Tuesday, December 31, 2013

West Coast Australia Road Trip In Motorhome - Cervantes And Pinnacles

Sekitar jam empat sore sampe deh kita di Cervantes Caravan Park. Cervantes ini adalah kota kecil di pinggir laut. Kotanya itu bikin gue inget film Grandpa In My Pocket di Cbeebies, ya maklum lah yaaak, nama pun emak beranak toddler jadi tontonannya Cbeebies. Sepengamatan gue rumah-rumah di sana kecil sampai sedang, tapi hampir setiap rumah punya kapal kecil. Eits, jangan bayangin kapal kayu nelayan lah yaaak, fiber boook! Rata-rata turis yang datang ke sana kayanya mampir buat mancing,  camping atau ya singgah untuk lanjutin ke kota tujuan berikutnya. Tapi sebelum gue cerita soal apa aja yang dikerjain di Cervantes gue cerita dulu lah yaaak soal caravan park.

on our way to cervantes,yang putih kaya salju itu pasir, kece yaaak!
we spot a wild kangoroo in front of a house at Cervantes
Namanya juga baru pertama kali nyobain recreational vehicle, sebelumnya gue nggak ada bayangan gimana caranya kita bisa operasiin segala alat-alat listrik di dalam mobil. Gue pikir listriknya dapat power dari aki gitu, tapi mana kuat yaa..  Ternyata di dalam caravan park itu udah disediakan tempat-tempat parkir seluas kira-kira 10x6 meter untuk tiap mobil. Di dalam area 10x6 meter itu ada satu tiang tempat dimana kita bisa nyolokin kabel listrik yang dihubungkan ke mobil, dan satu keran sekaligus tempat buangan air di bawahnya yang bisa disambungin selang untuk ngisi tangki air atau untuk buang limbah air. Jadi power yang kita dapat di dalam mobil ya dari listrik yang kita colok di tiang tadi itu.

makan malam merangkap siang
@ cervantes caravan park

Fasilitas lainnya yang biasa disediain di caravan park adalah kamar mandi umum, tempat mandi bayi, ruang laundry, dan ruang cuci piring. Ada beberapa caravan park yang juga nyediain dumping point buat ngebuang limbah toilet dari motorhome, ada juga yang nyediain dapur, bahkan ada yang nyediain kolam renang segala. Hasil wanti-wanti si Sylvia, orang dari AA Motorhome yang kita temuin kemarin, sebaiknya kita pake segala fasilitas yang disediakan di caravan park walaupun fasilitas itu ada juga di dalam mobil. Yang sangat kita tangkap untuk itu tentunya untuk urusan kamar mandi dan toilet.

Nah di Cervantes Caravan Park, setiap satu mobil tamu dapat satu kunci. Loh, kok dapat kunci emang dapet kamar? Kunci itu ternyata buat kamar mandi. Kamar mandi laki-laki dan perempuan tentunya dipisah lah yaaaaak, tapi kuncinya tetap satu jua. Satu masalah (yang awalnya) besar buat gue selama di Australia adalah sistim toilet mereka yang tanpa air, kecuali buat flushing! Ih gue benciiiiik banget sama toilet kering! Emang sih kamar mandinya jadi bersih, itu bagus, tapi kan manusianya jadi jorok hahahaha.... Tapi akhirnya bisa disiasatin dengan selalu siap sedia bawa botol isi air setiap mau ke toilet.

Ok, balik ke cerita... Setelah kita berhasil markirin mobil dan menyambungkan segala printilan yang perlu disambung, gue langsung nyiapin makan malam, merangkap makan siang. Makan siang yang cuma beberapa potong pizza doang kurang nendang rupanya. Ternyata suasana jalan-jalan emang bikin nafsu makan meningkat booook. Beras yang udah gue takar bisa untuk dua kali makan, tandas untuk sekali makan doang hahahha... Anak gue tuh terutama yang makannya luarrr biasa banyaaakkk di luar kebiasaan. Selesai makan kita kembali beres-beres, tutup-tutup dan cabut-cabut segala sambungan dan pergi jalan-jalan keliling sebagian kota Cervantes yang mini itu.

menu pertama masih ngirit ransum: piza and fish nugget (yang udah habiss)

Tempat yang dituju adalah sebuah look out yang namanya Thirsty Point. Look out adalah istilah buat tempat dimana kita bisa lihat pemandangan. Yang gue ingat di laut dekat look out itu ada sebuah kapal karam di kedalaman yang cukup dangkal yang katanya kalau air surut bisa kelihatan, tapi nggak keliatan juga siiik waktu itu! Setelah cukup foto-foto disitu akhirnya kita balik menuju caravan park. Di dekat jalan masuk ke caravan park itu ada playground yang lumayan besar yang dasarnya pasir. Anak gue yang udah nggak sabaran pengen main pasir karena udah ngeliat pantai, akhirnya kita ajak main di playground itu yang kayanya diisi sama anak-anak dari lingkungan situ. Dan setelah hari mulai gelap (magrib saat itu sekitar jam 7 malam) akhirnya kita parkir kembali ke caravan park.

Pengalaman pertama tidur di motorhome ternyata asik juga! Walaupun saat ini Australia lagi musim panas dan suhu di siang hari bisa sampai 40 derajat selsius, tapi kalau malam suhu bisa turun sampai 20 derajat. Awalnya kita masih belagak nyalain AC, tapi akhirnya kedinginan dan selalu tidur tanpa AC kalau malam. Dan malam itu (juga malam-malam lainnya) kita semua langsung pelor deh, nempel langsung molor....

Thirsty point look out

oh yeah...





the playground


Besoknya setelah sarapan dan mandi kita check out dan kembali sedikit ke selatan untuk ke tempat yang namanya Pinnacles, Nambung National Park. Pinnacles ini adalah sebuah gurun yang banyak formasi batuan kapur yang berdiri terpisah-pisah. Menurut tulisannya, sebenarnya formasi batuan kapur seperti itu ada banyak di Australia, tapi Pinnacles adalah formasi batuan terbanyak dan terluas.


Gimana terbentuknya formasi batuan kapur itu teorinya ada macam-macam, tapi teori yang gue inget yang lebih kurang begini; berjuta-juta tahun yang lalu permukaan daratan di daerah pinnacles setinggi batuan kapur yang sekarang berdiri itu, dan banyak pohon-pohon yang tumbuh disitu. Akar pohon-pohon itu menarik air dan mineral di tanah sekitarnya. Kemudian ketika permukaan daratannya terkikis dan tanamannya mati, bagian yang tadinya terisi sama akar mengeras dan jadi batuan seperti sekarang. Gitu dah.... meneketehe dah.



Pinnacles desert

happy, kita main petak umpet diantara batu2 itu

at the look out

ada enam pasang burung kakak tua kaya gini di tengah gurun, kita kagum dooong, ternyata ada banyaaak banget ketemu burung beginian nantinya di Kalbarri.




Oh ya untuk masuk ke Pinnacles tadinya kita pikir harus jalan  kaki, ternyata mobil yang kita bawa masih bisa masuk, batas lebar mobil yang boleh masuk adalah tiga meter sementara motorhome kita dua koma sekian (gue lupa!). Harga tiket masuknya sekitar sepuluhan dolar. Setelah puas keliling-keliling, turun dan foto-foto kita kembali keluar dan masuk ke museumnya yang namanya Pinnacles Discovery, karena menurut poster yang ada di toilet (sebelum masuk museum) katanya lebih kurang begini "silahkan berkunjung ke museum kami, kamu bisa dapat pengetahuan tentang Pinnacles, dan lagi pula kan udah bayar, rugi loh ntar!". Gue mulai mikir yang nulis itu orang Padang....

Museumnya langsung terhubung sama toko suvenir.... nama juga toko suvenir di tempat wisata, mahal aje harganye!

@ Pinnacles Discovery

inside the museum

Billy - Diana - Izan were here hehehe...

at the souvenir shop



press a penny...


Selesai di Pinnacles, kita kembali jalan ke utara menuju Kalbarri. Kali ini gue yang kebagian nyetir. Oh sungguh menyenangkan rupanya nyetir di jalanan mulus, lurus, sepi kendaraan.... untuk setengah jam pertama! Setelah itu gue mati-matian nahan ngantuk. Booook, kecepatan yang gitu-gitu doang, nggak nambah nggak kurang, jalan yang lurus-lurus aja nggak naik nggak turun, mobil yang jarang-jarang, nggak ada lubang yang bikin gue kudu melek buat ngindarin.... itu serius membosankan!!! Jalan mulus itu seru kalau kita bisa ngebut kan kan kan? Tapi ngebut itu seru kalau kita nekan pedal gas kenceng-kenceng gitu kan, lah ini nggak boleeeh. Tapi karena tengsin sama big boss, gue tetap kekeuh mau nyetir.... sampe cemilan yang bisa nahan ngantuk habis. Akhirnya gue kembalikan kemudi ke Billy. *payaaah*




my turn to drive... hehehe



Jarak Cervantes-Kalbarri adalah 430km, jarak yang kalau di Indonesia harus ditempuh sehari semalam, atau dua hari kalau pake nginep. Pemandangan kanan-kiri jalan semakin ke utara juga berubah-ubah. Kalau dari Cervantes sampai Geraldton kanan-kiri selalu hamparan ladang jerami dan sapi-sapi atau domba atau kuda, begitu lebih utara dari Geraldton kanan-kiri mulai semak-semak seluas mata memandang. Hiburan saat ngelewatin jalan yang kanan-kirinya semak-semak adalah dulu-duluan ngeliat binatang liar yang banyak di sana semacam emu, kangguru, elang, kelinci, atau bahkan wombats... (yang terakhir ini gue nggak pernah ketemu). Tentunya gue lah yang menang karena Billy kan nyetiiiir hahahaha...

Yang paling seru adalah setelah kita keluar dari jalur Indian Ocean Drive untuk belok menuju Kalbarri dimana kita jalan sekitar 60an kilometer hampir tidak ketemu mobil satu pun, sinyal nggak ada, dan kanan-kiri semak-semak belantara. Sambil ketawa-ketawa (sementara si bocah tidur) gue sama Billy ngebayangin kira-kira apa ya komentar orang tua kita kalau saat itu tahu kita jalan-jalan di negara orang bawa anak dan masuk ke jalan yang nyaris nggak ketemu mobil sama sekali di tengah hutan semak dan sinyal pun nggak ada sementara matahari udah semakin turun... hehehe.

Tapi semuanya terbayar begitu kita masuk Kalbarri. Motonya Kalbarri adalah "Kalbarri, you'll love it!", oh...indeed we do!


 

Sunday, December 29, 2013

West Coast Australia Road Trip In Motorhome - Kena Omel!

Jam 4.30 pagi waktu Perth (yang sama aja sama WITA) akhirnya pesawat Air Asia yang kita tumpangi mendarat di Perth International Airport. Sebelum mendarat, sebenernya penumpang dibagiin formulir untuk men-declare bahan makanan yang dibawa. Dan ada juga pengumuman bahwa pemerintah Australia melarang bahan makanan berupa produk daging dan produk susu dari negara Asia untuk masuk ke negaranya. Ih songong yaa... hahahaha.
Tapi sayangnya sang big boss keukeuh merasa nggak perlu declare apa-apa, menurut dia declaring cuma bikin petugas ngebongkar tas kita buat lihat apa isinya sesuai dengan yang disebut atau nggak. Berhubung emang cuma sang big boss yang pernah ke Australia sebelumnya, ya gue nurut aja deh.

lil boss bobok setelah berhasil keluar dari ruang pemeriksaan

Tapi sayangnya pengalaman pertama Billy ke Australia sebelumnya itu untuk urusan kantor yang tentu aja dia nggak perlu bawa bahan makanan apa pun. Dan mungkin dia lupa atau sistemnya yang mungkin berubah, ternyata begitu kita ambil bagasi, semua barang-barang dengan atau tanpa men-declare harus masuk lagi ke mesin x-ray buat diperiksa isinya. Eng ing eeeeeeng.....!

Kedodolan pertama adalah kita (si udik dari Balikpapan yang karnivora tapi ogah beli makanan berdaging di negeri non Muslim) udah bawa bekal dong dari Bali buat sarapan sesampainya di Perth hahahahaha... Bekalnya adalah dua paket Mc spicy chicken dan satu paket panas special buat sang bocah. Jadi itu special delivery menjelang tengah malam dari sang badut kita bawa-bawa dalam keadaan masih di dalam kantong kresek naik ke pesawat sampai mendarat. Hahahaha... Emang sebenernya rada berasa konyol sih, seumur-umur kayanya ya baru itu gue bawa kresekan paket McD naik pesawat buat dimakan di kota tujuan, yang konyolnya lagi kota tujuannya udah beda negara pulak! heheheheheh....

Naaaaah.... begitu kita selesai ambil bagasi dan petugas pemeriksa barang bagasi meriksa barang-barang kita, dia sebenernya udah nanya "are you bringing Mc Donalds?", dan kita jawab tanpa dosa "yeaah..". Si petugas cuma senyum-senyum dan meloloskan kita untuk antri ke bagian x-ray. Dalam hati sih cuma mikir " ngape senyum-senyum aje mas, situ pasti ngiler kan ngeliat bungkusan McD subuh-subuh buta begini...?".

Setelah antri sekitar dua menit kita langsung disambut dengan ramah oleh mbak-mbak yang mukanya macam Avril Lavigne yang rambutnya sebahu. Dengan sopan dia minta kita masuk ke barisan untuk diperiksa di mesin x-ray yang dia pegang. Sebelumnya dia langsung notice lah itu kresek McD, dang langsung bilang "I'm sorry, but you can't bring these..." trus dia liat kotak milo yang ternyata dipack di Indonesia, "I'm sorry, you can't bring this either. Have you filled the form? Do you bring any food in your bags?". Dan kemudian Billy menjawab dengan "No.".

Yah demikian lah kiranya, perjalanan kita ke Autralia ternyata hanya berakhir sampe disitu.....


suasana di dalam airport

Tapi bo'oong! Hahahahha.... setelah semua tas-tas keluar dari mesin x-ray dan dia baca formulir kita yang semua dicontreng di kotak "NO", si Avril Lavigne yang tadinya ramah mendadak jadi marah. Dan kita pun terpaksa ngebongkar isi tas kita yang terdiri dari dua carrier besar, satu ransel, dan satu kopor kecil. Semua dibongkar tanpa terkecuali sampai yang berbentuk makanan keluar. Si Avril Lavigne marah-marah, ya wajar sih dia marah, subuh buta gitu kudu kerja eh ada pula orang Asia nongol bawa bahan makanan buat ransum sembilan hari pake bohong segala,  nambah-nambah kerjaan aje. Hahahaha.... (eh kenapa gue ketawa?).



Untungnya si Avril Lavigne cuma ambil nuget ayam dan sosis doang selain si kantong kresek McD. Yang lain-lainnya dilolosin, baik ya dia... tiga plastik rendang yang kita masukin barengan sama nugget di tas pendingin yang sama nggak disita karena Billy bilang itu porridge, doi percaya aja, kebeneran pula ini orang Asia bawa anak balita yang lagi lemes duduk di stroller (padahal lemesnya karena ngantuk berat). Sebenernya ada satu tas pendingin lagi yang kita bawa, isinya juga beberapa makanan basah kemasan yang alhamdulillah dia lolosin nggak diperiksa.

Si Billy dapat surat teguran yang hanya berupa kertas copy-an yang ditulisin namanya di atasnya. Sebenernya dengan tidak men-declare secara jujur bahan makanan yang kita bawa,si Avril Lavigne berhak mendenda kita sebesar 340 $Aus. Jadi walaupun kena omel, si Avril Lavigne ini sebenernya baik sekali dan nolong kita juga. Akhirnya gue yang tadinya diam-diam aja sambil mikir mau pura-pura nggak bisa bahasa Inggris sama sekali kalo kena omel ("no spiking inglis.. no spik..no anderseten sama sekali!"), akhirnya minta maaf sepenuh hati sama si mbak Avril Lavigne. Gue bilang kita sangat malu udah bohong, dan seharusnya kita nggak bohong. (Malunya emang beneran! Berjilbab, masuk negara non muslim, pertama kali, bohong pula... cemanaaa!!!!) Kemudian gue tanya, seandainya kita datang kembali dan bawa makanan dan men-declare apa yang kita bawa, apa yang kira-kira akan terjadi? Si mbak Avril kembali jadi ramah, dia ngasih kita brosur tentang bahan makanan yang boleh dan tidak boleh masuk Australia. Sebenernya makanan-makanan kalengan boleh masuk, yang nggak boleh itu bahan makanan yang berupa daging-dagingan yang tidak dalam kemasan kaleng dan produk susu.

Akhirnya kita bisa keluar dari ruangan itu. Trus langsung disambut sama petugas motorhome yang ngangkat-ngangkat kertas bertuliskan "Welcome Pak Billy and family.". Mimpi kali yeeee!!!!! Lo kata di kedatangan Ngurah Rai... Kenyataannya kantor penyewa motorhome yang kita booking baru buka jam sembilan pagi, padahal waktu itu  masih sekitar jam lima, airport pun masih sepi (kebeneran, jadi bisa enak sholat subuh dipojokan nggak banyak orang lalu lalang). Jadilah kita duduk-duduk di airport sampai kira-kira jam 8.30. Sarapan cukup dengan donat dan coklat hangat dari warung kopi di bandara. Pagi itu belum terlalu terasa lapar, udah kenyang sama malu dan kena omel soalnya hahahaha...


suasana di luar terminal




Setelah jam 8.30 akhirnya kita keluar nyari taksi dan mita diantar ke daerah **** tempat kantornya Around Australia Motorhome yang dicapai cuma dalam waktu 15 menit. Begitu sampai di kantor AA Motorhome kita dilayani sama karyawannya (atau bossnya?), yang bernama Sylvia, yang emang cuma dia sendirian di kantor itu. Yang pertama diurus tentunya surat-surat, aturan-aturan, perjanjian sewa dan sebagainya. Untuk penjelasan tentang motorhome dan segala tetek bengeknya akan gue ceritain kemudian deh ya. Setelah cukup lama di kantor (segala bagian dari terms and conditions itu bikin gue tegang deh... helloooo... baru pertama kali boook bawa mobil di negara orang yang bahwa setirnya di kanan pun gw baru tau tadi pagi hasil browsing di airport pake internet gratisan!), akhirnya kita keluar untuk diajarin segela tetek bengek ngoperasiin motorhome itu. Begitu ngeliat mobilnya hati langsung sumringah, lupa sudah segala yang bikin tegang di dalam kantor tadi. This is gonna be a great journey!


voila, the motorhome

rumah selama sembilan hari ke depan


Sekitar jam 10an akhirnya kita berangkat ninggalin kantor AA Motorhome menuju shopping center terdekat di daerah Bellmont (yang udah disettingin sama Sylvia di GPS biar kita nggak nyasar, baik deh dia!) buat beli bekal yang nggak dibawa dari Indonesia macam air minum, susu, buah-buahan. Setelah belanja segala keperluan, kita pun takeaway pizza hut (tentunya dengan menu tanpa daging) buat makan siang. Akhirnya dimulai deh perjalannya...

Pertama kali bawa mobil di negara orang, plus pertama kali bawa mobil yang segede itu, udah pasti bikin perasaan tegang. Yang paling kita wanti-wanti (hasil browsing di airport tadi pagi juga) adalah batas kecepatan yang diizinkan. Gue sampe nanya ke supir taksi yang bawa kita tadi, apa banyak dipasang kamera untuk ngintai pelanggar batas kecepatan. Ternyata nggak terlalu banyak katanya, kalau pun ada paling di dalam kota.



Sylvia ngajarin segala printilan di dalam mobil
yang ini numpang ngadem


Perjalanan pertama kita adalah ke kota Cervantes yang berjarak 230km lewat Indian Ocean Drive. Batas kecepatan maksimum untuk jalan antar kota adala 110km/jam. Jadi Cervantes bisa dicapai hanya dalam waktu sekitar 2-3jam. Di West Australia, jalanan cukup lengang, jalanannya selalu dibuat lurus, dengan aspal yang tanpa cela dan mobil yang nggak banyak. Pendek kata, menyenangkan nyetir disetirin di sana!


perjalanan dimulai...

Sekali waktu kita pas berada di belakang mobil van milik tentara yang penampilannya siap offroad. Merasa si mobil tentara ini agak kurang ngebut, kita memutuskan untuk nyalip. Tentunya teknik nyalip kita ala Indonesia yang udah cukup sopan, cuma aja lupa ngasih lampu sen. Jadi yang kita kerjakan adalah ambil jalur kanan, ngelewatin si mobil tentara, setelah si tentara ada di belakang ekor kita masuk kembali ke kiri. Semua kita lakukan dengan riang gembira tanpa dosa. Sekitar belasan kilometer di depan ternyata jalanan sempat diberhentikan karena ada perbaikan jalan (jangan bayangin perbaikan jalan macam di Indonesia, yang mana yang dibenerin aja gue ga tau dah.. eh tapi ada alasannya sih gue nggak tau....).

Tiba-tiba pas lagi berhenti jendela kaca Billy diketok dengan keras dari luar. Sumpeee kite kaget! Yang ngetok tentara dua orang, yang satu di belakang megang kamera nyorot ke kita. Apa lagi nih??? Yang di belakang nanya "lo punya sim kagak?", waduh emang tentara bisa nilang, ato mo ditangkap nih? Yang di depan nanya "ngapain maneh motong kita tadi?!", dua-duanya nanya dengan nada yang cukup galak. Billy merespon dengan nada minor (eeeee dikira lagu), maksudnya dengan nada sebagai orang yang minoritas kalau kita sama sekali nggak bermaksud apa-apa dengan memotong mobil mereka tadi. Si tentara yang di depan setelah lihat bahwa isi mobil ternyata tiga orang turis dari Asia, satu laki-laki, satu perempuan kece, dan satu anak balita yang duduk di carseat, akhirnya melunak. "Iya, kamu kayanya emang nggak bermaksud apa-apa. Tapi lain kali hati-hati ya, kamu bisa membahayakan orang." kata tentara yang di depan. Sementara tentara yang di belakang mulai jalan balik ke mobil. Sebenernya gue sempet kepikiran mo ngambil kamera juga biar kita saling shooting-shootingan gitu, apa daya kamera di belakang susah ngambilnya. Abis itu Billy sekali lagi minta maaf, dan tentara itu menjawab dengan ramah "okay, have a nice trip" dan langsung pergi.

perjalanan menuju Cervantes


Nggak lama kemudian jalan dibuka lagi, dan gue sama sekali nggak tau jalan bagian mana sebenernya yang lagi dibenerin, sama nggak taunya dengan kenapa tu dua tentara tiba-tiba marah-marah cuma gara-gara disalip. Emang nggak boleh ya nyalip tentara??? Setelah jam terbang kita di jalanan Australia makin bertambah, mulai deh kita ngerti tata krama nyalip mobil di Australia. Ternyata untuk nyalip mobil didepan itu kita wajib kudu harus musti ngasih sen, dan baru boleh ambil kembali jalur kiri setelah mobil yang disalip udah berada paling minimal 4-5 meter di belakang. Jadi cara nyalip yang udah dianggap sopan di Indonesia dianggap nggak sopan ternyata di sana. Yaaaah si tentara tadi belum pernah nyetir di Kalimalang siiiih, blum pernah disalip angkot siiiih...

Setelah ngerti akhirnya kita ketawa-ketawa sendiri. Billy emang udah wanti-wanti, siap-siap aja sering kena marah, namanya juga nggak pernah nyetir di negara orang. Hehehehhe... Tapi alhamdulillah itu terakhir kalinya kita kena marah selama di Australia.

Sekitar jam 4 sore akhirnya kita sampai di Cervantes caravan park, yang udah dibooking Billy. Akhirnya untuk pertama kali kita parkirin mobil di caravan park dan mulai belajar segala tetek bengek yang udah diajarin Sylvia tadi pagi.... Oh seru!

Tuesday, December 24, 2013

West Coast Australia Road Trip In Motorhome - Persiapan!

Berawal dari iklan promo Air Asia di bulan Januari 2013, gue dan Billy ikutan berburu tiket tengah malam sambil mantengin jam promo dimulai. Kita cari deh destinasi-destinasi yang kira-kira oke dan murah meriah. Akhirnya destinasi yang terpilih adalah Perth, berangkat dari Bali dengan harga total Rp.3.000.000 untuk kita bertiga pp. Lumayan banget itu, karena harga normal kisaran 1-3 jutaan untuk satu orang sekali pergi doang. Tiket dipesan untuk bulan Desember 2013, cukup lama deeeeh buat bisa ngatur mau ngapain aja di sana sekaligus nyiapin segala-galanya.

our route: perth-cervantes-kalbari-monkey mia-geraldton (through the indian ocean drive), and grealdton back to perth through brand highway

Pertanyaan berikutnya jelas apa yang mau kita kerjain selama sembilan hari di sana. Kalo cuma jalan-jalan di sekitar Perth doang jelas bosan dong, mau ngapain juga? Berbekal pernah baca cerita soal honeymoonnya Rifat Sungkar di tabloid Otomotif yang jalan-jalan di Australia (keliling Victoria) dengan motorhome tahun 2010, Billy akhirnya ngajuin ide untuk jalan-jalan nyusurin pantai barat Australia sampai ke Monkey Mia dengan motorhome. Tadinya malah pengen sampai ke Exmouth, tapi dalam waktu 9 hari yang ada ntar kita nggak bisa nikmatin apa-apa. Sejujurnya, yang paling banyak nyari info dan bikin itinerary perjalanan di sana ya Billy deh, gue mah cuma bagian aproval dan logistik heuheueheeee...

bekal penting jalan-jalan deh ini

Bekalnya Billy tentunya browsing, melototin peta Australi selagi nganggur di kantor, dan beli soft-copy lonely planet Australia. Dulunyaaaaa.... sejujurnya tiap Billy ngajak ngomong tentang trip Australia gw nggak se-antusias macam kalau kita mau liburan untuk diving gitu, malahan yang lebih gue tunggu-tunggu adalah bagian nyangkut di Bali sepulang dari Australia dimana kita bisa nyempetin diving (niat awalnya doaaang.... pada akhirnya gimana bakalan gue ceritain ntar). Ya maap, nama juga banci laut hehehehe...

Selanjutnya persiapan surat-surat tentunya macam visa dan sim internasional karena kita mau nyetir di negara orang. Eh tapi, ternyata untuk bisa nyetir di Australia nggak perlu-perlu amat pake sim internasional, sebagian agen motorhome bilang sim yang diterjemah dengan penerjemah tersumpah pun cukup, malahan ada temen yang bilang sim Indonesia pun nggak papa. Nggak mau kelewat nekat, Billy sempetin bikin sim internasional pas lagi ke Jakarta, sementara gue pake sim yang diterjemahin aja karena nggak sempet pula ngurus ke Jakarta.

Persiapan lainya ya booking segala macam. Nggak banyak siih yang dibooking, cuma motorhome yang mau disewa dan caravan park tempat kita bisa parkir dan nginap. Sebenernya caravan park nggak dibooking juga nggak apa sih, langsung check in begitu dateng juga bisa, tapi buat amannya emang lebih baik booking daripada udah nyampe ternyata penuh sementara caravan park lainnya masih 100 kilo lagi misalkan.

Dan persiapan yang terakhir adalah logistik. Selama di Australia kita akan masak sendiri di dalam motorhome. FYI, di dalam motorhome segalanya udah disediain lengkap: alas kasur, selimut, bantal, handuk, alat makan, alat masak, kompor, microwave, kulkas, dan kamar mandi termasuk toilet. Jadi kita bawa bahan-bahan makanan dari Indonesia. Karena keluarga gue pecinta nasi jadi kita bawa rice cooker kecil juga dari sini. Gue and Billy bahkan bikin jadwal menu selama di sana supaya nggak kekurangan makanan, makluuuum belum pernah jalan-jalan di Australia, ya kan gue nggak tau bakalan gampang apa nggak ketemu supermarket di sana ntar. Yang rada bodohnya kita nggak googling dulu makanan apa aja yang boleh dibawa ke Australia, jadi lah kita penuh percaya diri menyelipkan satu pack nugget ayam, satu pack sosis, beras, 3 packs rendang beku,  serta satu botol cream milk diantara barang-barang yang kita bawa.... amboi! Siap berangkat!

done packing: 13kg buat gue dan 19kg buat Billy!

Nggak terasa akhirnya nyampe juga ke tanggal untuk liburan yang udah dibooking jauh-jauh hari. Hari Kamis pagi berangkat deh kita dari Balikpapan ke Surabaya, dan lanjut Surabaya-Denpasar. Istirahat sebentar di hotel terdekat dari airport Ngurah Rai untuk nunggu pesawat ke Perth yang jadwalnya jam 00.30 malam. So the journey begins....