya pula dia nggak ngerasa sakit kecuali perasaan macam ada air di telinga dan sedikit berisik waktu naik pesawat. Padahal gue dulu juga pernah ngalamin gendang telnga robek tapi keadaanya jauh lebih menderita kayanya. Dan alhamdulillah sekarang telinganya udah normal kembali.

Setelah hampir tiga jam di permukaan laut, akhirnya semua skill selesai dikerjain. Arus waktu itu cukup kuat, sampai-sampai kita yang tadinya pergi ke laut naik kapal dan dibawa jauuuuuh ke tengah laut, diakhir latihan tau-tau kita udah nyampe di pinggir Trawangan. Pernah pula pas di tengah-tengah latihan tiba-tiba di bawah kita mulai banyak ikan, dan dasar laut mulai kelihatan. Gue dah girang dong.... kalau freedivenya ditemenin ikan-ikan banyak gini kan asoy dan jadi semangat. Eh nggak taunya Jackie nyuruh kita naik lagi ke kapal dan pindah ke laut lebih jauh dan lebih dalam.... meeeeeh! :p

Setelah semua skill selesai, Jackie nyuruh kita snorkelling bertiga dan dia nunggu di kapal. Nah kalau udah gini gue semangat! Harus gue akuin, bisa menyelam bebas tanpa tabung dan main-main sama ikan atau binatang lainnya itu memang ngasih kepuasan tersendiri. Seandainya aja gue bisa nahan nafas lebih lama, pasti akan jauh lebih menyenangkan. Tapi gue yakin itu masalah jam terbang dan latihan. The urge to breath tentu bisa digeser, dan kalau orang  lain bisa pasti gue juga bisa (itu juga yang sering dibilang Jackie).

Hari itu gue cukup puas, tapi nggak juga bisa dibilang "got hooked" macam waktu gue ambil sertifikasi scuba pertama kali hehehe... Di akhir hari pertama waktu kita kembali ke kantor Freedive Gili, ada Tina yang lagi nyantai-nyantai di swimming pool dan nanya gimana pengalaman freedive pertama kita, yang gue jawab dengan signal "not okay!", dan dijawab dengan "aaaah sounds like my first experience!". Gitu ya?? Oliver pun nyaut dengan "it 's like my first beer" yang tentunya gue ga paham maksudnyeeeeh.... Ngeliat muka gue yang nggak ngerti Jackie jelasin kalau first beer untuk semua orang pasti nggak enak, tapi pada akhirnya semua pasti ketagihan.  Ooooh gitu, laaaaaah gue ga pernah minum beer yaaak! :p

Sore hari itu ditutup dengan test teori dan foto untuk kartu sertifikasi. Si Jackie bilang gue berhasil sampe ke kedalaman 12 meter, dua meter lebih dalam dari hari pertama. Yang paling dalam Oliver, 14 meter, sesuai panjang tali. Akhirnya selesai deh kursus freedive!  Lumayan laaaah buat nambah-nambah koleksi kartu sertifikasi hehehe... Setelah selesai segala administrasi gue nanya ke Jackie apa ada muridnya yang lebih memalukan atau lebih payah dari gue, dan dijawab dengan "a lot!". But of course she should say that to all her students... Whatever, yang jelas urusan bersusah-susah nahan nafas sementara udah berakhir! Horeeeee!!!! Besoknya waktu kita mau scuba di kapal, Billy bilang "udah diciptain teknologi supaya kia bisa nafas di bawah laut, ngapaiiiiiin repot-repot nahan nafas!" Hahahahahha....

yeaaaay!
Well ada timbal baliknya sih... tentunya freediving ini bikin kita lebih leluasa di laut, tapi kita pun nggak bisa puas berlama-lama dan bersantai-santai di dalam laut karena konsentrasi pasti terpecah sama otak yang berharap bisa segera buang CO2 dan nerima O2. Yah, untuk bisa sampai benar-benar menikmati di bawah air tanpa tabung memang harus latihan yang banyak rasanya. Waktu itu rasanya gue nggak kepengen nyoba freedive lagi, tapi sekarang kalau gue lihat acara dokumenter bawah laut, sering kali para cameraman-nya nggak pake tabung udara untuk masuk ke laut, supaya bisa lebih leluasa main sama binatang, dan ada juga binatang yang terganggu sama gelembunya scubadiver.  But again, it needs a lot of practice to enjoy this sport. Sampai saat ini tetap scuba yang lebih asoy buat gue, dan rasanya keinginan gue untuk ambil freedive level 2 masih belum ada. Tapi keinginan untuk menggeser my urge to breath tetep ada. Sementara latihan di swiming pool aje dulu dah!

Yuuuuuk mariiiiih...


Friday, April 5, 2013

Scubadive and Freedive Gili

celebrating our 4th anniv under the sea  :)




Setelah memutuskan untuk pergi ke Lombok dan Gili Trawangan sebagai tujuan dive trip berikutnya, nggak sengaja gue ketemu freedive course di Trawangan melalui tripadvisor.com. Udah lumayan lama sebenarnya gue cukup penasaran sama freedive. Oh ya, buat yang nggak tau apa itu freedive, freedive adalah teknik menyelam tanpa menggunakan compressed  air atau alat pernapasan apa pun, dan sang diver hanya menggunakan wetsuit, weight belt, goggle dan fin.


Pertama kali gue kenal freedive adalah waktu ambil open water di Bunaken, pas lagi duduk-duduk di depan TV hotel dan tayangan yang ada di TV waktu itu adalah film dokumenter yang menampilkan freediver yang meliuk-liuk bebas di kedalaman laut tanpa tabung oksigen, asik berenang sama binatang-binatang di bawah laut. Nggak cuma gue yang lagi duduk di depan TV waktu itu, Billy dan dua tamu asing yang juga penyelam dan beberapa kali sempat nyelam bareng selama di Bunaken juga ikut nonton dokumenter itu. Tanpa paham apa yang sebenarnya dikerjakan oleh sang penyelam di TV sambil takjub dengan kemampuan dia menahan nafas di dalam air, sambil mencoba mencerna dengan ilmu super cetek yang baru aja didapat dari kursus open water bahwa kita dilarang menahan nafas di dalam laut, salah satu tamu asing nyeletuk sambil ambil posisi untuk mulai nimbrung nonton "freediving, huh?".

Ooooooh....freediving! Gue perhatiin nggak cuma ujung bibir gue doang yang keangkat nonton dokumenter itu, dua tamu asing tadi juga senyum ngeliat asiknya sang freediver macam nari di bawah air.

Begitu gue lihat ada kursus freedive di Gili Trawangan, gue iseng-iseng propose ke Billy, siapa tau aja dia juga berminat. Ternyata memang berminat.. hehehe... Tapi sebenarnya kita nggak langsung serta-merta mendaftar untuk kursus sih. Pertimbangannya waktu itu adalah, kalau ambil kursus freedive berarti kesempatan kita untuk memperbanyak divelog berkurang. Tapi kalau nggak ambil sekarang, nggak tau lagi dimana destinasi diving yang ada kursus freedive yang bisa ditempuh dalam jarak dekat, mumpung lagi ke Gili Trawangan juga kan nih. Jadi akhirnya diputuskan lah untuk mendaftar kursus freedive, gue dan Billy. :)

Selain daftar untuk kursus freedive, Billy juga ambil sertifikasi untuk deep dive specialty selama di Trawangan. Sementara gue, untuk pertama kalinya dive trip kali ini benar-benar full fun dive. Rencana pun kita siapin matang sejak dari Balikpapan. Enam hari lima malam di Trawangan: dua hari pertama adalah untuk deep dive specialty Billy dan fundive buat gue, dua hari berikutnya untuk freedive course, dan dua hari terakhir untuk fun dive. Total dive untuk masing-masing menurut target rencana awal delapan dive. Untuk dive operator dan course, Billy milih Gili Scuba, dive operator yang terdekat dari hotel dan terpikat dengan iklannya di website yang katanya dijalankan 100% oleh local people, dan anti mickey mouse divemaster yang maksudnya dive guide yang padahal nggak punya sertifikasi divemaster. :)

Tanpa menunda tentunya begitu sampai di Trawangan dan setelah duduk sebentar di hotel, Billy langsung datang ke Gili Scuba untuk confirm bahwa kita akan dive siang itu dan Billy akan mulai ambil kursus deep divenya. Tapi begitu kita siap untuk diving, ternyata sang instruktur bukan orang Indonesia hahahha... gimana deh iklannya? Sang instruktur bernama Jordy, laki-laki Spanyol bertato yang kelihatannya muda tapi kalau dengar ceritanya yang udah pernah kerja dimana-mana dan sempat ikutan semacam US navy (dont ask, I don't really get it eaither) di tahun 90an, gue dan Billy memperkirakan dia mungkin sekitar 30an akhir atau awal 40? By request, selama Billy diving untuk deep dive specialty-nya gue akan ngekorin dia dan sang instructor buat fun dive, nggak masalah karena gue pun udah punya deep dive certification.

Tapi cara kursus deep dive-nya Billy beda sama cara gue dulu. Seingat gue dulu waktu ambill deep dive, sebelum mulai kursus gue udah dikasih buku supaya bisa belajar, teori dan praktek dikerjain bertahap beriringan, dan ada beberapa skill yang kita coba di laut, trus ditutup dengan knowledge review di akhir course. Tapi sama Jordy ini meuni santai pisan hehehe... Nggak ada skill di bawah laut, satu-satunya skill yang dikerjain cuma nyoba naikin sosis (pelampung panjang dengan tulisan "diver below") di akhir dive sebelum safety stop. Nggak ada dive sampai ke kedalaman mendekati 40 m, atau bawa botol plastik ke dalam air, atau menghitung matematika ringan di kedalaman, atau bawa tomat, atau nyoba nafas dari regulator buddy seolah-olah kehabisan oksigen, atau coba nafas dari tangki oksigen cadangan yang disiapin di kedalaman  di atas 10 meter. Semua divenya macam fun dive dengan rata-rata kedalaman 20-25 meter. Oh ya, FYI sertifikasi deepdive ini memperbolehkan diver untuk menyelam di kedalaman sampai 40 meter, 10 meter lebih dalam dari yang boleh dilakukan oleh advance open water diver. Billy pun baru dapat buku setelah keempat dive-nya selesai (deep dive course perlu 4 dive) hehehehe... Sampe sempet bingung sendiri si  Billy. Tapi tetap akhirnya  ditutup dengan knowledge review, jadi tetap harus belajar doi.

Walau pun gaya orang dari Gili Scuba ini terlihat santai, tapi mereka semua ramah-ramah kok. Cuma sayangnya by default mereka hanya punya jadwal dua kali dive tiap harinya untuk boat dive. Karena punya pengalaman diving ciamik di Tulamben dimana sang dive guidenya siap kapan aja bisa diajak nyemplung, mau jam enam pagi sekali pun (plus sang guide meuni tangkas pisan dipermukaan tapi selooooooooooow di bawah laut, dan cukupteliti untuk objek macro... hadeuh jadi kangen ke Tulamben), kita berharap untuk bisa seperti itu juga di Trawangan, bukan untuk skill dive guide-nya, tapi fleksibilitas jam divingnya. Tapi untungnya mereka mau juga diajak diving pagi walau pun bukan dawn dive karena turunnya jam 8an juga hehehehe....

Sempet ada moment dimana gue kurang puas di awal. Setelah Billy selesai semua dive untuk deep dive specialty-nya, dive selanjutnya nggak lagi ditemenin sama Jordy tentunya, tapi sama divemaster. Selama diving bareng Gili Scuba, gue amatin bahwa mereka punya dua instructor (yang keduanya bule, satu Jordy dan satu lagi cewe bule mungil tapi tangkas banget dari Jerman), dan dua divemaster. Salah satu dari dua divemaster ini sempat ikut bareng gue, Billy dan Jordy karena ada site yang Jordy belum hafal banget kondisinya. Dive master yang gue maksud ini kayanya cukup santai di bawah air, jadi menyenangkan. Di fun dive berikutnya kita berharap ditemenin sama divemaster yang ini, anggap aja namanya A. Tapi sayang, di dive pagi (pagi sesuai jadwal defaultnya mereka, which is at ten-ish) si divemaster A nggak datang, jadilah kita ditemani sama divemaster yang satu lagi, divemaster B. Padahal pagi itu tamunya nggak cuma gue dan billy, tapi ada dua diver cewe asal Malaysia, dan satu diver cewe (yang ngaku party girl) asal Finland. Melihat cara si divemaster B ngasih briefing di kapal, cek arus di bawah (yang baru dikerjain pada saat semua diver udah siap backroll dari kapal) dan lainnya, gue sempet suudzon sama si divemaster B dengan berpikir kalau dia divemaster mickey mouse.

Si divemaster B ini di bawah laut meuni nggak santai, bukan juga berarti dia melaju sendiri, tapi dia nyaris nggak ngasih kesempatan kita untuk berhenti untuk lihat-lihat apa yang ada di sekitar untuk lebih teliti lihat kanan kiri. Dia juga sempat bawa kita berenang melawan arus, dan gue udah mulai bete. Tapi diakhir dive ternyata dia bawa kita ke tempat white tip sharks tidur siang, dan kita ketemu sama empat white tip sharks besar.... happy! Buat yang pengen tau, nama dive sitenya Manta point. As the dive master said, cuma namanya aja manta point, but manta is rarely found, but white tip sharks is almost certain to be found instead.

Di lain kesempatan, di dive kita di hari terakhir di Trawangan, kita request untuk dive pagi karena jam 11 udah harus check out dari hotel dan antri untuk nyebrang. Kayanya si divemaster A selalu punya masalah untuk datang pagi, jadilah pagi itu kita ditemanin kembali sama divemaster B, shore dive, karena perahu hanya bisa kalau sesuai jadwal defaultmereka. Gue dan Billy nggak keberatan untuk shoredive, any kind of dive is fine for us. Tapi ternyata setelah masuk ke dalam dan nyelam beberapa saat, tiba-tiba arusnya kencang sekali. Seumur-umur kayanya itu arus yang paling kencang yang pernah gue alamin, pengalaman arus di Shangyang yang bikin rombongan terpisah-pisah rasanya masih kalah sama kencangnya arus kali ini. Di satu kesempatan, di akhir dive gw sempet pegangan sama tali tambang, di daerah situ banyak tali tambang untuk ikat kapal yang mau "parkir", saking kuatnya arus gue biarin badan dan fin gue kedorong arus ke belakang sambil terus pegangan sama tali. Karena mulai bahu sampai kaki "ketiup" arus jadi terpaksa muka gue menghadap arus yang kencang, rasanya kaya ditiup kuat-kuat sama makhluk super besar persis di depan muka hehehehe....

Tapi karena kita shore dive, dan lokasi kita nggak jauh dari pulau, arus kencang kaya gitu alhamdulillah nggak bikin gue dan Billy jiper atau panik. Dan walaupun arus kencang, diantara jeda saat arus reda sempat ambil foto-foto yang lumayan. Di dive kali itu divemaster B lebih teliti untuk cari objek foto ketimbang sebelumnya. Dan di akhir dive pada saat gue pegangan sama tali tambang tadi, tau-tau Billy hilang hehehehe.... Si divemaster sempat ngasih sinyal nanya dimana Billy, tapi nggak gue acuhin karena tangan gue sibuk pegangan sama tali. Lagian gue yakin Billy udah naik ke permukaan duluan, dan kedalaman kita saat itu juga cuma enam meter, so I'm pretty sure he'll be fine. Sebelum naik ke permukaan sang divemaster sempet keluarin gelembung dari reguator untuk kasih tanda ke Billy, dan benar aja kan ternyata Billy udah naik ke permukaan duluan. Rupanya disaat arus kencang banget yang terakhir, Billy nggak sempat pegangan sama tali tambang, sementara finnya nyaris lepas karena ketiup arus. Karena khawatir finnya lepas dan hilang, sementara nggak ada pegangan kemana-mana, dan menurut divecomnya dia udah lewatin safety stop (karena lebih boros oksigen, Billy seringnya ambil posisi lebih tinggi dari gue, jadi saat gue masih di bawah 6 meter, dia udah dapat safety stop duluan), Billy memutuskan untuk naik ke permukaan duluan.

Di lain dive, sempet juga kita ditemenin sama divemaster A. Kalau divemaster A ini lebih santai di bawah air, dan cukup teliti. Sama dia kita sempet ketemu pygmi seahorse tapi sayang fotonya nggak ada yang bagus. Dan dia juga sempat nunjukin kita leaf fish, kalau nggak dikasih tau gue nggak akan nyadar kalau itu ikan hehehe...

Overall, diving di Trawangan lumayan memuaskan, terlepas dari beberapa kekurangan pelayanan dari dive operator dan kondisi terumbu di sekitar Gili mulai banyak yang rusak. Banyak sekali turtle, pernah begitu masuk ke air kita langsung disambut sama dua green turtle besar. Hampir di setiap dive ketemu turtle. Di beberapa dive kita juga sering ketemu cuttle fish, sampe puas motoin cuttlefish. Octopus juga nggak susah ditemuin. Pernah sekali saat Billy yang pegang kamera gue tunggu dia puas-puasin motoin octopus yang sama sekali nggak merasa terganggu dan nggak mau beranjak dari tempatnya. Setelah Billy selesai, gue penasaran dan berharap si binatang cerdas itu juga penasaran sama gue trus keluar dari tempatnya tanpa merasa terancam. Eh tapi setelah beberapa saat nongkrongin di depan sarang octopus, tiba-tiba warnanya berubah jadi merah, yang setau gue itu tandanya dia lagi marah.... hahahaha... ya udah deh minggat, maaf ya octopus. Di lain kesempatan sempat juga ketemu sama sejenis puffer fish (gue nggak tau namanya) yang ukurannya sebesar betis dewasa, yang nggak merasa terganggu sama gue dan sempat berenang beberapa meter bareng-bareng di atas gue. Sayang, waktu itu kamera juga lagi dipegang Billy, dan posisinya ada kira 5-6 meter di depan. Daripada repot-repot manggil Billy dan takut ikannya malah kabur, mending menikmati berenang bareng sang ikan. Bisa gue liat sesekali matanya ngelirik ke bawah ke arah gue, sambil khawatir dia jadi takut trus kabur, tapi ternyata dia anteng aja tuh. Kemungkinannya sih ada dua, atau dia sebenernya nggak liat gue yang ada di bawahnya, atau dia emang nggak terganggu hehehe... Tapi di dive terakhir waktu shore dive bareng divemaster B, gue ketemu lagi sama ikan itu dan sempat gue foto, memang itu di dive site yang sama.

Cerita gue udah kepanjangan kayanya... gue cerita soal freedivenya di postingan berikutnya aja deh yaaak. In the meanwhile, enjoy our pics.



the octopus yang nggak terganggu difoto sama Billy, tapi begitu gue tongkrongin sebentar eh dia jadi merah... ehehhe
juvenile box fish

begitu mau ascen eh ada dua turtle berdekatan, foto dulu deh sebelum naik


white tip shark lagi bobo siang di Manta point, cuma segini jarak yang gue berani, takut dianya kabur atau tiba-tiba jadi agresif keganggu :)



ini difoto waktu lagi snorkelling, bentuk coralnya macam giant sofa

salah satu foto yang di dapat pada saat jeda arus kencang

green turtle again :)

cuttlefish ini anteng aja di sini waktu difotoin, mungkin dia sebenernya lagi sembunyiin telornya ya? Tapi gue nggak berani terlalu maju, takut dia keganggu

ini dia ikan yang sempet berenang bareng gue beberapa meter. Ternyata masih berjodoh, ketemu lagi di dive terakhir buat difoto
scorpion fish

leaf fish, nggak noticed kalo ini ikan sebelum ditunjukkin

bounty wreck

grumpy stone fish ;)


nudibranch

mantis shrimp

arusnya bikin anemonnya jadi spiky. :p

nemo
moray eel
sempet foto ini di dive terakhir pas arus lagi kencang gila dan Billy udah ngilang duluan, but I get one new lesson, bahwa sembunyi di balik coral ternyata salah satu cara melindungi dari arus yang gila... maklum lah, belum ambil drift dive specialty. :)


Wednesday, April 3, 2013

Lombok & Gili Trawangan (part 2)

Hari ke dua di Trawangan kebetulan adalah hari ulang tahun perkawinan gue sama Billy yang ke-4. Ini pertama kalinya kita ngerayain anniversary jauh dari rumah. Waktu jalan-jalan naik sepeda sehari sebelumnya, mata gue udah gue pasang baik-baik buat perhatiin if there is any cake shop or bakery di Trawangan. Ada satu cafe kecil yang tampaknya jual potongan kue yang jadi target gue buat beli kue untuk anniversary. Tapi ternyata gue kalah sigap!

Di hari kedua, gue sama Billy berencana untuk tiga kali dive, dive pertama sekitar jam tujuh pagi dan selesai sekitar jam delapanan. Begitu selesai dive pertama kita berdua langsung pulang ke kamar untuk ketemu Izan dan sarapan bareng. Tapi ternyata begitu sampe kamar ada kardus indomi nongkrong di meja depan TV. Lah? Barangnya siapa tuh nyelinap masuk ke kamar? Ternyata si kardus isinya kue blackforest yang udah di pesan Billy sama Pak Ank sang manajer hotel untuk hari anniversary kita. Aaaaaaah... sweet! Padahal gue udah sempet bolak-balik buku menu hotel tapi nggak ada loh pilihan cake gitu. Dan setelah gue paksa korek-korek ternyata Billy pesan setelah sampe hotel sehari sebelumnya ke Pak Ank untuk adain kue, ntah gimana caranya, untuk anniversary keluarga gue. Yang seru ternyata Pak Ank pesan kue di salah satu hotel bintang lima di selatan Trawangan yang cukup jauh dari Samba Villas, karena dia hotel bintang lima tentunya dia juga punya cake shop dong... Padahal kan udah gue bilang kalau Gili adalah pulau dimana lo nggak akan bisa nemuin mobil atau motor, jadi satu-satunya kemungkinan itu kue diantar pake delman yang jalannya offroad, karena kalau jalan kaki kayanya meleleh deh. Luarrr biasaaaa.... ntah gimana itu kurir megangin kue di atas delman supaya nggak jatoh atau benyek atau meleleh. hehehehe...

our 4th anniversary or what I told Izan as "ulang tahun keluarganya Izan!"

the anniversary cake

Hari-hari berikutnya di Trawangan, seperti yang gue bilang kita lewatin dengan main di laut,di pantai, sepedaan, dan naik kuda... Anak gue suka naik kuda. Di Trawangan ada dua tempat buat berkuda. Kita datangin tempat berkuda yang terdekat, tapi yang terdekat pun harus sepedaan sekitar 3 kilo. Nama tempatnya Trawangan Horse Riding. Kuda yang ditunggangi kuda peranakan, lebih besar dari kuda lokal, tapi rasanya nggak sebesar kuda yang pernah kita tunggangi di Gangga Beach Bali. Biaya sewa satu ekor kuda Rp 300.000 per jam. Kita sewa 30 menit aja, tapi ekstra 15 menit, tentunya engan tip ekstra. Dan naik kuda di Trawangan nggak bisa dibawa ke pantai macam di Bali, atau kita aja yang nggak tau yah? Tapi yang jelas kita anak gue cukup puas dengan berkuda di  jalanan meski nggak ke pasir.


horse riding

Selama di Trawangan hampir sebagian besar kita beli makanan dari warung nasi padang, alasan utamanya karena murah tetunya. Tapi dari segi rasa juga memuaskan. Cuma sekali kita makan malam di restonya hotel yang posisinya di pantai depan hotel, dan beberapa kali beli makan malam di pasar seni. Di pasar seni Trawangan kalau malam-malam banyak jual makanan lokal. Makanan lokal ini kebanyakan seafood bakar, ayam bakar, ayam goreng, soto, mi goreng, nasi campur, etc. Walau pun yang di jual makanan lokal tapi yang beli bule-bule aje.

sewa sepeda Rp. 10.000 per sepeda per hari
sepedaan sama si kiwil

Ada satu tempat makan yang direkomendasi guru freedive gue (bule juga),  namanya Kiki Novi. Menurut dia itu tempat makan paling enak di Trawangan. Lucunya, malam sebelum dapat rekomendasi dari guru freedive, kita nyoba beli aneka sate bakar di salah satu jualan di pasar seni. Ada banyak sate yang dijual, sate ayam, sate daging, sate udang, sate cumi, sate tuna, sate kakap, dan juga macam-macam ikan besar yang siap dibakar. Gue and Billy coba beli semua kecuali udang. Terbiasa dengan makanan seafood yang terjamin segar di Balikapapan, terus terang gue rada geli ngeliat seafood mentah yang dibiarin lama di luar, plus kecendrungan Billy and anak gue yang sensitif sama makanan nggak segar. So, we definitely didn't try sate udang! Tapi ternyata rasa sate dan nasi campurnya nggak seenak mata memandang heheheh.... biasa aja, masih enakan nasi padang! Nah besoknya, karena penasaran sama yang direkomendasiin sang guru freedive, kita keliling deh naik sepeda nyari tempat makan Kiki Novi. Yang ada di kepala adalah resto besar, mewah dengan makanan western. Tapi setelah sepedaan keliling nggak ketemu akhirnya gue nanya sama mbak-mbak lokal yang nyebarin poster jualan baju vintage dari toko dia sendiri. Ternyata Kiki Novi itu ada di dalam kawasan pasar seni, dan kalau malam dia jualan pas di pojokan deket gerbang masuk sebelah utara, yang ternyata tempat yang si mbak tunjuk adalah tempat kita beli sate malam sebelumnya. Bah... si guru freedive belum pernah nyoba warung padang kayanya!

makan 3 scoop gellato yang disatuin di plastic cup.

ada pelangi!
Di lain kesempatan pas sore-sore setelah aktivitas di laut gue dan Billy selesai, sambil sepedaan kadang kita beli eskrim gellato buat dimakan di pantai sama Izan. Nikmeh banget rasanya makan eskrim abis keringetan sepedaan sambil santai-santai di pantai. Anak gue seperti biasanya, jarak dia duduk dengan bibir pantai semakin hari semakin tipis. Meskipun gue dan Billy udah training dia untuk selalu berenang di kolam besar dan belajar pake snorkelling, tapi akibat lama nggak berenang di laut dia nggak serta merta mau masuk atau deket-deket sama laut. Semakin dibujuk, semakin keras nolaknya. Tapi mulai dari cuma cuci-cuci mainan pantainya di pinggir laut, abis itu main-main ombak sama Ayahnya, akhirnya nyemplung deh ke laut dan ngebiarin badannya kedorong-ketarik ombak. Hehehehe.... nggak perlu dibujuk ternyata. Kalau awalnya susah bujuk dia untuk masuk ke air, di hari-hari terakhir susah bujuk dia untuk keluar dari air. Tapi gue nggak keberatan kalau anak gue susah keluar dari air, karena gue sendiri pun sama hehehehe.... Pernah gue sama anak gue keasikan main di pantai sambil duduk dengan air sampai ke pingggang buat gue dan ke dada buat anak gue, sambil ngebiarin badan kedorong ombak yang pelan, sambil lempar-lempar koral mati ke tengah laut sampai nyaris azan magrib saking keasikan. Sementara Billy ketiduran nyenyak di kursi lounge pantai, kecapean. Kalau urusannya sama air apalagi laut, capek gue kayanya ilang deh hehehehhe.... Rasanya nggak sabar pengen ngajak Izan nyemplung ke dalam laut trus ngeliat excitement-nya dia ngeliat indahnya dalam laut.... still 4 to 5 years to go.

lovely face :)
main pasir sama Ayah

Nggak terasa akhirnya sampai ke hari terakhir kita di Trawangan. Kita sempetin satu dive pagi sebelum pergi, abis itu buru-buru packing dive gears dan check out dari hotel. Kali ini kita nggak mau susah payah nenteng tas dan carrier ke dermaga, tapi sewa delman dooong! Billy mutusin untuk naik public boat. Harga tiket public boat untuk satu orang Rp.10.000 dan kapal baru berangkat kalau udah penuh, yaitu 30 orang. Kita mulai duduk di dermaga sekitar jam 11, dan akhirnya kapal penuh jam setengah satu. Pablic boat ini adalah kapal tanpa dek, ntah untuk alasan supaya bisa banyak taro barang atau supaya mengurangi berat kapal atau dua-duanya, semua papan deknya dibuka, yang ada hanya tempat duduk di sepanjang dinding dalam kapal. Jadi begitu naik ke kapal kita harus jinjit-jinjit di atas rangka lantai kapal karena kalau jalan dengan kaki basah dan bepasir setelah kecemplung di pantai, di atas tempat duduk rasanya nggak sopan.

ngajak Izan snorkelling di Trawangan
Karena bawaan kita yang segambreng plus bawa anak kecil, Billy nyaranin gue untuk sigap bawa Izan ke kapal begitu penumpang disuruh naik kapal, supaya Izan dapat tempat duduk. Barang-barang bisa menyusul. Jadi begitu disuruh naik kapal gue sama Izan langsung sigap naik duluan, yang ternyata bikin kita dapat tempat duduk paling dalam yang lebih panas karena nggak terlalu kena angin. Untungnya anak gue nggak protes sedikit pun. Kadang-kadang anak gue disaat dibutuhkan sifat bolangnya jadi macam bolang (bocah petualang) beneran. Dengan muka keringetan kepanasan dan kecapean nunggu di dermaga, anak gue nggak protes dan sigap naik ke kapal, buat dia itu seru karena bisa basahin kaki di pantai walau pun cuma untuk dua langkah doang hehehehe.... Dan di dalam kapal juga dia duduk tenang walau pun kepanasan dan ngantuk. Sambil senderan ke Billly dan sambil gue kipasin yang padahal nggak terlalu ada gunanya karena angin yang gue kipas itu juga sama aja panasnya, akhirnya dia ketiduran. Tanpa protes atau ngeluh sedikit pun. :)



lagi mau ngebujuk Izan buat snorkelling tau-tau ada bapak2 yang bawa botol plastik aqua isi roti untuk kasih makan ikan



ikan-ikan udah terbiasa dikasih makan, langsun pada datang rebutan roti. Dan si bapak pun terpaksa dikasih tip

Nggak sampai satu jam kita mendarat di pulau Lombok lagi, tepatnya di Bangsal. Sebelumnya Billy udah diwanti-wanti dari lonely planet kalau porter-porter di Bangsal suka seenaknya ambil barang dari kapal trus tiba-tiba minta bayaran mahal sama yang punya barang. Kita semua akhirnya siap-siap dengan barang bawaan masing-masing. Tapi karena Izan tidur, Billy harus gendong Izan sementara carriernya ada di dekat pintu masuk kapal barengan sama tas dive gear. Pada akhirnya kita emang butuh porter untuk bawain barang. Tapi untuk jaga-jaga, kita tawar-menawar dulu sebelum barang kita dibawa. Ternyata harganya nggak semerikan yang dibilang di internet atau lonely planet.


Sebelum kapal berangkat, kita udah telpon pak supir taksi blue bird baik hati yang waktu itu ngantar kita dari hotel Sunset House menuju Teluk Nara. Dia udah siap nunggu di luar Bangsal. Atas kongkalingkong para kusir dan orang-rang di dermaga Bangsal, taksi dilarang masuk ke daerah dermaga.. Jadi penumpang yang nggak punya jemputan harus naik delman keluar sampai di tempat taksi nunggu. Karena sebelumnya ongkos delman di Trawangan mahal sekali, minimal Rp. 40.000 untuk jarak tertentu, harga yang udah ditetapkan oleh koperasi sana, ongkos delman Rp. 20.000 untuk keluar Bangsal kita anggap murah. Tapi ternyata menurut pak supir, ongkos delman kalau di Mataram padahal sangat murah, nggak pernah sampai di atas Rp 10.000.

Dari sana kita langsung kembali menuju Senggigi ke Sunset House lagi, nginap di kamar yang sama dengan waktu berangkat. Kali ini waktu kita di Senggigi lebih panjang, jadi sempet deh main-main di pantai. Sama kaya di Trawangan, ombak di Senggigi nggak besar, cuma lautnya nggak sebening di Trawangan dan pasirnya hitam. Tapi biar gimana pun tetap aja asik main di pantai, walau pun pasirnya hitam, tapi gw lebih pede berenang di laut Senggigi ketimbang di laut Manggar Balikpapan hehehehe.... Karena lautnya bersih, nggak dekat muara. Jadilah sore hari kita habisin buat main di pantai dan berenang di laut. Abis berenang di laut, gue sempetin berenang di kolam renang hotel sekalian bersihin sisa-sisa pasir. Malamnya makan malam di resto hotel yang rasanya sih so-so. Masih enakan makan malam di Samba Villas hehehe...


Sunset House Lombok Lombok - Superior Beachfront Room
our room, superior beach front. pic from here
Sunset House Lombok Lombok - Swimming pool
the swiming pool was very tempting. We were too wet to take pictures, so this pic is from here

Besok paginya setelah sarapan lagi-lagi kita sempetin main di pantai dan berenang di laut, dan lagi-lagi ditutup dengan berenang di kolam renangnya. Abis itu langsung ngemasin barang-barang dan check out. Pak supir Blue Bird baik hati sekali lagi kita booking buat antar jalan-jalan hari itu. Jam setengah 11 dia udah standby di depan hotel, nggak lama kita semua masuk taksi dan pergi. Jadwal pesawat menurut rencana adalah jam 16.30 jadi kita masih punya waktu banyak banget buat cari oleh-oleh dan jalan-jalan sekitaran Mataram. Tujuan utama tentunya oleh-oleh buat di Balikpapan lah ya. Abis itu nyari-nyari destinasi deh ntah kemana. Sayangnya buku Lonely Planet Bali dan Lombok ketinggalan pula di rumah Balikpapan, dan hasil googling untuk destinasi wisata di sekitaran Mataram kurang memuaskan, jadilah kita minta pak supir untuk bawa ke tempat wisata yang dia tau.


kerajinan tanah liat



Si pak supir ini emang lumayan, setelah bawa kita ke tempat oleh-oleh, dia bawa kita ke toko mutiara karena Lombok salah satu daerah yang memproduksi mutiara. Tapi dasar gue ga suka pake perhiasan, ya gue nggak beli apa-apa di toko mutiara. Sebenernya kalau jalan-jalannya ke tempat penangkaran kerang gue lebih seneng, tapi kayanya terlalu jauh dari Mataram. Setelah makan siang di Mataram pak supir bawa kita ke toko hasil kerajinan tanah liat, sayangnya unuk tempat pembuatannya masih jauh lebih dalam. Tapi liat kerajinan yang berbau Indonesia gitu mah gue sukaaa, tapi nggak berarti juga gue kalap beli tanpa mikir gimana bawanya sih. Sesudahnya kita dibawa ke desa Sade, desa suku Sasak asli. Sayangnya Izan lagi bobo di pangkuan Billy waktu nyampe sana, jadi lah gue sama si mbak yang turun liat-liat. Di dalam desa Sade, udah ada guide yang siap kasih informasi tentang kebiasaan adat, jumlah KK, tradisi dan sebagainya tentang suku mereka. Rumah-rumah di desa rata-rata berdinding anyaman rotan, rata-rata perempuannya jualan atau buat kain songket untuk turis. Si guide sempet ngantar gue ke rumah asli suku Sasak yang terbuat dari kotoran kerbau (selain bawa gue ke jualan istrinya juga).



lumbung pagi suku sasak

rumah adat yang terbuat dari kotoran kerbau, cukup dipel 2 kali seminggu. lumayan inspiratif buat yang males ngepel :p
ibu-ibu pintal benang

Setelah dari Desa Sade, ternyata udah sekitar jam tiga sore. Sebenernya ada satu tempat lagi yang pengen kita datangin, Pantai Kuta. Pantai Kuta ini terletak di selatan Lombok, cukup terkenal karena setiap orang di Lombok pasti datang berkunjung ke pantai Kuta paling nggak sekali dalam setahun untuk acara adat yang namanya "nyale", yaitu acara nyari cacing yang cuma akan keluar selama beberapa hari dalam satu tahun. Acara nyale ini cukup unik, kalau nggak bisa dibilang aneh, karena cacing-cacing yang ada di pantai itu kalau bukan pada tanggal-tanggal yang ditetapkan oleh sesepuh di sana nggak akan bisa ditemukan satu pun. Dan konon menurut supir taksi yang pertama kali ngantar kita dari bandara ke senggigi, kalaupun ada yang berhasil dapat cacing sebelum tanggal yang ditetapkan, begitu sampai rumah cacing akan berubah jadi air hehehe... Gue jadi penasaran cacingnya kaya gimana. Menurut mereka cacingnya warna-warni dan ditangkap untuk digoreng dan dimakan.

Sayangnya Pantai Kuta itu masih satu jam dari Desa Sade yang udah dekat ke bandara, pak supir khawatir kita ngak sempat kalau mampir kesana. Jadi akhirnya kita semua sepakat untuk langsung ke bandara. Karena Izan masih enak tidur, jadi kita minta pak supir buat nepi dulu di daerah teduh sampai Izan kebangun. Sekitar jam empat kurang akhirnya kita turun dan masuk ke airport. Pak supir pun sempet becanda bilang "goodbye Lombok" ke kita.

Dengan gegap gempita kita naro barang yang mulai beranak setelah beli beberapa oleh-oleh ke antrian check in. Tapi setelah nunggu beberapa menit sang petugas check in periksa tiket kita, akhirnya dia nanya apa kita ngubah tanggal penerbangan. Jelas aja Billy bilang nggak, kita semua pede bahwa jadwal pesawat kita tanggal 20 menuju Surabaya dan tanggal 21 menuju Balikpapan. Ternyata salah sodara-sodara!!!! Ternyata pesawat kita tanggal 21 menuju Surabaya dan tanggal 22 menuju Balikpapan. Ngek ngooooook.....

Karena taksi Blue Bird dilarang ambil penumpang di bandara, akhirnya kita beli karcis untuk taksi bandara. Where to? Pilihannya kembali ke Senggigi nginap di hotel yang sama atau coba nginap di Kuta dan go-show untuk cari hotel. Tentunya Kuta jadi pilihannya. Lagi-lagi karena nggak bawa buku Lonely Planet, kita mengandalkan internet untuk cari referensi hotel. Nggak banyak pilihan hotel di Kuta menurut agoda.com and tripadvisor.com, sama juga menurut pak supir taksi bandara. Ada satu hotel yang direkomendasi sama sang supir tapi setelah kita liat ternyata jauh sekali dari pantai. Ngapain??!




happy face
happy feet :)
pantai kuta

Ternyata taksi dilarang untuk menjemput penumpang di kawasan Kuta, mungkin karena alasan itu mangkanya sang supir lebih merekomendasi kita untuk nginap di hotel yang jauh dari pantai, karena kita minta dia untuk jemput kita lagi besok setelah keluar dari hotel. Tapi kita nggak mau dooong, mo ngapain kalo jauh dari pantai, wisatanya kan pantai. Akhirnya tanpa peduli dengan rekomendasi supir, kita cari penginapan yang lebih dekat dengan pantai. Cuma dua penginapan yang sempet di
datangin, yang pertama terlihat kece dari luar, tapi sayang nggak ada kamar murah buat si mbak. Yang kedua lebih semacam kamar backpacker, tapi ada AC dan air panas, dan ada juga kamar murah buat si mbak jadi lah itu yang kita ambil.

Sekilas liat Kuta, ini semacam pantai buat para surfer. Ada beberapa kios-kios di seberang penginapan yang membelakangi pantai yang ntah menjual atau menyewakan papan surfing. Dan di sini gue banyak ketemu motor yang dipasang besi untuk bawa papan surfing macam di Kuta Bali. Rata-rata turis pun turis asing, dan bukan orang Asia. Di tempat kita nginap gue nggak ketemu satu pun dengan tamu orang Indonesia, walau pun Billy bilang dia sempet ketemu dengan tamu Indonesia perempuan dan teman laki-lakinya. Penasaran sama pantai Kuta yang katanya pasirnya putih dan pantainya keren, setelah istirahat sebentar di kamar alakadarnya, kita keluar jalan-jalan ke pantai.


ga ada bosennya main pasir :)

Dulu waktu gue ngekos dan piara kura-kura, gue taro pasir yang ukurannya hampir segede pala buat kura-kura gue, ada temen kos yang bilang kalau pasir di lombok seperti itu. Tapi nyatanya pas ke Trawangan mau pun ke Senggigi, pasirnya nggak ada tuh yang kaya pasir buat kura-kura gue dulu. Tapi begitu masuk ke pantai Kuta, ternyata temen kos gue dulu nggak bohong. Pasir di pantai kuta bulat-bulat dan besar-besar, very tempting untuk diinjak pake kaki telanjang dan dimaini pake tangan. Dan pemandangan pantainya bener-bener amazing, masyaAllah! Tapi anehnya gue juga nggak liat ombak kecuali samar-samar sekitar 500 atau 800 meter dari bibir pantai. Nggak nyesel rasanya mutusin pergi ke Kuta. Bisa gue bilang, pantai Kuta Lombok salah satu tempat terindah yang pernah gue datangin. Seandainya nggak banyak anak-anak abg yang berisik dan foto-foto ntah dimana-mana pasti lebih asik hehehe... Karena kebeneran pas sore itu ada rombongan bus ntah dari mana yang lagi mampir ke situ. Tapi nggak ada yang berenang di laut, dan gue pun udah terlalu males buat basahin baju lagi untuk main air.

pasir segede pala






Setelah nyaris magrib, kita kembali ke hote luntuk mandi. Nama hotel tempat kita nginap adalah Hotek Segara Anak, pemiliknya kayanya orang Bali. Kamar yang katanya sedia air panas ternyata air panas cuma tersedia selama dua menit doang, jadilah kita mandi pake air dingin hehehe... Karena nggak terlalu betah di kamarm setelah mandi kita keluar lagi buat makan malam di resto hotel. Di depan hotel udah dihidang buffet untuk seafood yang siap dimasak untuk tamu yang mau pesan. Tapi, lagi-lagi terbiasa sama seafood yang terjamin segar, gue bisa bilang seafood yang ada di situ sama sekali nggak segar. Nggak banyak tamu yang makan malam di resto hotel, sepertinya mereka keluar untuk cari makan di tempat lain. Menu makanan yang Billy pesan adalah alam taliwangyang rasanya ternyata lebih enak dari pada waktu di Hotel Sunset House, Izan dipesenin spageti carbonara yang rasanya lumayan, gue pesen pizza yang yaaaah biasa aja hehehe.... sementara si mbak udah bosen sama makanan hotel atau makanan berat dan pengen makanan jajanan. Jadi dia minta ditunjukin tempat beli bakso terdekat sama petugas resto yang ternyata perlu diantar pake motor hehehehe...

Besok paginya kita lagi-lagi ngabisin waktu di pantai untuk main pasir, kali ini nggak basah-basahan. Dan kali ini pantainya bener-bener kosong, cumakita doang yang ada di sana dan beberapa ekor anjing kampung yang lagi males-malesan di pasir. Izan senang banget main pasir di situ (dia sih emang seneng main pasir dimana-mana), tapi nggak cuma Izan yang seneng gue, Billy dan si mbak juga seneng mainin pasir yang segede pala gitu. Setelah matahari mulai keterlaluan panasnya, padahal baru jam sembilanan pagi, kita kembali lagi ke hotel buat mandi, beres-beres dan sarapan. Menu sarapan yang disediain cuma toast atau croissant, atau pancake dan teh atau kopi. Jam 11 kita check out dan telpon taksi blue bird untuk jemput.




no one else at the beach but us
Lagi-lagi ada kongkalingkong antara para penyewa mobil setempat dengan orang-orang setempat. Taksi di larang masuk ke Kuta untuk menjemput penumpang, tapi harga sewa mobil yang ditawar di hotel adalah Rp 500.00 padahal kemarin kita jalan-jalan lama naik taksi dari Senggigi- keliling Mataram- bandara cuma Rp. 270.000. Jelas aja tawarannya ditolak, apa lagi kita cuma perlu mobil cuma untuk sekitar 4 jam doang. Setelah tawar menawar panjang sama laki-laki yang nawarin sewa mobil di hotel, akhirnya kita minta untuk diantar ke tempat dimana taksi boleh nunggu yang jaraknya sekita 2 kilo dari hotel dengan harga Rp. 30.000. Lucunya setelah masuk ke mobil sewaan, Billy nanya sama sang supir yang ternyata pemilik mobil dan dia mau menyewakan mobilnya seharga Rp. 200.000 untuk 4 jam, sementara si laki-laki tadi yang rupanya calo nggak mau kurang dari Rp. 300.000. Gara-gara si calo akhirnya si supir jadi kehilangan pelanggan deh. Konyol!

Karena kita udah puas jalan-jalan sekitaran Mataram kemarin, jadi kita semakin nggak punya tujuan untuk ngabisin waktu sampe jam setengah 4 nanti. Tapi mampir lagi ke toko oleh-oleh untuk nambah oleh-oleh buat saudara atau teman yang lupa kehitung nggak apa juga. Dan kembali mampir makan siang di Mall Mataram. Yang kasian Billy, karena hari itu sebenarnya hari ulang tahun dia. Gue sama sekali nggak mempersiapkan ngerayain ulang tahunnya di perjalanan, karena rencana awal yang kita pikir mestinya tanggal itu kita udah sampai rumah, dan di rumah semua rencana udah disiapin. Apa boleh buat... keliru pisan liat tanggal pesawat. :p

Akhirnya jam setengah empat sore kita masuk kembali ke komplek bandara, dan kali ini beneran "goodbye Lombok" deh. Setelah check ini dan nunggu tanpa delay, akhirnya pesawat terbang sekitar jam 5 WITA dan sampai Surabaya jam 5.30 WIB. Di bandara Juanda kita dijemput sama petugas hotel tempat kita nginap.

Namanya Hotel Walan Syariah, hotel dengan konsep apartemen yang baru dibuka dan bersistim syariah, yang artinya tamu yang bukan muhrim dilarang untuk menginap satu kamar, dan tamu dilarang pula nerima tamu yang bukan muhrim untuk masuk ke dalam kamar. Hotel itu posisinya lumayan dekat dengan bandara, sekitar 4 atau 5 kilo, itu kenapa hotel itu yang dipilih. Dan memang kayanya tamu yang ditarik adalah tamu yang perlu tempat menginap untuk transit. Walau pun harga sewa kamarnya permalam sama dengan harga sewa kamar di hotel tempat kita nginap di Kuta, tapi fasilitasnya jauuuuh beda. Hehehehe... Rasanya nikmeh bisa mandi dengan air panas melimpah, bantal empuk, seprei putih bersih dan selimut bersih. Bukan berarti hotel di Kuta jorok, tapi yaaah nama pun hotel kelas backpacker. Menu makan malam waktu itu adalah soto Lamongan yang dijual di warung soto pas di depan hotel. Tadinya Billy nawarin delivery fast food ke kamar, tapi begitu liat warung soto, gw lebih kepingin makan soto ketimbang fast food. Lagi pula ngeliat si mbak makan bakso malam sebelumnya, kita semua termasuk Izan ternyata lumayan dibikin ngiler. hehehehe...

Besok paginya kita kembali lagi ke airport Juanda untuk pesawat jam 7.30. Pulang dengan belang-belang bekas kebakar sinar matahari di muka, tangan, dan kaki, dive log yang nambah penuh, dan semangat yang cukup ke re-charge. Alhamdulillaaaaaaah.....

Plan dive trip berikutnya buat gue dan Billy belum ada karena kita berencana bikin adek buat Izan dulu setelah ini. Sementara planning untuk jalan-jalan tanpa diving berikutnya masih 9 bulan lagi..... masih lamaaaaaaaaa.... hahahahaha... Gitu deeeeeeh ceritanya.

Thanks Ayah untuk jalan-jalannya..... love you!