Showing posts with label a lil report. Show all posts
Showing posts with label a lil report. Show all posts

Thursday, January 12, 2012

The New Balikpapaner part. 4

Kalau sebelumnya gue bilang pengaruh besar pendatang kota Balikpapan adalah karena minyak, jadi bisa dibilang kalau mayoritas orang-orang datang ke kota ini sebagai pekerja. Ini yang bikin mata gue agak gatel dari hari-hari pertama gue pindah ke sini. Gue yang sebelumnya tinggal di Bekasi lalu pindah ke Serpong yang jauh dari pantai (walaupun Jakarta dan Tangeang itu sangat dekat dengan laut), begitu gue liat banyakkk sekali pantai di sini tapi di sia-siakan rasanya gimanaaa gitu. Hehehe...

Waktu nginap di hotel Le Grandeuruo betapa kecewanya gue kalau mereka menyia-nyiakan pantai mereka yang lumayan kece. Awalnya gue bertanya-tanya kenapa nggak ada orang yang berenang di laut, emang sih lautnya kotor, karena pasirnya itu lebih kaya lumpur kalau ketemu air, jadi lautnya keruh. Belum lagi posisi muara yang ternyata banyak sekali  bikin air lautnya jadi tambah kotor, apalagi kalau habis turun hujan besar, laut langsung berubah coklat besoknya. Tapi sebagai orang yang suka laut tapi selama ini hidup jauh dari pinggir laut, tetep jadi pertanyaan besar buat gue kenapa orang-orang di sini nggak ada yang kepikiran untuk membisniskan pantai atau laut mereka yaaak???? Buat lo yang pernah main ke Nusa Dua Bali pasti tau juga kalau pasirnya juga jenis pasir *$&#$ (gue nggak tau deh namanya jenis apa, lah pan gue bukan geologis yaaak!) yang jelas pasirnya yang bikin air laut berlumpur, laut jadi terkesan kotor. Tapi pantai mereka nggak disia-siakan sama sekali, banyak lah jasa water sport di sana: jet ski, banana boat, paralayang, halaaaah... macem-macem deeeh! Tapi kenapaaaaa nggak ada yang berbuat seperti itu di Balikpapan???? Kenapaaaaa?????? *gaya sinetron*


laut di depan Le Grandeuruo saat cuaca biasa-biasa aja



laut di depan Le Grandeuruo setelah kemarennya hujan lebat sekali: coklat!!!


Serius dah, kalau gue mejret duit gue buka bisnis pariwisata pantai deh! Aselik! Jangan salah, pantai disini lebih  bagus dari pantai Nusa Dua, pasirnya lebih putih. Macam-macam-macam (sampe 3 kali saking banyaknya) yang bisa dibisniskan hanya modal pantai kece doang, eh sama duit juga tentunya dong: segala water sport itu misalnya. Kalau pun takut nyemplung ke air, datangin kek binatang macam kuda atau onta gitu, jadiin objek wisata pantai! Nggak mau urus binatang? ATV pun asoy buat main-main di pantai!!! Oh I wish duit gue banyak, gue mau dah buka bisnis begituan.... pegimana, ada yang mau jadi investor??? Hehehe...

Itu deh yang bikin mata gue gatel. Bahkan ada satu mall disini yang belakangnya langsung laut. Bisa lo bayangkan itu? Mall yang belakangnya laut? Tapi mereka nggak manfaatin lautnya buat bisnis, resto di atas kapal gitu misalkan? Isn't mall a place for people who wants to get refreshments and spend their money??? Nah, kalau di awal postingan tadi gue bilang mayoritas penghuni kota adalah pekerja, gue rasa itu yang membuat Balikpapan lupa kalau dia juga punya potensi jadi kota wisata. Yang banyak dibangun adalah hotel-hotel, walau pun gitu tetap demand akan penginapan mereka meningkat, mayoritas tamu yang datang adalah pekerja yang punya urusan pekerjaan di sini. Tapi emangnya itu nggak bisa dibarengin jadi kesempatan untuk ngembangin wisata juga yaak??? Sometimes gue pikir kota ini sudah cukup makmur dengan rotasi uang yang di dapat dari minyak jadi mereka nggak perlu berasa repot untuk mengembangkan wisatanya, sayang ya... :(

Oh ada lagi yang pengen gue ceritain, mestinya sih gue ceritain di postingan sebelumnya tapi lupa karena saking banyaknya di kepala hehe.. Karena Balikpapan ini adalah kota pendatang, terkadang gue berasa masyarakat di sini hampir-hampir mirip mungkin dengan gaya masyarakat di Singapore atau Malaysia, mungkin??? *aselik sotoy bukan kepalang...:p* Yang gue maksud adalah diversity-nya. Dibandingkan dengan di Jakarta yang tanpa sadar udah ada garis-garis pembatas sosial such as: Kemang adalah daerah high class dan expat; daerah Kota, Glodok dan beberapa bagian  Barat adalah daerah keturunan Tionghoa; Timur adalah daerah menengah. (of course pembatas sosial itu berdasarkan penilaian gue secara pribadi dan subjektif yaaak, jadi maafkan kalo salah dan nggak terima debat!) Nah di Balikpapan ini semua merata! Lo bisa lihat mesjid di sana-sini, as much as lo lihat gereja di sana-sini. Di warung sarapan chinese food kesukaan gue itu gue pernah lihat orang keturunan Tionghoa dan bapak berparas pribumi berpeci haji duduk satu meja. Semua pendatang, semua sama. Mungkin gue salah, tapi semoga aja nggak, karena diversity yang harmoni itu nikmat bukan kepalang!

Oh satu lagi yang banyak lo temuin di sini: tempat karaoke dan pub yang hampir sama banyat bertebarannya dengan mesjid dan gereja. How come?? Tentu saja karena kebanyakan yang datang berkunjung ke kota ini adalah pekerja dengan urusan pekerjaan, dan nggak jarang pula mereka itu expat (yaak gue berasa jauuh lebih gampang ketemu orang kulit putih di sini ketimbang di Serpong), dan mereka butuh hiburan singkat yang seperti itu. Naaaah... coba deh kalau jasa wisata laut dan pantai dibuka di sini, tamu-tamu yang berkunjung untuk urusan kerja di sini kan bisa bawa keluarganya sekalian liburan gitu kaaaaaaan.... Dan mereka dapat hiburan yang lebih asoy ketimbang karaoke atau ajojing di pub doang kaaaan???

Yah gitu deh! Selamat datang di Balikpapan kota beriman; kubangun, kujaga, kubela! :))



The New Balikpapaner part.3

Ok, gue udah ngomong tentang gue and keluarga di postingan sebelumnya ya kaaaan... Nah sekarang gue mau cerita sedikit tentang kotanya. Tapi jangan protes kalau ceritanya ternyata kurang komplit atau kurang tepat karena ceritanya cuma berdasar point of view gue aja dari selama 3 minggu lebih gue tinggal di sini. Eh... udah berapa minggu sih gue tinggal di sini??

Where should I start? Hmmm... Balikpapan itu kota pendatang! Lo boleh pergi ke kota Padang dan sebagain besar orang di sana akan berbahasa Minang, lo pergi ke Jogja dan sebagian besar orang di sana berbahasa Jawa, lo pergi ke Denpasar dan mereka pun punya bahasa daerah mereka. Tapi kalau lo pergi ke Balikpapan, nggak ada bahasa daerah di sini. Di sini semua orang berbahasa Indonesia, dengan sedikit pengaruh dari Jawa dan Sulawesi. Nggak ada bahasa Balikpapan, tapi kalau dialeg Balikpapan ada. Gue pernah ke Banjarmasin, dan dialeg Banjarmasin pun kedengarannya sama. Gue beberapa kali ketemu orang Samarinda selama tinggal di hotel Le Grandeuruo, dan dialeg mereka pun sama seperti di Balikpapan. Nggak tau juga deh sejarahnya gimana.

Nggak ada yang bisa mengaku orang asli Balikpapan, setau gue ya, kecuali orang Dayak mungkin?? Tapi selama gue tinggal di Balikpapan waktu kecil dan selama gue tinggal di sini sekarang bukannya gampang ketemu orang Dayak di kota Balikpapan, mungkin ada, tapi gue nggak bisa mengenali mereka sebagai "tuan rumah" macam kalau gue ketemu orang Aceh di Banda Aceh misalnya... if you can get what I mean. Kalau suka baca berita tentang Balikpapan pun pasti pernah denger tentang perseturuan antara suku Dayak dan suku Bugis di sini bukan? Not that I'm so clear about it though... Tapi yang bisa gue simpulkan dengan jelas adalah Balikpapan kota pendatang!

Coba aja cari siapa yang lahir di Balikpapan? *tunjuk tangan* Apakah orang tuanya lahir di Balikpapan? *geleng-geleng* Ok, jangan nengok gue kali yaaak... coba deh cari keluarga atau temen yang mengaku orang Balikpapan, tanya orang tuanya lahir dimana, kalau masih di Balikpapan juga, coba tanya lagi, nenek-kakeknya lahir dimana, kalau masih di Balikpapan juga coba tanay buyutnya deh... gue bisa bilang dalam probabilitas yang besar kalau mereka pendatang. Ya kaaaan?

Ada dua hal (menurut kesotoyan gue) yang berpengaruh besar menjadikan Balikpapan ini tempat tinggal baru buat pendatang: 1. minyak, 2. program transmigrasi (yang gue rasa ada pas jaman Soeharto??). Kasus nomor satu lo bisa lihat gue sendiri aja deh. Kalau bukan karena bokap gue kerja di perusahaan minyak, rasanya nggak akan mungkin gue lahir di Balikpapan (selain karena takdir yaaaaak, puhlease deeeeh...). Dan perusahaan minyak di Balikpapan ini banyak sekali, jaman gue kecil dulu ada 3 oil company asing besar di sini. Bayangkan berapa karyawan (plus keluarga) yang didatangkan perusahaan minyak gede ini ke Balikpapan. Dan bukannya nggak mungkin kalau karyawan juga bawa kerabat berhijrah ke sini kan? Masing-masing perusaaan minyak punya perusahaan-perusahaan kontraktor yang bekerja sama dengan mereka juga disini toh? Tentunya perusahaan kontraktor itu pun mendatangkan karyawan juga ke Balikpapan toh, dengan keluarganya juga toh... Massive! Belum selesai disitu, begitu ada pertambahan penduduk disini, maka peluang pekerjaan pun makin besar kan? Which is also a magnet for people to come, right?

Untuk yang kedua, gue udah ketemu dengan salah satu peserta programnya sendiri waktu kecil dulu. Waktu tinggal di Balikpapan dulu nyokap punya ART yang cukup loyal sama keluarga gue, dia pendatang dari Jawa Tengah, tepatnya dimana gue nggak inget... kita panggil dia "si Mbok". Orang tua dan keluarga si Mbok ini tetap di Jawa, dia datang ke Balikpapan sebagai hasil upaya transmigrasi pemerintah waktu itu. Tentunya si Mbok nggak sendirian dong yaaaah.

Dari kacamata sotoy gue, rasanya bisa gue bilang kesejahteraan penduduk Balikpapan sekarang jauh lebih baik ketimbang waktu gue kecil dulu, apalagi waktu jaman awal-awal orang tua gue tinggal di sini dulu yaak. Penilaiannya dari pengamatan yang amat subjektif soal pembetong hehehe... Dulu nggak susah lhooo nyari ART di sini, tapi sekarang susaaaaah sekali! ART gue pun import dari Jawa. Waktu nginap di La Grandeuruo gue beberapa kali ngajak anak gue main sama anak-anak kampung sekitar yang suka main di pantai sore-sore, gue sering ngobrol sama mereka dan sedikit gali-gali informasi keluarga mereka... Rata-rata anak-anak yang gue tanya itu orang tuanya pegawai, ntah itu kerja di hotel, di kantor, atau ada juga yang berdagang. Kalau pas di jalan pun gue suka jelalatan cari pemukiman kumuh, dan rasanya sampe sekarang gue belum ketemu tuh. Gue nggak tau pasti pendapatan perkapita penduduk Balikpapan, bah... lo tinggal cek di wikipedia pun.. :p Tapi gue bisa bilang rata-rata penduduk di sini cukup sejahtera. Hipipip huraaa! *apa deh?*

Yang menarik lagi soal Balikpapan adalah kebersihannya. Kota ini bersih, yah sesuai sama motonya: "Balikpapan Kota Beriman", beriman stands for bersih indah dan nyaman hehehe... Kalau pas dapat kesempatan ngantar suami kerja pagi-pagi suasananya menyenangkaaaaaaaaaan sekali, di setiap simpang dan penyebrangan jalan yang rame, polisi udah siap siaga. Oh jangan salah, di persimpangan itu nggak rame macet butek macam Jakarta, simpangnya sih sepi-sepi aja, tapi tetep polisi siaga. Yang rame itu penyeberangan jalannya. Dan hampir di setiap penyebrangan jalan ada papan bertulisan: "ANDA MENYEBERANG DI SINI DILINDUNGI UULLAJ. NO.22 TAHUN 2009 PASAL132 AYAT (1) HURUF b". Eh, tadi gue kan lagi cerita soal kebersihannya kan yaak... hehe. Nah kalo pas dapat kesempatan ngantar suami pagi-pagi jam 7 udah nggak kelihatan lagi tuh petugas kebersihan kota, jalanan udah bersih siap dilewati dengan hati riang! Kalau berangkat kerjanya kaya gitu kan pekerja juga semangat yaaak.... (nyindir yang berangkat kerja jam 6 kurang untuk mulai kerja jam 8.30 disertai macet sepanjang jalan di belahan Indonesia lain :p ). Hehehehe...*songong*

pic taken from here

Eh jangan salah book... Lo tau pemulung di Balikpapan ini seperti apa? Jangan lo bayangin laki-laki atau perempuan kurus dekil beralas kaki asal-asalan yang gendong karung di bahu kanan sambil megang tongkat besi di tangan kiri... salah besarrrr! Pemulung disini adalah pengendara motor berhelem yang di belakang motornya ada dua karung bergantung siap menampung hasil pulungannya. Mereka bersih, malahan gue pernah ketemu yang berkemeja dan bersepatu kece! Sayang gue nggak foto. Tapi gue nggak bohong!!! Suerrrr! Rasanya pengen gue wawancara, pan gue juga pemulung pan hehehehhe...

Eh, kayanya cerita gue udah kepanjangan, baiknya gue sudahin dulu disini yaaaak, ntar ente bosen pulak! Jangan khawatir, gue masih cukup nyinyir dan cukup sotoy untuk cerita soal Balikpapan lagi, tapi harus gue potong dikit-dikit biar nikmeh.... apa deh! :p

Yuuuuk mareeeh...

Sunday, April 13, 2008

Gayo Lues


Gayo Lues adalah kabupaten baru dari provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang baru berdiri sendiri sejak tahun 2004. Sebelum menjadi kabupaten, kecamatan-kecamatan di Gayo Lues masih berada di bawah pemerintahan Kabupaten Aceh Tenggara. Bahkan sebelumnya lagi Aceh Tenggara masih bergabung dengan pemerintahan Aceh Tengah. Jadi Gayo Lues adalah kabupaten baru yang sudah mengalami dua kali pemekaran
Kabupaten Gayo Lues terdiri dari 12 kecamatan yaitu: Kecamatan Blangkejeren, Dabun Gelang, Rikit Gaib, Kenyaran, Blang Pegayon, Kuta Panjang, Blang Jerango, Terangon, Tripe jaya, Pintu Rime, Pinding, dan Putri Betung. Kabupaten ini dibatasi oleh Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh tenggara, Aceh Selatan serta Provinsi Sumatra Utara.



Gayo Lues adalah daerah tinggi yang dilalui oleh bukit barisan, dan salah satu gunung yang membatasinya adalah Gunung Louser yang cukup dikenal dunia karena hutannya yang menjadi salah satu paru-paru dunia, serta sebagai target taklukan para pendaki gunung nasional maupun internasional. Rata-rata ketinggian kabupaten ini adalah ±2700-3000 m dari permukaan laut. Saya dan rekan-rekan sejawat di Gayo menyebut kabupaten ini sebagai ”negeri di awan” seperti lagu Kla Project, karena memang ada desa-desanya yang hampir sejajar dengan awan.




Karena dikelilingi oleh gunung dan hutan, walaupun posisinya yang berada di tengah NAD dan dibatasi oleh empat kabupaten dari NAD, tetapi akses keluar yang umum dilalui oleh kendaraan hanyalah menuju Aceh Tengah serta Aceh Tenggara. Jarak tempuh kendaraan dari kota Blangkejeren menuju Aceh Tengah adalah 4-5 jam, sedangkan dari Blangkejeren ke Aceh Tenggara adalah 3 jam. Belum ada pesawat udara yang dapat mendarat di daerah ini, meski demikian Pemerintah Daerah (Pemda) sedang membangun landasan udara untuk pesawat kecil yang rencananya baru akan beroperasi tahun 2009.


Suku dan bahasa

Penduduk asli Gayo adalah orang-orang suku Gayo, sama seperti penduduk asli Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kalau anda datang ke Gayo dan mencoba berbicara bahasa Aceh dengan orang-orangnya, mereka tidak akan menjawab karena pada umumnya orang Gayo tidak mengerti bahasa Aceh. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Gayo yang sama sekali berbeda dengan bahasa Aceh.

Provinsi NAD sendiri adalah provinsi yang unik bagi saya. Tidak seperti provinsi di Indonesia pada umumnya yang memiliki satu suku dan satu bahasa, NAD memiliki enam suku dan enam bahasa yang berbeda, yaitu:
1. Suku Aceh dengan bahasa Aceh, yaitu penduduk dari Kabupaten Aceh Besar, Aceh Jaya, Sabang, Pidi, Aceh Utara, sebagian penduduk Aceh Barat, Aceh Selatan, Nagan Raya, dna Aceh Barat Daya
2. Suku Anak Jamu dengan bahasa Anak Jamu yang terdengar seperti bahasa Minang, yaitu bahasa dari kabupaten Simeulue, sebagian Aceh Selatan, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan Nagan
3. Suku Tamiang dengan bahasa Aceh Tamiang yang hampir seperti bahasa Melayu, bahasa dari orang-orang Aceh Timur, Aceh Tamiang
4. Suku Gayo, bahasa Gayo dari Gayo Lues, Takengon, dan Bener Meriah
5. Suku Alas, bahasa Alas dari Aceh Tenggara
6. Terakhir Singkil, dengna bahasa Pak Pak, dari penduduk Aceh Singkil yang berbatasan langsung dengan Sumatra Utara.



Potensi alam

Sebagai daerah pegunungan, Gayo Lues mempunyai lahan yang subur untuk tanaman dataran tinggi. Yang paling khas dan tidak akan saya lupa dan sering saya banggakan kepada teman-teman saya yang ada di provinsi NAD adalah pohon-pohon pinusnya. Di sini benar-benar seperti lagu naik-naik ke puncak gunung, kiri-kanan jalan itu umumnya pohon cemara. Meski begitu hasil perkebunan Gayo Lues belum sebaik Aceh Tengah maupun Aceh Tenggara, maklum saja kabupaten baru. Hasil perkebunannya antara lain: padi, bawang, cabe, tebu, jagung, kopi, nira, dan mungkin masih banyak lagi yang lain.

Sedangkan hasil alamnya yang sudah ditemukan yaitu timah dan emas, tapi emas yang ditemukan hanya sedikit sehingga tambangnya pun hanya tambang kecil-kecilan.
Gayo Lues sebenarnya masih mempunyai hasil alam lainnya yang berpotensi untuk menggemukkan PAD (Penghasilan Anggaran Daerah) serta bisa menambah lahan kerja penduduknya, antara lain pabrik kertas dari pon-pohon pinusnya, pabrik korek api, serta peternakan lebah. Sebelumnya sudah pernah ada pabrik korek api milik swasta tapi sayangnya sekarang sudah gulung tikar dan pabriknya terabaikan begitu saja. Madu dari Gayo sangat nikmat karena masih sangat alami yang berasal dari lebah pedalaman hutan dari gunung-gunungnya yang masih sangat alami. Untuk mendapatkan madu, pencarinya akan menjelajah ke pedalaman hutan dan mencari sarang-sarang lebah alami, padahal kalau dibudidayakan tentunya hasil yang didapatkan bisa lebih banyak.

Selain itu, kabupaten ini juga berpotensi sebagai daerah wisata, seperti di kawasan puncak, karena pemandangannya yang jauh melebihi keindahan puncak. Tapi untuk itu pemerintah daerah harus terlebih dulu membangun dan memperbaiki akses masuk ke kabupaten ini. Selain pemandangannya, adat dan kebudayaan Gayo yang unik pun bisa menjadi objek wisata sebagai tontonan wisatawan, antara lain tarian Saman Gayo yang katanya pernah dipertontonkan di Amerika, didong (sebuah nyanyian pantun yang dibawakan oleh beberapa regu dan dinyanyikan berbalas-balasan), tarian bineus (tarian dari perempuan-perempuan muda Gayo dengan sawer yang ditusukkan ke sanggul kepala), serta pongot yang dalam bahasa Indonesia artinya tangis yaitu ratapan dengan irama yang khas dari perempuan gayo mengenai keluarga atau kampungnya yang dapat membuat haru penonton yang mendengarkan (kalau bisa mengerti bahasanya sih). Tari dan nyanyian tadi setiap tahunnya dilombakan antara pemuda-pemudi dari berbagai kecamatan.







Setiap tahun pada bulan Agustus orang-orang dari seluruh kecamatan akan berkumpul di Blangkejeren untuk menyaksikan event tahunan yaitu pacuan kuda yang diadakan selama beberapa hari. Pacuan kuda di sini tentunya tidak seperti yang kita lihat di TV, tetapi pacuan kuda secara tradisional yang jokinya adalah anak-anak yang duduk berani di atas kuda yang berlari kencang tanpa pelana dan tali kekang.

Gayo juga mempunyai hasil karya budaya yang indah yang menjadi kebanggaan orang-orangnya yaitu kain kerawang; kain rajutan dengan motif khas adat dari paduan warna hitam, kuning, merah, hijau dan oranye. Sayangnya kain kerawang masih kurang dikenal untuk lingkup nasional sekali pun. Dan kalau pun orang mengenal kain kerawang, jarang yang tahu dari mana sebenarnya kain kerawang berasal, tidak seperti kain songket dari Minang, atau kain ulos dari Batak.

Untuk masakan adat, sampai sekarang saya belum menemukan masakan adat Gayo yang benar-benar khas kecuali cicah gayo yang merupakan sambal racikan yang menggunakan daun ketumbar. Masakan yang dimakan oleh masyarakat Gayo sehari-hari umumnya sama dengan masakan orang Aceh atau pun orang Minang.
Sekarang setelah masa kerja saya di Gayo akan segera berakhir, saya yakin akan sangat merindukan Gayo dengan pemandangannya yang luar biasa serta adat mereka yang unik. Mudah-mudahan saja Pemda Gayo mampu lebih kreatif untuk membawa keunikan adat Gayo keluar dari deretan bukit barisan sehingga bisa dikenal setidaknya dalam tingkat nasional.



Ayo, enti mera ketaringeun!

suara dari satu sel kecil

Saya hanyalah satu sel yang tidak mampu bersuara dan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hal-hal kecil yang tidak bermakna. Apa lah yang bisa saya lakukan ketika pemerintah dari negara yang kaya akan hasil alam tapi dengan penghasilan rata-rata sangat rendah dan mungkin malah salah satu dari yang terendah, dengan hutang yang tidak akan habis sampai generasi cucu-cicit yang terpaksa dipikul oleh rakyat yang mayoritas miskin, pemerintah yang seharusnya memikirkan dan menolong rakyat terutama rakyat kecil, tetapi malah mencekik leher rakyat dan menginjak perut-perut rakyat dengan harga pangan yang melambung.
Saya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang mereka lakukan di tempat kerja mereka yang mewah yang dibeli dari uang rakyat ketika harga kebutuhan pokok terus melonjak? Apa mereka tidak sadar kalau mereka sedang membunuh rakyat dan bangsa ini perlahan-lahan? Apa mereka lupa, siapa yang telah berjasa mendudukkan mereka di kursi panas yang mengalirkan uang dengan deras ke rekening mereka? Apa mereka benar-benar tidak tahu bahwa untuk mengalirkan uang dan memenuhi kemewahan hidup mereka, rakyat mengorbankan isi perutnya? Apa mereka tidak tahu, jangankan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak yang merupakan kaki-kaki bangsa, untuk kebutuhan makan saja rakyat kesulitan!
Bagaimana bangsa ini bisa berubah lebih baik kalau pemerintahnya telah memakan habis isi perut dan otak rakyatnya sendiri? Kenapa tidak langsung mereka bunuh saja sekalian rakyat-rakyat ini, toh mereka juga tidak peduli! Apa tempat kerja mewah, rumah mewah, kendaraan mewah, dan pelayanan-pelayanan mewah yang dianggarkan dari lambung rakyat masih kurang memadai untuk mencemerlangkan otak mereka supaya mampu memikirkan nasib rakyat?
Naudzubillahi mindzalik, summa naudzubillah! Sangat tidak pantas orang pemerintahan itu bermewah-mewah sementara mayoritas rakyatnya miskin dan sangat kesusahan. Rakyat yang menggaji dan memenuhi kebutuhan mereka! Saya tidak sudi mendoakan mereka, justru saya mengutuk orang-orang yang mengambil dan mengorbankan hak orang yang susah demi kepentingan pribadi. Mudah-mudahan Allah membalas mereka dengan setimpal. Ingat, semua kebaikan maupun kejahatan yang sebesar biji zarah pun akan diminta pertanggungjawabannya dan dibalas dengan seadil-adilnya!

Bumi Indonesia ini bukanlah negeri yang tandus. Tanah negeri kita ini subur, hasil alam kita melimpah, bahkan bangsa ini adalah penghasil minyak bumi terbesar se- Asia Tenggara. Tapi ironisnya pemerintah kita justru menjual minyak kita ke negara asing dan menaikkan harga minyak untuk rakyatnya sendiri.
Keadaan niris ini mengingatkan saya pada perlawanan Menkes, Siti Fadillah Supari, untuk mempertahankan sampel virus flu burung dari kemonopolian negara dajjal Amerika Serikat. Hanya bedanya pada kasus tersebut, virus itu dicuri dari negara kita untuk dibuat vaksinnya oleh AS dan dijual kembali ke negara kita dengan sangat mahal. Sedangkan untuk minyak bumi, pemerintah kita lah yang secara nyata-nyata selama puluhan tahun menjual minyak bumi kita ke negara asing. Meski demikian, dengan keadaan seperti ini pun seharusnya negara kita masih diuntungkan apa lagi sekarang, saat harga minyak dunia naik. Tapi kenapa keadaan justru sebaliknya? Dan malah pemerintah mau mencabut subsidi minyak tanah untuk rakyat kecil.
Demikian juga dengan minyak goreng. Bukankah negara ini adalah penghasil kelapa sawit terbesar juga? Berhektar-hektar hutan di Sumatra ditebang untuk perkebunan kelapa sawit, demikian juga di Jawa, yang pada akhirnya mengorbankan keseimbangan alam kita sendiri. Tapi kenapa harga minyak goreng kita juga naik?
Demikian juga dengan beras, demikian juga dengan kedelai. Pada saat harga pangan dunia naik seharusnya bangsa kita untung besar, dan bertambah kaya, tapi kenapa rakyat harus mengantri panjang berjam-jam untuk minyak tanah, membayar mahal untuk minyak goreng dan beras, dan tidak lagi mampu bahkan hanya untuk menghidangkan tahu tempe bagi keluarga?
Bagaimana negara ini bisa maju, oh... saya bahkan merasa tidak pantas untuk menyebut kata maju, karena nyaris terdengar seperti punguk merindukan bulan. Bagaimana negara ini bisa menjadi lebih baik, kalau untuk memenuhi kebutuhan makan saja rakyat kesulitan?
Apa sih sebenarnya yang dilakukan pemerintah itu kalau kebutuhan makan rakyat mereka sendiri pun tidak bisa dipenuhi? Apa gunanya mereka sebenarnya, sementara rakyat terus berkorban demi anggaran kebutuhan hidup mereka yang besar. Bahkan itu masih belum cukup, mereka masih juga mengeringkan isi perut rakyat dengan korupsi. Siapa yang dirugikan kalau pemerintah korup, saling suap, saling menerima hibbah? Tentu saja rakyat!!! Dan siapa yang paling merasakan akibatnya? Jelas rakyat kecil yang terlebih dahulu merasakan akibatnya, yang keadaannya semakin memburuk dan jumlahnya pun semakin bertambah.

Tapi apa yang bisa saya lakukan selain mengucap naudzubillah?

Dan kalau kita duduk bekerja dengan orang-orang pemerintahan itu, bukan lah rahasia umum lagi bahwa pegawai yang sangat jujur dan bersih adalah pegawai yang sangat-sangat aneh dan menggelikan yang harus segera disiram dengan uang kotor atau dieliminir dari jabatan. Sehingga kalau kita mau mencari pejabat yang bersih, hampir-hampir sama sulitnya seperti mencari jarum dalam jerami.
Akan jadi seperti apa bangsa kita ini kalau justru orang-orang yang memegang jabatan menganggap najis kejujuran dan kehalalan? Apa benar-benar tidak ada yang peduli diantara orang-orang yang duduk di pemerintahan itu? Apa mereka benar-benar mau membiarkan bangsa ini hancur dan musnah?
Ironis! Sementara kakek-nenek kita mengorbankan nyawa berjuang selama lebih tiga setengah abad untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan Belanda dan Jepang, tapi sekarang bangsa kita justru dijajah oleh hukum yang lemah dan pemerintahannya sendiri. Penjajah yang lebih sadis karena tidak tersentuh oleh rakyat. Tidak ada bambu runcing atau senjata yang mampu mengalahkan mereka, satu-satunya yang mampu mengalahkan adalah hukum yang tegas, tetapi itu pun telah nyata dikuasai oleh uang-uang kotor mereka.

Tahun depan bangsa kita akan kembali memilih partai serta wakil-wakil untuk duduk di pemerintahan. Tidak akan lama lagi kita akan mulai mendengarkan lagu-lagu manis yang sangat-sangat gombal dari mulut-mulut kandidat maupun anggota partai. Tapi siapa yang bisa kita percaya? Seluruh partai yang telah terpilih dan duduk di pemerintahan saat ini semuanya tidak mampu memperbaiki keadaan rakyat. Begitu duduk dan menerima jabatan, yang mereka susun pertama bukanlah anggaran untuk mengurangi harga kebutuhan pokok rakyat, bukanlah anggaran untuk memperbaiki pendidikan rakyat, kesejahteraan rakyat, tapi anggaran untuk gaji mereka, honor dan insentif, biaya kendaraan, rumah, pelayanan, kesehatan dan lainnya untuk mereka sendiri. Dan semuanya sama, baik dari pemerintahan kabupaten, propinsi, maupun negara. Pejabat taik!
Kalau keadaan bangsa kita terus-menerus seperti ini, negara kita tercinta ini tidak perlu rudal-rudal Israel laknat, atau tentara-tentara busuk AS, cukup dengan pemerintahannya sendiri serta hukum yang sudah selemah kerupuk ini saja untuk kehancurannya.
Apa lah yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan masa depan yang menjanjikan bagi anak-anak saya nanti, saya ini hanyalah satu sel kecil dari 12 juta. Paling-paling yang bisa saya kerjakan adalah menulis ini dan mempostingkan atau mengirim ke segelintir orang.
Semoga kita terhindar dari memakan apa-apa yang tidak halal, dari menganiaya dan merugikan orang banyak, dan mampu mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah kita dapatkan. Walau pun hanya kita yang sadar, setidaknya masih ada orang-orang yang sadar dari bangsa ini, karena kalau seluruh bangsa ini sudah terpuruk pada dosa, Allah tidak akan segan untuk membinasakan bangsa kita tercinta ini. Semoga Allah memiliki rencana yang baik untuk masa depan kita serta generasi penerus kita. Amin!

Tuesday, March 20, 2007

souvenir from west sumatra


Yaaak... setelah seminggu lebih di sumatra barat... peri gigi membawa oleh2 foto hasil gempa! Bisa dilihat di http://diana-saib.blogs.friendster.com/my_life/

Males euy mau ng'upload ulang!


Jadi dimulai dari hari pertama which was Saturday, touched down Padang, langsung naik mobil temen bokap ke solok. Searching the closest village to earthquake center. Sampai di lokasi sekitar jam 4 sore kalo ngak salah ya?!

Uuuw, so sad the view that I saw there. I kinda cried a little too. Just imagine if it happen with my family, people I love so much.... what if it happen to my nephews...fuuuh! I can't hold my tears!

Then finally finished around 9 PM. Go straight to my uncle's hause at Bukit Tinggi, numpang nginap! Slept for few hours only, then go travelling again to search other village that got more victims: Ngarai sianok, koto gadang, sungai tanang, tanah datar, simawang, payakumbuah, padang panjang, baso, end up in koto tuo....circling gunung Marapi. I didn't feel tire at all, I love travelling to places that still have beautiful nature. Love nature a lot!


Then, kembali ke bukit tinggi around 10 PM, go to my uncle's house from my mom's side. Then My aunt from Sawahlunto insist to take me to Sawahlunto at the same nite, no matter what time it was hehehe... So I travelled again to Sawah lunto for 2 hours, and arrived at almost 1 AM.. So tired, but hang out with family is more excited! Had a chat a lil bit, watched movie until 2 AM untill my eyes couldn't stand anymore longer, so then I rested my body in bed. Tapi seperti biasa, segimana ngantuknya mata, begitu badan ini jatuh di atas kasur, ngantuk pun hilang! Insomnia sialan!


The next day I got nothing to do. Just hang out in the center of the city, tried to find signal. Somehow my provider can't get good signal in some part of sawahlunto. Amusing my self a little with cousin in the city park. It's a ville actually, say it small ville! But it has a center park, good enough to take children to play. Hanged out there until maghrib. Hoping someone text me hehehe.... but none! yaaaaaaak! Then hanged out with cousin and aunty until morning.. time goes slow there. I love it!


Ih capek euy cerita hidup selama seminggu hehehe... Intinya mah begitu aja lah... Oh, intinya adalah... peri gigi tambah item dan naik 2 kilo begitu pulang dari Sumatra. Tapi anehnya, temen2 peri gigi malah bilang peri gigi terlihat kurus! lha..?? hehehehe.... Yaaaaaak! Oh... and jadi jerawatan pula! Yang anehnya baru bermunculan sehari sebelum pulang! Padahal selama jalan2 di sumbar beberapa hari dengan mobil tanpa AC yang terpaksa harus membuka kaca lebar2 untuk mendapatkan udara segar, gak satu pun jerawat berani tampil... Yaaaaaaaaak!


Will go back to Sumatra in closing time, insyaAllah!