Berita oh berita.... dikala sepi, kertas berita (baca: nyuspeper) hanya saya bolak-balikkan demi melihat iklan dan jadwal film di dua puluh satu (baca: twentiwan). Tapi kalau lagi ramai seperti akhir-akhir ini saya dengan sabar menunggu boss selesai membaca kertas berita atau majalah langganannya untuk kemudian mencernanya dalam-dalam. Seperti hyena yang dengan sabar menunggu singa meninggalkan mangsanya. Hahaha....
Berita oh berita.... persis pisang goreng Pontianak. Renyah dan gurih dikala hangat, layu dan tidak menarik setelah dingin. Marilah kita mengomentari pisang goreng Pontianak akhir-akhir ini, dan tentunya pengertian "kita" disini adalah saya sendiri, pribadi, seorang, subjektif, dan awam. Oh... saya jadi masygul! :P
ALUTSISTA
Nah, bagaimana kita mau unjuk taring mempertahankan Ambalat sementara dunia juga tau kalau TNI kita sudah kehilangan inventaris udaranya tiga kali berturut-turut dalam kurun waktu tiga bulan. Dan jangan lupa menghitung manusianya yang jadi korban.
OK, sebagai seorang awam saya tau kalau faktor musibah kapal udara itu bisa macam-macam; alam, manusia, dan mesin. Kekuatan alam memang diluar kendali manusia, tapi faktor mesin dan manusia itu sepenuhnya bisa dikendalikan. Jadi 2/3 kemungkinan musibah kapal udara bisa dihindari karena merupakan faktor yang bisa dikendalikan manusia. Jadi kalau TNI mengalami musibah tiga kali berturut-turut dalam waktu tiga bulan, siapa atau apa nih yang perlu disalahkan?
Macan ompong juga berani menerkam kalau begini sih.
IBU PRITA VS OMNI
Dari berita ini saya belajar banyak hal sebagai konsumen yang dalam hal ini pasien dan sebagai penjual atau penyelia jasa yang dalam hal ini dokter.
Sebagai konsumen atau pasien;
Berbahagialah wahai warga negara yang berada dalam pihak ini karena ternyata kita adalah manusia-manusia yang dirajakan dan bahkan dilindungi oleh undang-undang. Hanya saja berhati-hatilah walau menjadi raja.
Saya adalah pendukung Ibu Prita sejati, walaupun penuntut adalah golongon dari rekan sejawat sekalipun (bah!). Sebagai konsumen yang merasa dirugikan dan tidak mendapat tanggapan setelah protes ke rumah sakit tentu saja dia berhak menulis kekesalannya sama seperti yang banyak kita lihat di kolom surat pembaca koran kompas. Tapi akan lebih bijaksana kalau konsumen berhati-hati dalam menyusun kalimat penulisannya sehingga aman dari pemanfaatan pengacara pongah untuk menjatuhkan balik sang raja.
Silahkan pelajari disini.
Sebagai pasien, kita perlu tahu bahwa kita mempunyai hak untuk mendapatkan informed consent setiap akan dilakukan tindakan. Jadi kalau hendak mendapatkan tindakan, akan sangat bijaksana dan berhati-hati kalau kita meminta penjelasan dari dokter terlebih dahulu. Oh ya, dan pasien juga selalu berhak untuk mendapatkan second opinion dari dokter lainnya lho. Dan hak pasien lainnya adalah mengetahui isi medical recordnya (yang tidak diberikan oleh rumah sakit omni kepada Ibu Prita), tapi data medical recordnya adalah hak rumah sakit.
Sebagai penjual/penyelia jasa yang dalam kasus ini adalah rumah sakit dan dokter;
Pertama, ingatlah selalu (dan akan saya upayakan untuk selalu ingat karena saya pun termasuk dalam pihak ini) bahwa: "konsumen adalah raja"! Jadi kalau raja protes, hal yang paling bijaksana untuk dilakukan adalah mendekati sang raja kemudian menghindari terciumnya isi protes raja oleh calon-calon raja lainnya!
Begini nih, sebagai manusia awam yang membaca isi email Ibu Prita pastinya kekurang-percayaan saya terhadap rumah sakit omni tidak lah signifikan. Rasanya saya masih mau menjadi pasien rumah sakit tersebut bila memungkinkan. Tapi setelah membaca reaksi omni dalam setengah halaman surat kabar yang menyatakan berniat menuntut Ibu Prita atas dasar pencemaran nama baik, kepercayaan saya terhadap rumah sakit tersebut berkurang hingga 60%. Tentunya saya berpikir kalau saya menjadi pasien disana dan ada kesalahan (tentunya kesalahan bisa saja terjadi) saya terpaksa bungkam atau saya dituntut balik? Ngeri dong ya? Mendingan nggak usah jadi pasien sana kali ya? Apalagi setelah rumah sakit telah berjaya menipu-daya kejaksaan untuk mengurung Ibu Prita dalam bui, hah.... kepercayaan saya terhadap rumah sakit ini (yang padahal terletak sangat dekat sekali dengan rumah saya, hingga terpeleset pun sampai) musnah sudah!
Bayangkan seandainya omni melakukan pendekatan simpatik terhadap Ibu Prita (seperti pendekatan simpatik mereka terhadap pihak kejaksaan), saya yakin Ibu Prita akan membuat email yang mengklarifikasi penilaian buruknya sebelumnya dan akan tersebar sebagaimana berita sebelumnya dan masalah pun selesai sudah!
Kedua, tentunya direktorat omni berani melakukan ini atas dorongan pengacara mereka, kecuali kalau memang pihak direktorat omni yang terlalu congkak sehingga tidak bisa berpikir panjang. Oleh karena itu berhati-hatilah memilih pengacara! Atau, berhati-hatilah dengan omongan pengacara!
Ketiga, yang memang tidak ada hubungannya dengan pihak penjual tapi masih berhubungan dengan kasus Ibu Prita, apakah kejaksaan memang benar2 sudah tidak dapat dipercaya lagi? Apa semua kasus benar2 bisa dimenangkan selama kuat secara finansial????? OH...AH... IH...!
MANOHARA PUTRI JELITA
Ahai!
Begini mbak Mano, pertama saya mendengar berita kepulanganmu sungguh besar simpati saya kepadamu. Tetapi setelah ceritamu yang berulang-ulang dalam satu hari di setiap TV swasta, akhirnya saya mulai berkesimpulan: oh Manohara, kamu dan ibumu adalah orang-orang lebay! Masa perlu sampai segitunya klarifikasi dari satu TV ke TV lain? Jangan-jangan ceritamu juga lebay aje?
Tapi di running text metro hari ini ternyata hasil fisumnya membenarkan bahwa si putri adalah korban kdrt. Jadi yah, teruslah berjuang dik, cuma satu saran kakak (hoho!) sayangi ibumu namun tetap waspada. Bah, ibu yang benar di jaman sekarang tentunya tidak menikahkan anaknya di usia 16 tahun bukan? Kalau pun karena korban perkosaan kenapa dulu nggak diributkan seperti ini ya?
Ah... ini masalah celebrity yang menjadi headline hanya karena berhubungan dengan dua negara yang sedang memanas akibat Ambalat.
AMBALAT
Padamu negri
kami berjanji
Padamu negri
kami berbakti
Padamu negri
kami mengabdi
Bagimu negri
jiwa raga kami
Tapi tentu saja setelah janji, bakti, abdi dan jiwa raga kami untuk Allah, wahai Negri!
CAPRES & CAWAPRES
Oh Bapak Ibu capres dan cawapres yang terhormat di dunia, berhentilah menjadi riya, profokatif (a.k.a menjatuhkan lawan), dan mengumbar janji semu. Tentu saya sang rakyat jelata senang melihat Bapak Ibu berbuat baik, tapi saya yakin Tuhan benci perbuatan baik yang riya, apa lagi riya karena kuasa di dunia.... aih berat!
Dan janji-janji itu wahai Bapak Ibu yang terhormat di dunia, dicatat dalam buku harian malaikat yang akan dipertanggung-jawabkan nantinya. Aih.... sungguh berat!
ANTASARI VS NASRUDIN (atau vs penguasa dibalik tirai??) ?
Nah, mana kelanjutan beritanya ini? Ini adalah contoh pisang goreng Pontianak yang sudah dingin! Mana tuh si Rani kedi? Perasaan belum ada klarifikasi dari janda kembang itu tuh? Beritanya udah hilang aja ditelan Ibu Prita, Manohara, Alutsista dan pilpres & wapres??? Gimana toh?
Nah... demikianlah opini pribadi saya yang subjektif dan awam. Waduh, dengan membuat posting seperti ini apakah saya akan ditangkap pula seperti Ibu Prita? Hehehehe.... Yah walau pun saya belum punya anak untuk disusui, tapi tidak benar kalau saya dibui!
Sebenarnya saya juga ingin mengomentari berita pidato Obama di Kairo, tapi kan judul postingan saya "Indonesia headlines these days..." Eh, tapi kan Obama pernah tinggal di Indonesia dan punya saudara tiri separuh Indonesia jadi yah, boleh lah dibahas juga! Hehehe....
Just one thing, walk your talk Mr. Barack Hussein Obama! Jangan cuma jual omongan bush-shit (baca bullshit)seperti bush. Saya ingat beberapa saat setelah kejadian 9/11 AS mengkampanyekan bahwa mereka bersahabat dengan Islam dan warga Islam di Amerika merasa aman tinggal disana, iklannya bisa kita lihat di TV swasta Indonesia saat itu. Tapi dunia tau kenyataanya tidak. Yah, kita tunggu aja deh... I put a big hope on you for the sake of Plestine, Mr. Obama! Yuuuuk mariiii!
Showing posts with label politic. Show all posts
Showing posts with label politic. Show all posts
Tuesday, June 9, 2009
Wednesday, November 5, 2008
jangan latah...
Memangnya kenapa kalau Obama menang? Dia memang menyebutkan janji lebih baik daripada McCain untuk perang Irak, (yang seharusnya lebih direspon antusias oleh bangsa Irak) tapi tetap saja itu bukan berarti langit kembali cerah bagi umat muslim. Yang lucunya lagi, antusiasme di Irak sangat-sangat datar, beda dengan antusiasme bangsa kita sendiri. Lucu sekali!
Yang kita harusnya sadar, betapa pencucian otak kapitalisme terhadap isi kepala-kepala masyarakat bangsa kita demikian hebat sampai-sampai kemenangan seoarang calon pemimpin bangsa kapitalis (yang selalu membuat pemimpin bangsa kita seperti kerbau dicucuk hidung untuk menuruti apa pun kehendak mereka), terdengar lebih meriah daripada saat-saat pengumuman hasil pemilu 2004 lalu. Saya membuka facebook saya dan kagum akan komentar-komentar meriah teman-teman atas kemenangan Obama sebagai presiden Amerika seakan Obama itu adalah bapaknya. Apa harus begitu?
Baik Obama atau siapa pun pemimpinnya, Amerika tetaplah negara kapitalis. Siapa pun pemimpinnya pasti akan berusaha untuk mempertahankan kedudukan cakar negara gila kuasa tersebut atas seluruh dunia. Terus terang, saya memang lebih pro Obama daripada John McCain, hanya karena dia berani menjanjikan untuk mengakhiri perang Irak. Itu saja. Tapi apa pun janjinya untuk melakukan perubahan, hanyalah perubahan untuk memperkuat ke-adidaya-annya, mungkin memang lebih baik daripada sistim yang dibuat partai republik. Tapi terus apa itu berarti bangsa kita bisa lepas dari cengkraman kapitalisme??
Jadi apa perlu ikut-ikut bersuka cita untuk kemenangan salah satu kandidat pemimpin bangsa yang telah, masih, dan akan terus (paling tidak sampai mereka sudah benar-benar koleps)merusak dan meporak-porandakan negara kita secara fisik, mental, dan moral? Daripada berharap bodoh bahwa dengan terpilihnya Obama (yang memang kenyataannya pernah dibesarkan di Indonesia namun hanya empat tahun dan itu pun ketika dia masih kecil) sehingga negara kita bisa terangkat lebih baik, lebih baik sadar bahwa kita sudah benar-benar dalam pengaruh bius kapitalisme. Kenyataannya bangsa kita tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik kalau pemimpin-pemimpinnya masih tunduk patuh bak monyet topeng monyet terhadap pawangnya pada kapitalis. Dan yang lebih sedihnya lagi kalau melihat teman-teman yang lebih antusias terhadap pemilihan presiden AS daripada peduli terhadap pilpres kita sendiri tahun depan. Bukan kah kita seharusnya lebih khawatir untuk calon-calon pemimpin kita nantinya? Bisa kah kita mendapatkan pemimpin yang mampu membebaskan bangsa kita dari cengkraman kapitalis?
Yang kita harusnya sadar, betapa pencucian otak kapitalisme terhadap isi kepala-kepala masyarakat bangsa kita demikian hebat sampai-sampai kemenangan seoarang calon pemimpin bangsa kapitalis (yang selalu membuat pemimpin bangsa kita seperti kerbau dicucuk hidung untuk menuruti apa pun kehendak mereka), terdengar lebih meriah daripada saat-saat pengumuman hasil pemilu 2004 lalu. Saya membuka facebook saya dan kagum akan komentar-komentar meriah teman-teman atas kemenangan Obama sebagai presiden Amerika seakan Obama itu adalah bapaknya. Apa harus begitu?
Baik Obama atau siapa pun pemimpinnya, Amerika tetaplah negara kapitalis. Siapa pun pemimpinnya pasti akan berusaha untuk mempertahankan kedudukan cakar negara gila kuasa tersebut atas seluruh dunia. Terus terang, saya memang lebih pro Obama daripada John McCain, hanya karena dia berani menjanjikan untuk mengakhiri perang Irak. Itu saja. Tapi apa pun janjinya untuk melakukan perubahan, hanyalah perubahan untuk memperkuat ke-adidaya-annya, mungkin memang lebih baik daripada sistim yang dibuat partai republik. Tapi terus apa itu berarti bangsa kita bisa lepas dari cengkraman kapitalisme??
Jadi apa perlu ikut-ikut bersuka cita untuk kemenangan salah satu kandidat pemimpin bangsa yang telah, masih, dan akan terus (paling tidak sampai mereka sudah benar-benar koleps)merusak dan meporak-porandakan negara kita secara fisik, mental, dan moral? Daripada berharap bodoh bahwa dengan terpilihnya Obama (yang memang kenyataannya pernah dibesarkan di Indonesia namun hanya empat tahun dan itu pun ketika dia masih kecil) sehingga negara kita bisa terangkat lebih baik, lebih baik sadar bahwa kita sudah benar-benar dalam pengaruh bius kapitalisme. Kenyataannya bangsa kita tidak akan pernah bisa menjadi lebih baik kalau pemimpin-pemimpinnya masih tunduk patuh bak monyet topeng monyet terhadap pawangnya pada kapitalis. Dan yang lebih sedihnya lagi kalau melihat teman-teman yang lebih antusias terhadap pemilihan presiden AS daripada peduli terhadap pilpres kita sendiri tahun depan. Bukan kah kita seharusnya lebih khawatir untuk calon-calon pemimpin kita nantinya? Bisa kah kita mendapatkan pemimpin yang mampu membebaskan bangsa kita dari cengkraman kapitalis?
Sunday, April 13, 2008
suara dari satu sel kecil
Saya hanyalah satu sel yang tidak mampu bersuara dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hal-hal kecil yang tidak bermakna. Apa lah yang bisa saya lakukan ketika pemerintah dari negara yang kaya akan hasil alam tapi dengan penghasilan rata-rata sangat rendah dan mungkin malah salah satu dari yang terendah, dengan hutang yang tidak akan habis sampai generasi cucu-cicit yang terpaksa dipikul oleh rakyat yang mayoritas miskin, pemerintah yang seharusnya memikirkan dan menolong rakyat terutama rakyat kecil, tetapi malah mencekik leher rakyat dan menginjak perut-perut rakyat dengan harga pangan yang melambung.
Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang mereka lakukan di tempat kerja mereka yang mewah yang dibeli dari uang rakyat ketika harga kebutuhan pokok terus melonjak? Apa mereka tidak sadar kalau mereka sedang membunuh rakyat dan bangsa ini perlahan-lahan? Apa mereka lupa, siapa yang telah berjasa mendudukkan mereka di kursi panas yang mengalirkan uang dengan deras ke rekening mereka? Apa mereka benar-benar tidak tahu bahwa untuk mengalirkan uang dan memenuhi kemewahan hidup mereka, rakyat mengorbankan isi perutnya? Apa mereka tidak tahu, jangankan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak yang merupakan kaki-kaki bangsa, untuk kebutuhan makan saja rakyat kesulitan!
Bagaimana bangsa ini bisa berubah lebih baik kalau pemerintahnya telah memakan habis isi perut dan otak rakyatnya sendiri? Kenapa tidak langsung mereka bunuh saja sekalian rakyat-rakyat ini, toh mereka juga tidak peduli! Apa tempat kerja mewah, rumah mewah, kendaraan mewah, dan pelayanan-pelayanan mewah yang dianggarkan dari lambung rakyat masih kurang memadai untuk mencemerlangkan otak mereka supaya mampu memikirkan nasib rakyat?
Naudzubillahi mindzalik, summa naudzubillah! Sangat tidak pantas orang pemerintahan itu bermewah-mewah sementara mayoritas rakyatnya miskin dan sangat kesusahan. Rakyat yang menggaji dan memenuhi kebutuhan mereka! Saya tidak sudi mendoakan mereka, justru saya mengutuk orang-orang yang mengambil dan mengorbankan hak orang yang susah demi kepentingan pribadi. Mudah-mudahan Allah membalas mereka dengan setimpal. Ingat, semua kebaikan maupun kejahatan yang sebesar biji zarah pun akan diminta pertanggungjawabannya dan dibalas dengan seadil-adilnya!
Bumi Indonesia ini bukanlah negeri yang tandus. Tanah negeri kita ini subur, hasil alam kita melimpah, bahkan bangsa ini adalah penghasil minyak bumi terbesar se- Asia Tenggara. Tapi ironisnya pemerintah kita justru menjual minyak kita ke negara asing dan menaikkan harga minyak untuk rakyatnya sendiri.
Keadaan niris ini mengingatkan saya pada perlawanan Menkes, Siti Fadillah Supari, untuk mempertahankan sampel virus flu burung dari kemonopolian negara dajjal Amerika Serikat. Hanya bedanya pada kasus tersebut, virus itu dicuri dari negara kita untuk dibuat vaksinnya oleh AS dan dijual kembali ke negara kita dengan sangat mahal. Sedangkan untuk minyak bumi, pemerintah kita lah yang secara nyata-nyata selama puluhan tahun menjual minyak bumi kita ke negara asing. Meski demikian, dengan keadaan seperti ini pun seharusnya negara kita masih diuntungkan apa lagi sekarang, saat harga minyak dunia naik. Tapi kenapa keadaan justru sebaliknya? Dan malah pemerintah mau mencabut subsidi minyak tanah untuk rakyat kecil.
Demikian juga dengan minyak goreng. Bukankah negara ini adalah penghasil kelapa sawit terbesar juga? Berhektar-hektar hutan di Sumatra ditebang untuk perkebunan kelapa sawit, demikian juga di Jawa, yang pada akhirnya mengorbankan keseimbangan alam kita sendiri. Tapi kenapa harga minyak goreng kita juga naik?
Demikian juga dengan beras, demikian juga dengan kedelai. Pada saat harga pangan dunia naik seharusnya bangsa kita untung besar, dan bertambah kaya, tapi kenapa rakyat harus mengantri panjang berjam-jam untuk minyak tanah, membayar mahal untuk minyak goreng dan beras, dan tidak lagi mampu bahkan hanya untuk menghidangkan tahu tempe bagi keluarga?
Bagaimana negara ini bisa maju, oh... saya bahkan merasa tidak pantas untuk menyebut kata maju, karena nyaris terdengar seperti punguk merindukan bulan. Bagaimana negara ini bisa menjadi lebih baik, kalau untuk memenuhi kebutuhan makan saja rakyat kesulitan?
Apa sih sebenarnya yang dilakukan pemerintah itu kalau kebutuhan makan rakyat mereka sendiri pun tidak bisa dipenuhi? Apa gunanya mereka sebenarnya, sementara rakyat terus berkorban demi anggaran kebutuhan hidup mereka yang besar. Bahkan itu masih belum cukup, mereka masih juga mengeringkan isi perut rakyat dengan korupsi. Siapa yang dirugikan kalau pemerintah korup, saling suap, saling menerima hibbah? Tentu saja rakyat!!! Dan siapa yang paling merasakan akibatnya? Jelas rakyat kecil yang terlebih dahulu merasakan akibatnya, yang keadaannya semakin memburuk dan jumlahnya pun semakin bertambah.
Tapi apa yang bisa saya lakukan selain mengucap naudzubillah?
Dan kalau kita duduk bekerja dengan orang-orang pemerintahan itu, bukan lah rahasia umum lagi bahwa pegawai yang sangat jujur dan bersih adalah pegawai yang sangat-sangat aneh dan menggelikan yang harus segera disiram dengan uang kotor atau dieliminir dari jabatan. Sehingga kalau kita mau mencari pejabat yang bersih, hampir-hampir sama sulitnya seperti mencari jarum dalam jerami.
Akan jadi seperti apa bangsa kita ini kalau justru orang-orang yang memegang jabatan menganggap najis kejujuran dan kehalalan? Apa benar-benar tidak ada yang peduli diantara orang-orang yang duduk di pemerintahan itu? Apa mereka benar-benar mau membiarkan bangsa ini hancur dan musnah?
Ironis! Sementara kakek-nenek kita mengorbankan nyawa berjuang selama lebih tiga setengah abad untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan Belanda dan Jepang, tapi sekarang bangsa kita justru dijajah oleh hukum yang lemah dan pemerintahannya sendiri. Penjajah yang lebih sadis karena tidak tersentuh oleh rakyat. Tidak ada bambu runcing atau senjata yang mampu mengalahkan mereka, satu-satunya yang mampu mengalahkan adalah hukum yang tegas, tetapi itu pun telah nyata dikuasai oleh uang-uang kotor mereka.
Tahun depan bangsa kita akan kembali memilih partai serta wakil-wakil untuk duduk di pemerintahan. Tidak akan lama lagi kita akan mulai mendengarkan lagu-lagu manis yang sangat-sangat gombal dari mulut-mulut kandidat maupun anggota partai. Tapi siapa yang bisa kita percaya? Seluruh partai yang telah terpilih dan duduk di pemerintahan saat ini semuanya tidak mampu memperbaiki keadaan rakyat. Begitu duduk dan menerima jabatan, yang mereka susun pertama bukanlah anggaran untuk mengurangi harga kebutuhan pokok rakyat, bukanlah anggaran untuk memperbaiki pendidikan rakyat, kesejahteraan rakyat, tapi anggaran untuk gaji mereka, honor dan insentif, biaya kendaraan, rumah, pelayanan, kesehatan dan lainnya untuk mereka sendiri. Dan semuanya sama, baik dari pemerintahan kabupaten, propinsi, maupun negara. Pejabat taik!
Kalau keadaan bangsa kita terus-menerus seperti ini, negara kita tercinta ini tidak perlu rudal-rudal Israel laknat, atau tentara-tentara busuk AS, cukup dengan pemerintahannya sendiri serta hukum yang sudah selemah kerupuk ini saja untuk kehancurannya.
Apa lah yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan masa depan yang menjanjikan bagi anak-anak saya nanti, saya ini hanyalah satu sel kecil dari 12 juta. Paling-paling yang bisa saya kerjakan adalah menulis ini dan mempostingkan atau mengirim ke segelintir orang.
Semoga kita terhindar dari memakan apa-apa yang tidak halal, dari menganiaya dan merugikan orang banyak, dan mampu mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kita dapatkan. Walau pun hanya kita yang sadar, setidaknya masih ada orang-orang yang sadar dari bangsa ini, karena kalau seluruh bangsa ini sudah terpuruk pada dosa, Allah tidak akan segan untuk membinasakan bangsa kita tercinta ini. Semoga Allah memiliki rencana yang baik untuk masa depan kita serta generasi penerus kita. Amin!
Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang mereka lakukan di tempat kerja mereka yang mewah yang dibeli dari uang rakyat ketika harga kebutuhan pokok terus melonjak? Apa mereka tidak sadar kalau mereka sedang membunuh rakyat dan bangsa ini perlahan-lahan? Apa mereka lupa, siapa yang telah berjasa mendudukkan mereka di kursi panas yang mengalirkan uang dengan deras ke rekening mereka? Apa mereka benar-benar tidak tahu bahwa untuk mengalirkan uang dan memenuhi kemewahan hidup mereka, rakyat mengorbankan isi perutnya? Apa mereka tidak tahu, jangankan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak yang merupakan kaki-kaki bangsa, untuk kebutuhan makan saja rakyat kesulitan!
Bagaimana bangsa ini bisa berubah lebih baik kalau pemerintahnya telah memakan habis isi perut dan otak rakyatnya sendiri? Kenapa tidak langsung mereka bunuh saja sekalian rakyat-rakyat ini, toh mereka juga tidak peduli! Apa tempat kerja mewah, rumah mewah, kendaraan mewah, dan pelayanan-pelayanan mewah yang dianggarkan dari lambung rakyat masih kurang memadai untuk mencemerlangkan otak mereka supaya mampu memikirkan nasib rakyat?
Naudzubillahi mindzalik, summa naudzubillah! Sangat tidak pantas orang pemerintahan itu bermewah-mewah sementara mayoritas rakyatnya miskin dan sangat kesusahan. Rakyat yang menggaji dan memenuhi kebutuhan mereka! Saya tidak sudi mendoakan mereka, justru saya mengutuk orang-orang yang mengambil dan mengorbankan hak orang yang susah demi kepentingan pribadi. Mudah-mudahan Allah membalas mereka dengan setimpal. Ingat, semua kebaikan maupun kejahatan yang sebesar biji zarah pun akan diminta pertanggungjawabannya dan dibalas dengan seadil-adilnya!
Bumi Indonesia ini bukanlah negeri yang tandus. Tanah negeri kita ini subur, hasil alam kita melimpah, bahkan bangsa ini adalah penghasil minyak bumi terbesar se- Asia Tenggara. Tapi ironisnya pemerintah kita justru menjual minyak kita ke negara asing dan menaikkan harga minyak untuk rakyatnya sendiri.
Keadaan niris ini mengingatkan saya pada perlawanan Menkes, Siti Fadillah Supari, untuk mempertahankan sampel virus flu burung dari kemonopolian negara dajjal Amerika Serikat. Hanya bedanya pada kasus tersebut, virus itu dicuri dari negara kita untuk dibuat vaksinnya oleh AS dan dijual kembali ke negara kita dengan sangat mahal. Sedangkan untuk minyak bumi, pemerintah kita lah yang secara nyata-nyata selama puluhan tahun menjual minyak bumi kita ke negara asing. Meski demikian, dengan keadaan seperti ini pun seharusnya negara kita masih diuntungkan apa lagi sekarang, saat harga minyak dunia naik. Tapi kenapa keadaan justru sebaliknya? Dan malah pemerintah mau mencabut subsidi minyak tanah untuk rakyat kecil.
Demikian juga dengan minyak goreng. Bukankah negara ini adalah penghasil kelapa sawit terbesar juga? Berhektar-hektar hutan di Sumatra ditebang untuk perkebunan kelapa sawit, demikian juga di Jawa, yang pada akhirnya mengorbankan keseimbangan alam kita sendiri. Tapi kenapa harga minyak goreng kita juga naik?
Demikian juga dengan beras, demikian juga dengan kedelai. Pada saat harga pangan dunia naik seharusnya bangsa kita untung besar, dan bertambah kaya, tapi kenapa rakyat harus mengantri panjang berjam-jam untuk minyak tanah, membayar mahal untuk minyak goreng dan beras, dan tidak lagi mampu bahkan hanya untuk menghidangkan tahu tempe bagi keluarga?
Bagaimana negara ini bisa maju, oh... saya bahkan merasa tidak pantas untuk menyebut kata maju, karena nyaris terdengar seperti punguk merindukan bulan. Bagaimana negara ini bisa menjadi lebih baik, kalau untuk memenuhi kebutuhan makan saja rakyat kesulitan?
Apa sih sebenarnya yang dilakukan pemerintah itu kalau kebutuhan makan rakyat mereka sendiri pun tidak bisa dipenuhi? Apa gunanya mereka sebenarnya, sementara rakyat terus berkorban demi anggaran kebutuhan hidup mereka yang besar. Bahkan itu masih belum cukup, mereka masih juga mengeringkan isi perut rakyat dengan korupsi. Siapa yang dirugikan kalau pemerintah korup, saling suap, saling menerima hibbah? Tentu saja rakyat!!! Dan siapa yang paling merasakan akibatnya? Jelas rakyat kecil yang terlebih dahulu merasakan akibatnya, yang keadaannya semakin memburuk dan jumlahnya pun semakin bertambah.
Tapi apa yang bisa saya lakukan selain mengucap naudzubillah?
Dan kalau kita duduk bekerja dengan orang-orang pemerintahan itu, bukan lah rahasia umum lagi bahwa pegawai yang sangat jujur dan bersih adalah pegawai yang sangat-sangat aneh dan menggelikan yang harus segera disiram dengan uang kotor atau dieliminir dari jabatan. Sehingga kalau kita mau mencari pejabat yang bersih, hampir-hampir sama sulitnya seperti mencari jarum dalam jerami.
Akan jadi seperti apa bangsa kita ini kalau justru orang-orang yang memegang jabatan menganggap najis kejujuran dan kehalalan? Apa benar-benar tidak ada yang peduli diantara orang-orang yang duduk di pemerintahan itu? Apa mereka benar-benar mau membiarkan bangsa ini hancur dan musnah?
Ironis! Sementara kakek-nenek kita mengorbankan nyawa berjuang selama lebih tiga setengah abad untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan Belanda dan Jepang, tapi sekarang bangsa kita justru dijajah oleh hukum yang lemah dan pemerintahannya sendiri. Penjajah yang lebih sadis karena tidak tersentuh oleh rakyat. Tidak ada bambu runcing atau senjata yang mampu mengalahkan mereka, satu-satunya yang mampu mengalahkan adalah hukum yang tegas, tetapi itu pun telah nyata dikuasai oleh uang-uang kotor mereka.
Tahun depan bangsa kita akan kembali memilih partai serta wakil-wakil untuk duduk di pemerintahan. Tidak akan lama lagi kita akan mulai mendengarkan lagu-lagu manis yang sangat-sangat gombal dari mulut-mulut kandidat maupun anggota partai. Tapi siapa yang bisa kita percaya? Seluruh partai yang telah terpilih dan duduk di pemerintahan saat ini semuanya tidak mampu memperbaiki keadaan rakyat. Begitu duduk dan menerima jabatan, yang mereka susun pertama bukanlah anggaran untuk mengurangi harga kebutuhan pokok rakyat, bukanlah anggaran untuk memperbaiki pendidikan rakyat, kesejahteraan rakyat, tapi anggaran untuk gaji mereka, honor dan insentif, biaya kendaraan, rumah, pelayanan, kesehatan dan lainnya untuk mereka sendiri. Dan semuanya sama, baik dari pemerintahan kabupaten, propinsi, maupun negara. Pejabat taik!
Kalau keadaan bangsa kita terus-menerus seperti ini, negara kita tercinta ini tidak perlu rudal-rudal Israel laknat, atau tentara-tentara busuk AS, cukup dengan pemerintahannya sendiri serta hukum yang sudah selemah kerupuk ini saja untuk kehancurannya.
Apa lah yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan masa depan yang menjanjikan bagi anak-anak saya nanti, saya ini hanyalah satu sel kecil dari 12 juta. Paling-paling yang bisa saya kerjakan adalah menulis ini dan mempostingkan atau mengirim ke segelintir orang.
Semoga kita terhindar dari memakan apa-apa yang tidak halal, dari menganiaya dan merugikan orang banyak, dan mampu mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kita dapatkan. Walau pun hanya kita yang sadar, setidaknya masih ada orang-orang yang sadar dari bangsa ini, karena kalau seluruh bangsa ini sudah terpuruk pada dosa, Allah tidak akan segan untuk membinasakan bangsa kita tercinta ini. Semoga Allah memiliki rencana yang baik untuk masa depan kita serta generasi penerus kita. Amin!
Subscribe to:
Posts (Atom)