Showing posts with label dive. Show all posts
Showing posts with label dive. Show all posts

Friday, April 5, 2013

Scubadive and Freedive Gili

celebrating our 4th anniv under the sea  :)




Setelah memutuskan untuk pergi ke Lombok dan Gili Trawangan sebagai tujuan dive trip berikutnya, nggak sengaja gue ketemu freedive course di Trawangan melalui tripadvisor.com. Udah lumayan lama sebenarnya gue cukup penasaran sama freedive. Oh ya, buat yang nggak tau apa itu freedive, freedive adalah teknik menyelam tanpa menggunakan compressed  air atau alat pernapasan apa pun, dan sang diver hanya menggunakan wetsuit, weight belt, goggle dan fin.


Pertama kali gue kenal freedive adalah waktu ambil open water di Bunaken, pas lagi duduk-duduk di depan TV hotel dan tayangan yang ada di TV waktu itu adalah film dokumenter yang menampilkan freediver yang meliuk-liuk bebas di kedalaman laut tanpa tabung oksigen, asik berenang sama binatang-binatang di bawah laut. Nggak cuma gue yang lagi duduk di depan TV waktu itu, Billy dan dua tamu asing yang juga penyelam dan beberapa kali sempat nyelam bareng selama di Bunaken juga ikut nonton dokumenter itu. Tanpa paham apa yang sebenarnya dikerjakan oleh sang penyelam di TV sambil takjub dengan kemampuan dia menahan nafas di dalam air, sambil mencoba mencerna dengan ilmu super cetek yang baru aja didapat dari kursus open water bahwa kita dilarang menahan nafas di dalam laut, salah satu tamu asing nyeletuk sambil ambil posisi untuk mulai nimbrung nonton "freediving, huh?".

Ooooooh....freediving! Gue perhatiin nggak cuma ujung bibir gue doang yang keangkat nonton dokumenter itu, dua tamu asing tadi juga senyum ngeliat asiknya sang freediver macam nari di bawah air.

Begitu gue lihat ada kursus freedive di Gili Trawangan, gue iseng-iseng propose ke Billy, siapa tau aja dia juga berminat. Ternyata memang berminat.. hehehe... Tapi sebenarnya kita nggak langsung serta-merta mendaftar untuk kursus sih. Pertimbangannya waktu itu adalah, kalau ambil kursus freedive berarti kesempatan kita untuk memperbanyak divelog berkurang. Tapi kalau nggak ambil sekarang, nggak tau lagi dimana destinasi diving yang ada kursus freedive yang bisa ditempuh dalam jarak dekat, mumpung lagi ke Gili Trawangan juga kan nih. Jadi akhirnya diputuskan lah untuk mendaftar kursus freedive, gue dan Billy. :)

Selain daftar untuk kursus freedive, Billy juga ambil sertifikasi untuk deep dive specialty selama di Trawangan. Sementara gue, untuk pertama kalinya dive trip kali ini benar-benar full fun dive. Rencana pun kita siapin matang sejak dari Balikpapan. Enam hari lima malam di Trawangan: dua hari pertama adalah untuk deep dive specialty Billy dan fundive buat gue, dua hari berikutnya untuk freedive course, dan dua hari terakhir untuk fun dive. Total dive untuk masing-masing menurut target rencana awal delapan dive. Untuk dive operator dan course, Billy milih Gili Scuba, dive operator yang terdekat dari hotel dan terpikat dengan iklannya di website yang katanya dijalankan 100% oleh local people, dan anti mickey mouse divemaster yang maksudnya dive guide yang padahal nggak punya sertifikasi divemaster. :)

Tanpa menunda tentunya begitu sampai di Trawangan dan setelah duduk sebentar di hotel, Billy langsung datang ke Gili Scuba untuk confirm bahwa kita akan dive siang itu dan Billy akan mulai ambil kursus deep divenya. Tapi begitu kita siap untuk diving, ternyata sang instruktur bukan orang Indonesia hahahha... gimana deh iklannya? Sang instruktur bernama Jordy, laki-laki Spanyol bertato yang kelihatannya muda tapi kalau dengar ceritanya yang udah pernah kerja dimana-mana dan sempat ikutan semacam US navy (dont ask, I don't really get it eaither) di tahun 90an, gue dan Billy memperkirakan dia mungkin sekitar 30an akhir atau awal 40? By request, selama Billy diving untuk deep dive specialty-nya gue akan ngekorin dia dan sang instructor buat fun dive, nggak masalah karena gue pun udah punya deep dive certification.

Tapi cara kursus deep dive-nya Billy beda sama cara gue dulu. Seingat gue dulu waktu ambill deep dive, sebelum mulai kursus gue udah dikasih buku supaya bisa belajar, teori dan praktek dikerjain bertahap beriringan, dan ada beberapa skill yang kita coba di laut, trus ditutup dengan knowledge review di akhir course. Tapi sama Jordy ini meuni santai pisan hehehe... Nggak ada skill di bawah laut, satu-satunya skill yang dikerjain cuma nyoba naikin sosis (pelampung panjang dengan tulisan "diver below") di akhir dive sebelum safety stop. Nggak ada dive sampai ke kedalaman mendekati 40 m, atau bawa botol plastik ke dalam air, atau menghitung matematika ringan di kedalaman, atau bawa tomat, atau nyoba nafas dari regulator buddy seolah-olah kehabisan oksigen, atau coba nafas dari tangki oksigen cadangan yang disiapin di kedalaman  di atas 10 meter. Semua divenya macam fun dive dengan rata-rata kedalaman 20-25 meter. Oh ya, FYI sertifikasi deepdive ini memperbolehkan diver untuk menyelam di kedalaman sampai 40 meter, 10 meter lebih dalam dari yang boleh dilakukan oleh advance open water diver. Billy pun baru dapat buku setelah keempat dive-nya selesai (deep dive course perlu 4 dive) hehehehe... Sampe sempet bingung sendiri si  Billy. Tapi tetap akhirnya  ditutup dengan knowledge review, jadi tetap harus belajar doi.

Walau pun gaya orang dari Gili Scuba ini terlihat santai, tapi mereka semua ramah-ramah kok. Cuma sayangnya by default mereka hanya punya jadwal dua kali dive tiap harinya untuk boat dive. Karena punya pengalaman diving ciamik di Tulamben dimana sang dive guidenya siap kapan aja bisa diajak nyemplung, mau jam enam pagi sekali pun (plus sang guide meuni tangkas pisan dipermukaan tapi selooooooooooow di bawah laut, dan cukupteliti untuk objek macro... hadeuh jadi kangen ke Tulamben), kita berharap untuk bisa seperti itu juga di Trawangan, bukan untuk skill dive guide-nya, tapi fleksibilitas jam divingnya. Tapi untungnya mereka mau juga diajak diving pagi walau pun bukan dawn dive karena turunnya jam 8an juga hehehehe....

Sempet ada moment dimana gue kurang puas di awal. Setelah Billy selesai semua dive untuk deep dive specialty-nya, dive selanjutnya nggak lagi ditemenin sama Jordy tentunya, tapi sama divemaster. Selama diving bareng Gili Scuba, gue amatin bahwa mereka punya dua instructor (yang keduanya bule, satu Jordy dan satu lagi cewe bule mungil tapi tangkas banget dari Jerman), dan dua divemaster. Salah satu dari dua divemaster ini sempat ikut bareng gue, Billy dan Jordy karena ada site yang Jordy belum hafal banget kondisinya. Dive master yang gue maksud ini kayanya cukup santai di bawah air, jadi menyenangkan. Di fun dive berikutnya kita berharap ditemenin sama divemaster yang ini, anggap aja namanya A. Tapi sayang, di dive pagi (pagi sesuai jadwal defaultnya mereka, which is at ten-ish) si divemaster A nggak datang, jadilah kita ditemani sama divemaster yang satu lagi, divemaster B. Padahal pagi itu tamunya nggak cuma gue dan billy, tapi ada dua diver cewe asal Malaysia, dan satu diver cewe (yang ngaku party girl) asal Finland. Melihat cara si divemaster B ngasih briefing di kapal, cek arus di bawah (yang baru dikerjain pada saat semua diver udah siap backroll dari kapal) dan lainnya, gue sempet suudzon sama si divemaster B dengan berpikir kalau dia divemaster mickey mouse.

Si divemaster B ini di bawah laut meuni nggak santai, bukan juga berarti dia melaju sendiri, tapi dia nyaris nggak ngasih kesempatan kita untuk berhenti untuk lihat-lihat apa yang ada di sekitar untuk lebih teliti lihat kanan kiri. Dia juga sempat bawa kita berenang melawan arus, dan gue udah mulai bete. Tapi diakhir dive ternyata dia bawa kita ke tempat white tip sharks tidur siang, dan kita ketemu sama empat white tip sharks besar.... happy! Buat yang pengen tau, nama dive sitenya Manta point. As the dive master said, cuma namanya aja manta point, but manta is rarely found, but white tip sharks is almost certain to be found instead.

Di lain kesempatan, di dive kita di hari terakhir di Trawangan, kita request untuk dive pagi karena jam 11 udah harus check out dari hotel dan antri untuk nyebrang. Kayanya si divemaster A selalu punya masalah untuk datang pagi, jadilah pagi itu kita ditemanin kembali sama divemaster B, shore dive, karena perahu hanya bisa kalau sesuai jadwal defaultmereka. Gue dan Billy nggak keberatan untuk shoredive, any kind of dive is fine for us. Tapi ternyata setelah masuk ke dalam dan nyelam beberapa saat, tiba-tiba arusnya kencang sekali. Seumur-umur kayanya itu arus yang paling kencang yang pernah gue alamin, pengalaman arus di Shangyang yang bikin rombongan terpisah-pisah rasanya masih kalah sama kencangnya arus kali ini. Di satu kesempatan, di akhir dive gw sempet pegangan sama tali tambang, di daerah situ banyak tali tambang untuk ikat kapal yang mau "parkir", saking kuatnya arus gue biarin badan dan fin gue kedorong arus ke belakang sambil terus pegangan sama tali. Karena mulai bahu sampai kaki "ketiup" arus jadi terpaksa muka gue menghadap arus yang kencang, rasanya kaya ditiup kuat-kuat sama makhluk super besar persis di depan muka hehehehe....

Tapi karena kita shore dive, dan lokasi kita nggak jauh dari pulau, arus kencang kaya gitu alhamdulillah nggak bikin gue dan Billy jiper atau panik. Dan walaupun arus kencang, diantara jeda saat arus reda sempat ambil foto-foto yang lumayan. Di dive kali itu divemaster B lebih teliti untuk cari objek foto ketimbang sebelumnya. Dan di akhir dive pada saat gue pegangan sama tali tambang tadi, tau-tau Billy hilang hehehehe.... Si divemaster sempat ngasih sinyal nanya dimana Billy, tapi nggak gue acuhin karena tangan gue sibuk pegangan sama tali. Lagian gue yakin Billy udah naik ke permukaan duluan, dan kedalaman kita saat itu juga cuma enam meter, so I'm pretty sure he'll be fine. Sebelum naik ke permukaan sang divemaster sempet keluarin gelembung dari reguator untuk kasih tanda ke Billy, dan benar aja kan ternyata Billy udah naik ke permukaan duluan. Rupanya disaat arus kencang banget yang terakhir, Billy nggak sempat pegangan sama tali tambang, sementara finnya nyaris lepas karena ketiup arus. Karena khawatir finnya lepas dan hilang, sementara nggak ada pegangan kemana-mana, dan menurut divecomnya dia udah lewatin safety stop (karena lebih boros oksigen, Billy seringnya ambil posisi lebih tinggi dari gue, jadi saat gue masih di bawah 6 meter, dia udah dapat safety stop duluan), Billy memutuskan untuk naik ke permukaan duluan.

Di lain dive, sempet juga kita ditemenin sama divemaster A. Kalau divemaster A ini lebih santai di bawah air, dan cukup teliti. Sama dia kita sempet ketemu pygmi seahorse tapi sayang fotonya nggak ada yang bagus. Dan dia juga sempat nunjukin kita leaf fish, kalau nggak dikasih tau gue nggak akan nyadar kalau itu ikan hehehe...

Overall, diving di Trawangan lumayan memuaskan, terlepas dari beberapa kekurangan pelayanan dari dive operator dan kondisi terumbu di sekitar Gili mulai banyak yang rusak. Banyak sekali turtle, pernah begitu masuk ke air kita langsung disambut sama dua green turtle besar. Hampir di setiap dive ketemu turtle. Di beberapa dive kita juga sering ketemu cuttle fish, sampe puas motoin cuttlefish. Octopus juga nggak susah ditemuin. Pernah sekali saat Billy yang pegang kamera gue tunggu dia puas-puasin motoin octopus yang sama sekali nggak merasa terganggu dan nggak mau beranjak dari tempatnya. Setelah Billy selesai, gue penasaran dan berharap si binatang cerdas itu juga penasaran sama gue trus keluar dari tempatnya tanpa merasa terancam. Eh tapi setelah beberapa saat nongkrongin di depan sarang octopus, tiba-tiba warnanya berubah jadi merah, yang setau gue itu tandanya dia lagi marah.... hahahaha... ya udah deh minggat, maaf ya octopus. Di lain kesempatan sempat juga ketemu sama sejenis puffer fish (gue nggak tau namanya) yang ukurannya sebesar betis dewasa, yang nggak merasa terganggu sama gue dan sempat berenang beberapa meter bareng-bareng di atas gue. Sayang, waktu itu kamera juga lagi dipegang Billy, dan posisinya ada kira 5-6 meter di depan. Daripada repot-repot manggil Billy dan takut ikannya malah kabur, mending menikmati berenang bareng sang ikan. Bisa gue liat sesekali matanya ngelirik ke bawah ke arah gue, sambil khawatir dia jadi takut trus kabur, tapi ternyata dia anteng aja tuh. Kemungkinannya sih ada dua, atau dia sebenernya nggak liat gue yang ada di bawahnya, atau dia emang nggak terganggu hehehe... Tapi di dive terakhir waktu shore dive bareng divemaster B, gue ketemu lagi sama ikan itu dan sempat gue foto, memang itu di dive site yang sama.

Cerita gue udah kepanjangan kayanya... gue cerita soal freedivenya di postingan berikutnya aja deh yaaak. In the meanwhile, enjoy our pics.



the octopus yang nggak terganggu difoto sama Billy, tapi begitu gue tongkrongin sebentar eh dia jadi merah... ehehhe
juvenile box fish

begitu mau ascen eh ada dua turtle berdekatan, foto dulu deh sebelum naik


white tip shark lagi bobo siang di Manta point, cuma segini jarak yang gue berani, takut dianya kabur atau tiba-tiba jadi agresif keganggu :)



ini difoto waktu lagi snorkelling, bentuk coralnya macam giant sofa

salah satu foto yang di dapat pada saat jeda arus kencang

green turtle again :)

cuttlefish ini anteng aja di sini waktu difotoin, mungkin dia sebenernya lagi sembunyiin telornya ya? Tapi gue nggak berani terlalu maju, takut dia keganggu

ini dia ikan yang sempet berenang bareng gue beberapa meter. Ternyata masih berjodoh, ketemu lagi di dive terakhir buat difoto
scorpion fish

leaf fish, nggak noticed kalo ini ikan sebelum ditunjukkin

bounty wreck

grumpy stone fish ;)


nudibranch

mantis shrimp

arusnya bikin anemonnya jadi spiky. :p

nemo
moray eel
sempet foto ini di dive terakhir pas arus lagi kencang gila dan Billy udah ngilang duluan, but I get one new lesson, bahwa sembunyi di balik coral ternyata salah satu cara melindungi dari arus yang gila... maklum lah, belum ambil drift dive specialty. :)


Monday, April 1, 2013

Lombok & Gili Trawangan



Udah beberapa bulan sejak gue dan suami terakhir nyelam, dan setelah bolak-balik ngelirik kalender akhirnya kita memutuskan bulan Maret untuk jadi bulan dimana kita perlu ngebasahin dive gears lagi.

Destination: Gili Trawangan.

Goals: to enrich our dive log (of course), ajak anak jalan-jalan, and since there is a freedive course at Gili Trawangan maka kita memutuskan buat daftar kursus freedive juga.

Penerbangan: Balikpapan - Surabaya - Mataram. Dapat tiket promo pula dari Citilink seharga Rp.180.000 untuk satu penerbangan per orang, jadi per orang tiketnya Rp.720.000 pp Balikpapan - Mataram. Cihuy!

Itinirary:
  • 13 Maret, 10.30WITA terbang ke Surabaya dan lanjut pesawat 14.30WIB ke Mataram. Nginep satu malam di Senggigi. 
  • 14 Maret berangkat pagi-pagi ke Bangsal untuk naik kapal menuju Gili Trawangan. 
  • 14-19 Maret nginep di Trawangan 6 hari 5 malam untuk diving, freediving, main-main, etc...
  • 19 Maret nyebrang lagi ke Lombok dan nginep satu malam di Senggigi
  • 20 Maret naik pesawat sore ke Surabaya
  • 21 Maret pagi terbang dari Surabaya kembali ke Balikpapan.
Demikian... ih panjang ya preambule-nya!

Pada saat kita sampai Senggigi pertama udah keburu malam jadi begitu sampe langsung makan, mandi, tidur. Nginepnya di Sunset House, hotelnya lumayan, isinya bule-bule aje, nggak banyak yang sempet dilihat waktu datang pertama, kita pesan kamar superior beach front buat bertiga, dan kamar standar buat si mbak. Cuma sayangnya di kamar tempat kita tidur pas di atap di atas kasur sisi kiri ada rayap yang gerogoti atap triplek, jadi ada serbuk-serbuk hasil rayap jatoh ke tempat tidur dan lantai. Tapi nggak bikin gatal-gatal atau apa siih.

pantai Senggigi, di depan hotel

superior beach front, Sunset House Senggigi


Besok paginya sempat ngintip pantai Senggigi yang pasirnya hitam sekejap sambil sarapan. Lautnya tenang, suasananya macam asoy buat males-malesan, tapi kita nggak sempet males-malesan doooong... langsung cuuus berangkat menuju Bangsal untuk naik kapal ke Trawangan. Untuk menuju Bangsal ini kita naik taksi Bluebird yang supirnya baiiik banget. Kita sempet berhenti sekali atas tawaran pak supir untuk ambil foto di tempat yang lautnya keliatan ajiiib. Tapi jalannya cukup ngebut untuk jalan yang belok-belok, anak gue yang nggak biasa duduk di belakang tanpa duduk di carseat tanpa dipangku dan tanpa lihat jalan akhirnya terpaksa ngeluarin separoh menu sarapan. Akhirnya berhenti lagi deh buat bersih-bersih. Entah karena mungkin kita akhirnya kesiangan atau supaya jarak tempuh darat lebih deket, pak supir ngusulin untuk coba naik kapal dari Teluk Nara, nggak perlu sampai ke Bangsal. Usulan diterima sama pak suami. Setelah tawa-menawar sama yang bawa kapal alias pak kapten, akhirnya kita nyebrang ke Gili Trawangan dengan kapal charter Rp. 250.000 untuk gue, Billy, Izan, dan si mbak.


a friend just remind me that the place's name is Malimbu
pak supir taksi sempet nawarin berhenti di pinggir jalan dengan pemandangan yang aduhai buat foto-foto. Lautnya beniiing, gue bisa liat siluet dasar laut dari tempat gue berdiri...

minta tolong si mbak motoin...  yaaah... nama pun bukan fotografer :p

Kita sebenarnya udah mempersiapkan bawaan dengan nggak bawa koper. Kita semua pake tas carrier besar, kecuali Izan. Jatahnya Billy adalah bawa carrier 80L dan tas dive gear yang beratnya minta ampun, jatah gue bawa tas carrier 60L dan satu ransel kekenyangan juga tas kamera, jatah si mbak bawa carrier 40L dan satu ransel yang juga kekenyangan sekaligus megangin anak. Kenapa kita nggak bawa koper, karena khawatir ribet pada saat naik turun kapal dan geret-geret koper di pulau. (Walopun ternyata ada juga kok bule babeh-babeh yang geret koper di Terawangan... :p) Dengan gagah perwira kita jalan sekitar 100 meter menuju hotel yang udah dipesan. Padahal sih bisa aja deh naik delman, tapi pak suami pede aja gitu mau jalan kaki, katanya deket. Dan memang kebeneran sepanjang perjalanan menuju hotel ga ada delman lewat yang kosong jadi yah terus aja jalan, yang teler ya pak suami sendiri karena bawaannya berat naujubileee.... hehehehe... Kasian Billy, akhirnya gue jalan cepet-cepet menuju hotel supaya petugas hotel bisa tolongin bawain tas dive gear.

nunggu kapal dirapatin ke pantai di Teluk Nara.

yoook, nyebraaaang...

Hotel yang udah dibooking atas kesepakatan bersama setelah bolak-balik nyari penginapan di agoda.com dan tripadvisor.com adalah Samba Villas, posisinya di timur-sedikit ke utara pulau Trawangan. Gue sama Billy sepakat untuk nyari penginapan di sebelah utara pulau yang jauh dari hingar-bingar night life-nya, tapi nggak juga terpencil dari mana-mana. Plus, kita juga nyari penginapan yang pantainya ok buat ajak anak snorkelling, konon bagian utara paling strategis buat itu. Kita juga udah bikin jadwal and list activity yang bakalan kita lakuin sama Izan. Kan ini liburan keluarga kaaaan... jangan sampe gue and Billy keasikan nyemplung anak malah nggak nikmatin apa-apa.


Samba Villas (pic taken from the web)



Begitu ngeliat bagian luar hotel, gue cukup puas. Waktu itu mereka baru aja mulai bangun semacam teras di tingkat dua... aduh gue agak susah deh deskripsiinnya... jangan bayangin tingkat dua dari bangunan utama tapi semacam tingkat dua dari gapura depan yang cukup besar gitu. Intinya walaupun mereka lagi ditengah pembangunan, tapi gw masih bisa bilang hotelnya kece gitu deh. Sepanjang perjalanan menuju hotel gue ngeliat beberapa penginapan yang udah gue intip bolak-balik di agoda.com, kesimpulan gue adalah; itu para fotografer hotel pada jago-jago pisan motretnya! Nah, lain soal Samba Villas, aslinya tidak mengecewakan lah.

Si manager hotel pun baik, namanya pak Ank, dia mau bantu nyariin penginapan kelas backpack yang terdekat dari hotel buat si mbak. Jadi begitu kita datang semua kamar udah siap. Billy booking kamar deluxe dengan extra bed. Yaaaah nggak gede-gede amat sih kamarnya, karena ada extra bed tergeletak pula, tapi gue masih bisa bayangin anak gue main di sana deh selama gue and Billy ke laut. Tapi sayangnya AC-nya nggak dingin dan setelah nunggu beberapa lama tetap aja nggak dingin. Akhirnya gue minta Billy untuk minta tolong petugas hotel untuk cek AC kamar atau pindah kamar sekalian. Siang itu juga gue berencana nyelam sama Billy, dan kita akan ninggalin Izan istirahat di kamar, nggak mungkin gue ninggalin anak gue di kamar yang AC-nya nggak jalan sementara udara di luar panaaasss luar biasa. Sebelum berangkat shalat Zuhur ke mesjid Billy ngomong sama Pak Ank untuk cek AC kamar, kalau nggak bisa diperbaiki kita minta pindah ke kamar yang sejenis atau kalau nggak ada kita nggak keberatan untuk upgrade kamar. Selama Billy shalat memang ada petugas yang datang dan cek ACnya, tapi AC-nya tetep panasssss..... Setelah Billy pulang shalat Jumat ternyata Pak Ank memutuskan kita untuk pindah kamar ke Family Suite yang jauh lebih besar tanpa perlu menambah biaya dari kamar sebelumnya. Manteeeep!

family suite samba villas, (pic taken from the web)

Langsung deh Izan sigap dipindahin ke kamar baru biar bisa bobo siang, sementara gue and Billy langsung siap-siap nyelam. Urusan nyelam bakalan gue ceritain di postingan lain yeee biar nggak kepanjangan. Begitu pulang nyelam gue sama Billy buru-buru mindahin barang-barang dari kamar deluxe ke kamar baru. Mereka juga nggak keberatan kalau kita nggak buru-buru beresin barang kita loooh, tapi ditinggal ke laut dulu. Kamar family suite ini jauh lebih gede, nama pun suite! Kamar ini defaultnya buat empat orang, isinya ada satu bed besar dan dua single beds, ruang tamu kecil buat nonton TV, kamar mandi dengan atap yang kebuka pas bagian shower, dan teras yang ada sofa dan meja yang udah disediain pemanas air, empat cangkir, teh, kopi dan gula. Oh ya, rata-rata penginapan di Gili punya DVD player jadi kita pun udah bawa bekal setumpuk DVD kesukaan anak supaya dia nggak bosan pas ditinggal ke laut hehehe... Dan Samba Villas juga punya fasilitas TV parabola, yaaah dapet lah anak gue chanel TV Nickelodeon dengan bahasa Urdu hehehe... Makin tenang deh ninggalin Izan di kamar buat nyemplung.

Setelah nyelam dan Izan udah bangun, kita ngerasa Izan juga berhak senang-senang hari itu juga, macam kita berdua yang udah duluan senang-senang di laut. Pilihan aktivitas untuk Izan sore itu bisa jalan-jalan naik sepeda atau naik delman. Kaliiii aja ada yang belum tau, ada 3 benda yang nggak akan bisa lo temuin di Gili: mobil, motor dan anjing. Jadi di Gili kemana-mana orang jalan kaki atau naik sepeda atau naik delman. Karena kita berencana ngambil kursus freedive yang tempatnya sekitar 200 meter dari penginapan, kayanya lebih asoy kalo kita sewa sepeda, satu buat gue dan satu buat Billy yang ada tempat duduk anak di belakangnya. Setelah berhasil ngebujuk Izan untuk cancel naik delmannya ke besok dan diganti dengan jalan-jalan naik sepeda (padahal tadinya udah keburu menjanjikan bakalan langsung naik delman begitu sampe Trawangan :p), akhirnya kita sendiri juga yang nggak tega dan memutuskan keliling pulau naik delman sore itu juga, tentunya disambut dengan sumringah sama si juragan kecil.

Biaya keliling pulau naik delman itu udah fix dan dipatok sama kooperasi sana sebesar Rp.125.000. Ternyata naik delman lebih capek dari main di laut! Hehehehe.... gimana nggak, jalannya off-road sementara anak gue kekeuh pengen duduk samping pak kusir biar mirip lagu, sementara di samping pak kusir ga ada senderan dan nggak ada pintu. Jadilah gue duduk sambil nahan badan yang goyang-goyang gara-gara delman off-road sambil megangin anak gue supaya aman. Capek loooooh... gue pun akhirnya gantian sama suami buat megangin anak! Anak gue juga akhirnya capek sendiri juga, setelahnya kalo ditawarin naik delman dia lebih milih main pasir atau naik sepeda. Hahahaha....

Hari-hari berikutnya selama di Terawangan  kita isi dengan aktivitas yang lebih kurang sama, pagi dan siangnya gue melaut sama Billy, sebelum berangkat kadang Izan main di pantai dulu sama si mbak, abis itu makan siang di hotel sama Izan, sorenya main-main sama Izan ntah itu main di pantai, berenang di laut, berkuda atau jalan-jalan naik sepeda.

to be continue...





Tuesday, June 26, 2012

Tulamben Is Paradise For Diver Parents!

Tulamben is famous among divers for its US Liberty ship wreck. Some even say that it's one of the best wreck in the world. Me and husband have dived here several times, but we used to stay at Amed. Due to our short period for staying at Bali, this time we chose to stay at Tulamben. People do shore dive at Tulamben, and there are so many hotels that offer sea-view-rooms that are only few steps away from the sea. It's actually a perfect place to dive for parents who don't like to leave their child too long. :)

As parents, we always plan our dive trip to places that are baby or toddler friendly. The place should be easy to reach for our two years old son. Places that need to be reached by speed boat or little boat for hours are not on the list. And, as parents who are both love to dive, we need to bring our maid for babysitting our child while we dive, so places that can be reached with cheaper transport would be our preference. Tulamben is one of the lists, for sure! And, since we're doing shore dive here, so we only need to leave our son just when we're diving. We can even play with the child during our surface interval!

The real plan actually was to dive at Gili Trawangan, and husband will take some days off. But since he suddenly needs to go for some meeting at Jakarta on the dates that we have reserved at Gili Terawangan, so we had to cancel and change the plan. Husband got a training at Kuta for  four days, so he took two days off on Friday and Monday and we make time for some dives at Tulamben.


the hotel rooms


We stayed at Ocean View Hotel. The hotel is right in front of the wreck. We used to pass the hotel when we wanted to dive at the wreck at our previous trip, and it seems really nice. It's actually a very new hotel which operates for about a year. They only have nine rooms, all are facing to the sea. The place is very calm and private. They also have kiddy pool, and satellite TV. But too bad that they don't have channel for children. We stayed four nights at room number one, this is the closest to the sea and to the pool and also the most private, so I think it can be their best room. The room is big comfortable and clean with flat screen TV, king sized bed, AC and fan, little sofas and table, and the bathroom is very spacious. The bathroom is very big with both a shower and a huge bathtub. The hot water was hot and plentiful too. It's a very nice place to leave our son during our dives, if he can't swim at the pool then he can just bathing in the huge tub. If just they have some channel for kids, then it will be perfect! Every room has a terrace with two comfortable chairs and a lounger.

the kiddy pool is under this pool actually, too bad that we didn't take any picture of it

room number one : our room

nice terrace

They have a PADI dive center which I think is excellent. They also have their own filling station. I also spot that they have an emergency oxygen so they must be quite professional. And the dive guide.... is excellent! I don't know if all their dive guides are also good, but our guide is perfect! His name is Komang, very agile at the surface. So when they say on their web "Our dive masters are well familiar with the water and current around this area, having logged countless dives guiding divers. You are in safe hand and a knowledgeable patient guide diving with us, a safe dive with fond memory always.", it's actually true with Komang! There was one time when the wave is pretty big, Komang really know how to enter and exit the water and help us to do so, and also take care of all our gears. He's very nimble. And in the water, Komang finally made us met a pigmy seahorse. We were happy divers! Both me and husband enjoy for a very relax dive, slowly observing the marine life from one spot to another, and our guide can deal with it. I once had a dive guide which was very hasty in the water, and we have to catch him behind otherwise we got lost, we don't have such problem with Komang. In short, I hope we have tipped him good enough! :)


dawn dive in a hope to see mola, but we didn't

big wawe!




The best part is you can plan your dive anytime you want, and the guide will set all your gears for you. You only need to put on your wetsuit and boots, carry your fins and mask and walk to the beach from your room which only need less than two minutes. You will have all your gears set up at the beach. Like this, you can do five dives a day, if you like. :)


The most unpleasant thing about the hotel was the food. It was hard for us to have halal food there. I wear hijab, and the waitress has several times offered me babi (pork) frankly. It might because she doesn't understand, but it already loosen my appetite. Well, next time if we want to come back to Tulamben again, then we surely will stay at the same hotel again, but we will bring our own meals to be safe. 


Husband took PPB specialty course during our stay at Tulamben with our friend mbak Unieng, our instructor for many PADI courses. PPB is a short course without book, so why not taking it on our short dive trip. 


Our other problem during our stay at Tulamben is that my son suddenly got chicken pox. He must be already infected two weeks before, but view pox came out just when we arrived. We didn't know that it was chicken pox on our first day there, our son didn't have any fever until at night, and we let him swim in the kiddy pool. Uhm... we hope we didn't make other guests infected. If we did, then we are terribly sorry. 


Here are some under water life we succeeded in taking pictures, we also have met orang utan crab, but unfortunately none of the pictures was good enough to be shared. :(


this sweet lips is quite famous in Tulamben :)
sponge

school of cat fish

husband took this picture, mine was unacceptable.

^ ^







We also took some videos...