Thursday, January 12, 2012

The New Balikpapaner part. 4

Kalau sebelumnya gue bilang pengaruh besar pendatang kota Balikpapan adalah karena minyak, jadi bisa dibilang kalau mayoritas orang-orang datang ke kota ini sebagai pekerja. Ini yang bikin mata gue agak gatel dari hari-hari pertama gue pindah ke sini. Gue yang sebelumnya tinggal di Bekasi lalu pindah ke Serpong yang jauh dari pantai (walaupun Jakarta dan Tangeang itu sangat dekat dengan laut), begitu gue liat banyakkk sekali pantai di sini tapi di sia-siakan rasanya gimanaaa gitu. Hehehe...

Waktu nginap di hotel Le Grandeuruo betapa kecewanya gue kalau mereka menyia-nyiakan pantai mereka yang lumayan kece. Awalnya gue bertanya-tanya kenapa nggak ada orang yang berenang di laut, emang sih lautnya kotor, karena pasirnya itu lebih kaya lumpur kalau ketemu air, jadi lautnya keruh. Belum lagi posisi muara yang ternyata banyak sekali  bikin air lautnya jadi tambah kotor, apalagi kalau habis turun hujan besar, laut langsung berubah coklat besoknya. Tapi sebagai orang yang suka laut tapi selama ini hidup jauh dari pinggir laut, tetep jadi pertanyaan besar buat gue kenapa orang-orang di sini nggak ada yang kepikiran untuk membisniskan pantai atau laut mereka yaaak???? Buat lo yang pernah main ke Nusa Dua Bali pasti tau juga kalau pasirnya juga jenis pasir *$&#$ (gue nggak tau deh namanya jenis apa, lah pan gue bukan geologis yaaak!) yang jelas pasirnya yang bikin air laut berlumpur, laut jadi terkesan kotor. Tapi pantai mereka nggak disia-siakan sama sekali, banyak lah jasa water sport di sana: jet ski, banana boat, paralayang, halaaaah... macem-macem deeeh! Tapi kenapaaaaa nggak ada yang berbuat seperti itu di Balikpapan???? Kenapaaaaa?????? *gaya sinetron*


laut di depan Le Grandeuruo saat cuaca biasa-biasa aja



laut di depan Le Grandeuruo setelah kemarennya hujan lebat sekali: coklat!!!


Serius dah, kalau gue mejret duit gue buka bisnis pariwisata pantai deh! Aselik! Jangan salah, pantai disini lebih  bagus dari pantai Nusa Dua, pasirnya lebih putih. Macam-macam-macam (sampe 3 kali saking banyaknya) yang bisa dibisniskan hanya modal pantai kece doang, eh sama duit juga tentunya dong: segala water sport itu misalnya. Kalau pun takut nyemplung ke air, datangin kek binatang macam kuda atau onta gitu, jadiin objek wisata pantai! Nggak mau urus binatang? ATV pun asoy buat main-main di pantai!!! Oh I wish duit gue banyak, gue mau dah buka bisnis begituan.... pegimana, ada yang mau jadi investor??? Hehehe...

Itu deh yang bikin mata gue gatel. Bahkan ada satu mall disini yang belakangnya langsung laut. Bisa lo bayangkan itu? Mall yang belakangnya laut? Tapi mereka nggak manfaatin lautnya buat bisnis, resto di atas kapal gitu misalkan? Isn't mall a place for people who wants to get refreshments and spend their money??? Nah, kalau di awal postingan tadi gue bilang mayoritas penghuni kota adalah pekerja, gue rasa itu yang membuat Balikpapan lupa kalau dia juga punya potensi jadi kota wisata. Yang banyak dibangun adalah hotel-hotel, walau pun gitu tetap demand akan penginapan mereka meningkat, mayoritas tamu yang datang adalah pekerja yang punya urusan pekerjaan di sini. Tapi emangnya itu nggak bisa dibarengin jadi kesempatan untuk ngembangin wisata juga yaak??? Sometimes gue pikir kota ini sudah cukup makmur dengan rotasi uang yang di dapat dari minyak jadi mereka nggak perlu berasa repot untuk mengembangkan wisatanya, sayang ya... :(

Oh ada lagi yang pengen gue ceritain, mestinya sih gue ceritain di postingan sebelumnya tapi lupa karena saking banyaknya di kepala hehe.. Karena Balikpapan ini adalah kota pendatang, terkadang gue berasa masyarakat di sini hampir-hampir mirip mungkin dengan gaya masyarakat di Singapore atau Malaysia, mungkin??? *aselik sotoy bukan kepalang...:p* Yang gue maksud adalah diversity-nya. Dibandingkan dengan di Jakarta yang tanpa sadar udah ada garis-garis pembatas sosial such as: Kemang adalah daerah high class dan expat; daerah Kota, Glodok dan beberapa bagian  Barat adalah daerah keturunan Tionghoa; Timur adalah daerah menengah. (of course pembatas sosial itu berdasarkan penilaian gue secara pribadi dan subjektif yaaak, jadi maafkan kalo salah dan nggak terima debat!) Nah di Balikpapan ini semua merata! Lo bisa lihat mesjid di sana-sini, as much as lo lihat gereja di sana-sini. Di warung sarapan chinese food kesukaan gue itu gue pernah lihat orang keturunan Tionghoa dan bapak berparas pribumi berpeci haji duduk satu meja. Semua pendatang, semua sama. Mungkin gue salah, tapi semoga aja nggak, karena diversity yang harmoni itu nikmat bukan kepalang!

Oh satu lagi yang banyak lo temuin di sini: tempat karaoke dan pub yang hampir sama banyat bertebarannya dengan mesjid dan gereja. How come?? Tentu saja karena kebanyakan yang datang berkunjung ke kota ini adalah pekerja dengan urusan pekerjaan, dan nggak jarang pula mereka itu expat (yaak gue berasa jauuh lebih gampang ketemu orang kulit putih di sini ketimbang di Serpong), dan mereka butuh hiburan singkat yang seperti itu. Naaaah... coba deh kalau jasa wisata laut dan pantai dibuka di sini, tamu-tamu yang berkunjung untuk urusan kerja di sini kan bisa bawa keluarganya sekalian liburan gitu kaaaaaaan.... Dan mereka dapat hiburan yang lebih asoy ketimbang karaoke atau ajojing di pub doang kaaaan???

Yah gitu deh! Selamat datang di Balikpapan kota beriman; kubangun, kujaga, kubela! :))



The New Balikpapaner part.3

Ok, gue udah ngomong tentang gue and keluarga di postingan sebelumnya ya kaaaan... Nah sekarang gue mau cerita sedikit tentang kotanya. Tapi jangan protes kalau ceritanya ternyata kurang komplit atau kurang tepat karena ceritanya cuma berdasar point of view gue aja dari selama 3 minggu lebih gue tinggal di sini. Eh... udah berapa minggu sih gue tinggal di sini??

Where should I start? Hmmm... Balikpapan itu kota pendatang! Lo boleh pergi ke kota Padang dan sebagain besar orang di sana akan berbahasa Minang, lo pergi ke Jogja dan sebagian besar orang di sana berbahasa Jawa, lo pergi ke Denpasar dan mereka pun punya bahasa daerah mereka. Tapi kalau lo pergi ke Balikpapan, nggak ada bahasa daerah di sini. Di sini semua orang berbahasa Indonesia, dengan sedikit pengaruh dari Jawa dan Sulawesi. Nggak ada bahasa Balikpapan, tapi kalau dialeg Balikpapan ada. Gue pernah ke Banjarmasin, dan dialeg Banjarmasin pun kedengarannya sama. Gue beberapa kali ketemu orang Samarinda selama tinggal di hotel Le Grandeuruo, dan dialeg mereka pun sama seperti di Balikpapan. Nggak tau juga deh sejarahnya gimana.

Nggak ada yang bisa mengaku orang asli Balikpapan, setau gue ya, kecuali orang Dayak mungkin?? Tapi selama gue tinggal di Balikpapan waktu kecil dan selama gue tinggal di sini sekarang bukannya gampang ketemu orang Dayak di kota Balikpapan, mungkin ada, tapi gue nggak bisa mengenali mereka sebagai "tuan rumah" macam kalau gue ketemu orang Aceh di Banda Aceh misalnya... if you can get what I mean. Kalau suka baca berita tentang Balikpapan pun pasti pernah denger tentang perseturuan antara suku Dayak dan suku Bugis di sini bukan? Not that I'm so clear about it though... Tapi yang bisa gue simpulkan dengan jelas adalah Balikpapan kota pendatang!

Coba aja cari siapa yang lahir di Balikpapan? *tunjuk tangan* Apakah orang tuanya lahir di Balikpapan? *geleng-geleng* Ok, jangan nengok gue kali yaaak... coba deh cari keluarga atau temen yang mengaku orang Balikpapan, tanya orang tuanya lahir dimana, kalau masih di Balikpapan juga, coba tanya lagi, nenek-kakeknya lahir dimana, kalau masih di Balikpapan juga coba tanay buyutnya deh... gue bisa bilang dalam probabilitas yang besar kalau mereka pendatang. Ya kaaaan?

Ada dua hal (menurut kesotoyan gue) yang berpengaruh besar menjadikan Balikpapan ini tempat tinggal baru buat pendatang: 1. minyak, 2. program transmigrasi (yang gue rasa ada pas jaman Soeharto??). Kasus nomor satu lo bisa lihat gue sendiri aja deh. Kalau bukan karena bokap gue kerja di perusahaan minyak, rasanya nggak akan mungkin gue lahir di Balikpapan (selain karena takdir yaaaaak, puhlease deeeeh...). Dan perusahaan minyak di Balikpapan ini banyak sekali, jaman gue kecil dulu ada 3 oil company asing besar di sini. Bayangkan berapa karyawan (plus keluarga) yang didatangkan perusahaan minyak gede ini ke Balikpapan. Dan bukannya nggak mungkin kalau karyawan juga bawa kerabat berhijrah ke sini kan? Masing-masing perusaaan minyak punya perusahaan-perusahaan kontraktor yang bekerja sama dengan mereka juga disini toh? Tentunya perusahaan kontraktor itu pun mendatangkan karyawan juga ke Balikpapan toh, dengan keluarganya juga toh... Massive! Belum selesai disitu, begitu ada pertambahan penduduk disini, maka peluang pekerjaan pun makin besar kan? Which is also a magnet for people to come, right?

Untuk yang kedua, gue udah ketemu dengan salah satu peserta programnya sendiri waktu kecil dulu. Waktu tinggal di Balikpapan dulu nyokap punya ART yang cukup loyal sama keluarga gue, dia pendatang dari Jawa Tengah, tepatnya dimana gue nggak inget... kita panggil dia "si Mbok". Orang tua dan keluarga si Mbok ini tetap di Jawa, dia datang ke Balikpapan sebagai hasil upaya transmigrasi pemerintah waktu itu. Tentunya si Mbok nggak sendirian dong yaaaah.

Dari kacamata sotoy gue, rasanya bisa gue bilang kesejahteraan penduduk Balikpapan sekarang jauh lebih baik ketimbang waktu gue kecil dulu, apalagi waktu jaman awal-awal orang tua gue tinggal di sini dulu yaak. Penilaiannya dari pengamatan yang amat subjektif soal pembetong hehehe... Dulu nggak susah lhooo nyari ART di sini, tapi sekarang susaaaaah sekali! ART gue pun import dari Jawa. Waktu nginap di La Grandeuruo gue beberapa kali ngajak anak gue main sama anak-anak kampung sekitar yang suka main di pantai sore-sore, gue sering ngobrol sama mereka dan sedikit gali-gali informasi keluarga mereka... Rata-rata anak-anak yang gue tanya itu orang tuanya pegawai, ntah itu kerja di hotel, di kantor, atau ada juga yang berdagang. Kalau pas di jalan pun gue suka jelalatan cari pemukiman kumuh, dan rasanya sampe sekarang gue belum ketemu tuh. Gue nggak tau pasti pendapatan perkapita penduduk Balikpapan, bah... lo tinggal cek di wikipedia pun.. :p Tapi gue bisa bilang rata-rata penduduk di sini cukup sejahtera. Hipipip huraaa! *apa deh?*

Yang menarik lagi soal Balikpapan adalah kebersihannya. Kota ini bersih, yah sesuai sama motonya: "Balikpapan Kota Beriman", beriman stands for bersih indah dan nyaman hehehe... Kalau pas dapat kesempatan ngantar suami kerja pagi-pagi suasananya menyenangkaaaaaaaaaan sekali, di setiap simpang dan penyebrangan jalan yang rame, polisi udah siap siaga. Oh jangan salah, di persimpangan itu nggak rame macet butek macam Jakarta, simpangnya sih sepi-sepi aja, tapi tetep polisi siaga. Yang rame itu penyeberangan jalannya. Dan hampir di setiap penyebrangan jalan ada papan bertulisan: "ANDA MENYEBERANG DI SINI DILINDUNGI UULLAJ. NO.22 TAHUN 2009 PASAL132 AYAT (1) HURUF b". Eh, tadi gue kan lagi cerita soal kebersihannya kan yaak... hehe. Nah kalo pas dapat kesempatan ngantar suami pagi-pagi jam 7 udah nggak kelihatan lagi tuh petugas kebersihan kota, jalanan udah bersih siap dilewati dengan hati riang! Kalau berangkat kerjanya kaya gitu kan pekerja juga semangat yaaak.... (nyindir yang berangkat kerja jam 6 kurang untuk mulai kerja jam 8.30 disertai macet sepanjang jalan di belahan Indonesia lain :p ). Hehehehe...*songong*

pic taken from here

Eh jangan salah book... Lo tau pemulung di Balikpapan ini seperti apa? Jangan lo bayangin laki-laki atau perempuan kurus dekil beralas kaki asal-asalan yang gendong karung di bahu kanan sambil megang tongkat besi di tangan kiri... salah besarrrr! Pemulung disini adalah pengendara motor berhelem yang di belakang motornya ada dua karung bergantung siap menampung hasil pulungannya. Mereka bersih, malahan gue pernah ketemu yang berkemeja dan bersepatu kece! Sayang gue nggak foto. Tapi gue nggak bohong!!! Suerrrr! Rasanya pengen gue wawancara, pan gue juga pemulung pan hehehehhe...

Eh, kayanya cerita gue udah kepanjangan, baiknya gue sudahin dulu disini yaaaak, ntar ente bosen pulak! Jangan khawatir, gue masih cukup nyinyir dan cukup sotoy untuk cerita soal Balikpapan lagi, tapi harus gue potong dikit-dikit biar nikmeh.... apa deh! :p

Yuuuuk mareeeh...

Tuesday, January 10, 2012

The New Balikpapaneese... errr.. Balikpapaner part.2

Kan gue udah cerita dulu kan yah di sini kalau insyaAllah suami gue diprovide kantornya untuk dapat housing selama tinggal di Balikpapan dengan segala keadaan dan persyaratan. Persyaratannya sih simple aja, yaitu suami gue harus ngelunasin cicilan rumah yang di Alam Sutera itu ke kantornya. Kita udah berhitung dan insyaAllah sisa cicilan yang tadinya baru akan lunas dalam beberapa tahun lagi bisa dibayar seketika... tentunya dengan segala konsekuensi hehehehe.... *kendorin ikat pinggang sedikit* *kekencengan* *hmmmpphhh!!!*

Tapi ternyata ada sedikit masalah yang akhirnya bisa segera teratasi. Cuma masalah waktu itu bikin kita harus tinggal sedikit lebih lama di hotel Le Grandeuruo. Oh... how bad can it be, paling cuma bentol-bentol digigit kutu aje. _ _" Setelah dua minggu jadi penghuni hotel, akhirnya rumah ready untuk ditempati. Alhamdulillah. Dan pada saat rumah ready untuk ditempati, besoknya tiba-tiba barang-barang kargo yang jumlahnya satu truk itu pun sampe, gua langsung sujud sukur! HAhahahaha.... abisan kan gue bingung juga yaaak, kalo harus tinggal di rumah tapi isinya cuma tempat tidur sama sofa dan sedikit peralatan dapur seadanya doang hehehehe....

Soal rumahnya gue akan cerita singkat aja, nanti gue akan ceita lebih heboh kalau perabotan udah komplit biar bisa pajang foto-foto before and after gituuuh... Tapi yang jelas sebagai anak pegawai ex T*T*L rumah ini bikin gue nostalgia bukan kepalang. Masa kecil gue dulu ada di housing kompleknya T*T*L! Gaya perabotan mereka semua mirip, entah itu komplek Gunung Karang, Gunung Utara (yang pernah gue tempatin), dan sekarang gue tinggal di Gunung Bakaran. Dulu waktu kecil gue beberapa kali main-main ke Gunung Bakaran ke rumah temen-temen gue yang tinggal di sini. Gunung Bakaran ini agak terpisah dari gunung-gunung lainnya yang posisinya deket banget dari kantor, makanya dulu gue nggak terlalu sering main ke sini. Kalau aja ada temen SD gue dulu yang tinggal di Gunung Bakaran  baca postingan ini... rasanya pengen banget nanya, rumah no.35 dulu siapa yang nempatin sih? Sini main ke rumah biar kita nostalgia bareng2!!!! hehehehe....

Long story short, rumah ini menyenangkan. Ambiencenya menyenangkan. Hawa Balikpapan menyenangkan!!!! Waktu gue baru tinggal di Alam Sutera, cukup lama sampai gue merasa tempat itu sebagai "rumah" if you know what I mean, tapi begitu pindah ke sini... I feel home! Mungkin karena kebawa masa kecil gue juga kali ya... atau karena emang segalanya enak di sini?? Nggak tau juga deh.

Apa sih emangnya yang enak? Well, berhubung lo tinggal di rumah perusahaan, segala-galanya tinggal telfon dan semua beres! Say it: lampu mati, AC nggak dingin, keran macet, air panas nggak jalan...? Telpon aja  trus pantengin pintu nggak lama orang maintenance datang ngebenerin. Bahkan untuk masang pajangan di tembok aja ada orang dari kantor yang bakal pasangin! Hehehehe... Ada kabel nggak rapi di ruang tv?? "halloo... permisi, ada kabel yang belum ditutup nih di ruang tengah, gimana ya Pak?" Lalu.... *ting tong* "Misi Bu, saya dari bagian elektrik mau benerin kabel?"
Get what I mean? Canggeeeeeeeehhhh!!!! :))

Bukan cuma itu yang enak. Di Balikpapan kota beriman ini Billy selalu makan siang di rumah! Bisa lo bayangkan itu wahai pegawai Jakarta?????? Setiap hari kerja kecuali hari Jumat karena Billy mesti shalat Jumat, kecuali dia ada training atau meeting, Billy selalu pulang ke rumah untuk makan siang! Jarak kantor ke rumah lebih kurang 13 km kalo nggak salah. Dulu waktu tinggal di Balikpapan bokap gue pun juga selalu makan siang di rumah, tapi jarak rumah ke kantor cuma 20x koprol. Kalau gue cerita ke bokap bahwa Billy selalu makan siang di rumah, bokap komentar "nggak abis waktu di jalan?". Hahahahahhahahahahahhahhahahahahahhahahahahhaha.... hanya 2x20 menit, tapi makan di rumah itu lebih bermakna!!!! Oh ai lob Balikpapan!!! Ai lob may hasben! Kalo kata Billy "percuma tinggal di Balikpapan kalo nggak makan siang di rumah!". fufufufufufufufu.... *mesem-mesem*

Soal traffic di Balikpapan ini pun menyenangkan. Kota ini kecil, mungkin segede Tangerang kali ya (tapi mungkin gue salah) so why should we be in a rush?? Semua orang santeeeee..... di jalan kecepatan rata-rata mobil 40-50km/h ! Let say: anak masuk sekolah jam 11, lo masih bisa sarapan siang dulu sama anak, trus main-main dulu, trus keliling-keliling komplek 3 x, trus mandi trus berangkat jam 10.30... dan lo masih bisa nyanyi-nyanyi dulu satu lagu di mobil sebelum turun untuk bawa anak masuk ke sekolah! Get what I mean???

Gue pernah mau jemput suami jam 5.30 sore dari err... lupa gue waktu itu dari mana yang jelas akhirnya gue nyasar. Gue berangkat dari tempat terakhir jam 4.30 sore, nyasar-nyasar keliling kota tapi akhirnya sampe juga ke kantor suami dalam waktu setengah jam aja... dan gue pun terpaksa harus nunggu suami gue yang keluar kantor setengah jam kemudian. You see??? Pernah lo kesasar di jalan tapi tetep nyampe setengah jam lebih awal, duhai penduduk Jakarta????? Yes, read my lips: life-here-is-fun! Hohohohoho...


Dan karena di sini Billy kerja dengan office hour weekend pun jadi lebih bermakna. Dulu waktu Billy kerja di lapangan kita suka lupa hari. Dulu waktu di Alam Sutera cuma ada 2 jenis hari: hari kerja dan hari libur. Pas Billy ke lapangan selama dua minggu itu adalah hari kerja... mau weekend mau weekdays semuanya berasa hari Senin; butek! Sebaliknya pas Billy di rumah selama dua minggu berasa weekend, kadang-kadang lupa kalau hari itu hari Senin atau Jumat akhirnya ikut-ikutan kena macet. Tapi dengan habitual disini, antara weekend dan weekdays jelas bedanya dong! Weekend pertama di rumah ini rasanya enyaaaaaaaaaaaak sekali. Gue nggak tau ya apa yang bikin suasananya beda tapi nggak cuma gue yang ngerasa enaknya, Billy juga bilang hal yang sama. Dan anak gue pun... semenjak pindah kesini makannya gampang bener deh! :D

Gue adalah si cupu yang percaya setiap benda itu ada auranya, dan aura rumah ini cocok sama gue and keluarga, mungkin itu aja kali yang bisa jelasin kenapa tinggal disini terasa jauh menyenangkan. Very peaceful!

Soal makanan? Haaaaaahahahahahah! For you who love seafood, then you will surely love to live here! Berhubung gue emang jarang masak daging dan pilihan menu gue cuma seputaran ikan, udang, cumi, ayam, dan sesekali daging-dagingan ya cocok lah gue di sini! Walau pun variasi ikan-ikannya di pasar nggak sevariatif di pasar modern BSD, tapi harga udang-udangan jauh lebih murah disini. Selama dua minggu lebih gue tinggal di rumah ini udah 2 kali gue barbecue-an seafood dengan udang-udang jumbo sama laki gue. (pssst... kita bahkan dapet pinjaman kompor barbecue dong dong dong dari perusahaan! ajiiiiiiiib!)

Jajanannya pun ada yang oke ada juga yang standar. Tapi ada warung yang top markotop untuk selera gue and Billy, jadi kudu deh gue kasih tau di sini! Warungnya warung sarapan ala chinese food. Gue udah cobain beberapa menunya, kalah deh kopi tiam-kopi tiam yang berkelas resto di serpong or Jakarta! ENYAAAAKKK!!!! Wajib lo coba kalo lagi main ke Balikpapan yaaa. Dimsumnya pun enaaak! Pffttt.. semua menunya yang udah pernah gue cobain enak sampe yang punya toko gue puji-puji deh, makanannya maksudnyaaa! :p


Ini lhooo warung sarapan Chinese food yanng gue maksud

Ini yang punya, gue lagi foto-foto warungnya, si empunya minta difoto juga :))


Apa lagi deh? Itu dulu deh yaaak... masih banyak yang mau gue ceritain soal kota kelahiran gue ini (taelaaaah) tapi dicicil aja dulu yaaak. ntar lo pegel pula bacanya kaaaan....

Yuuuuk dadah babay!



Monday, January 9, 2012

The New Balikpapaneese part.1

Mulai dari mana deh ceritanya? Mulai dari pertama lah ya.. (ya menurut lo..?)

Baiklah kalau begitu, dimulai dari review singkat soal hotel tempat gue tinggal sebelum akhirnya pindah ke housing yang disediain perusahaan tempat laki gue kerja ini yaah! Udah lama gue pengen cerita sedikit soal hotel ini. Ceritanya... mengecewakan!

Sebutlah nama hotelnya: Le Grandeuruo! Billy dapat masukan dari temen kerjanya untuk request hotel yang ini kalau mau bawa keluarga, karena ceunah lebih cozy buat keluarga. Nah, begitu dapat contekan kaya gitu kan langsung terpikir kamar besar, lobby asoy, playground buat anak, plus fasilitas deket pantai gitu kan... kan.. kan??? Emang sih ini satu-satunya hotel yang dekat pantai di Balikpapan. Pantainya sih asik, tapi lautnya kotor karena dekat muara sungai, emang jarang banget orang berenang di lautnya. Sebenernya, emang jarang banget orang berenang di laut kota Balikpapan sepengetahuan gue. Tapi mungkin gue salah, lah pan gue baru balik jadi warga sini paaaan.....

Okeh, kembali ke hotel Le Grandeuruo.... Hotel yang katanya bintang lima ini kalau dapat nilai dari gue sih gue kasih bintang 3 udah lumayan banget deh.... nggak jarang fasilitasnya mau gue samain sama kelas melati. Hehehehe... kejam yaa eike! Begitu masuk kamar kesan pertama yang gue dapat adalah bau rokok! Gue aseliiiik deh nggak tahan sama bau rokok. Bodo ah mo dibilang kampungan kek, tapi semenjak punya pengalaman terjebak 12 jam di mobil L-300 yang penuh asap rokok di sepanjang perjalanan berliku-liku antara kota Blangkejeuren - Medan dipadu dengan telinga yang diperkosa sama musik dangdut atau pop Indonesia yang sama sekali nggak ngasih kesempatan penumpangnya buat istirahat..... somehow setelahnya otak gue muak... eh nggak.. bukan... bukan muak tapi MUAKKKKKKK BANGETTTTT sama bau rokok! Tapi ya salah kite juga sih, kita nggak tau kalau ternyata lantai itu adalah lantai khusus perokok, dan gue baru tau setelah beberapa hari nginap di sana. Jadi masalah kamar bau rokok itu bisa dimaklumi deh. Next...

Kamar yang kita dapat ternyata nggak sesuai dengan bayangan gue tentang hotel yang family friendly. Well, Billy request buat dapat kamar yang lebih besar, tapi kantornya yang medit itu cuma ngasih kamar  standar aja rupanya. Mikirin bakal tinggal lama di kamar itu dengan anak, gue langsung khawatir anak gue bakalan bosan, tapi ternyata anak gue seneng-seneng aja,dia pikir dia lagi liburan! hehehehe...

Teruuuuusss.... apa dooong review jeleknya tentang si hotel sampe nilainya turun kelas dua tigaperempat bintang?

Good question! Dimulai dari penampakan seekor kecoa di dinding kamar yang tiba-tiba gue liat pas mau bobo malam. Hellooooooooooo.... berapa bintangnya katanya? Lima?? Ada kecoa di dalam kamar hotel bintang lima??? Oh bloody! Jangan dulu tercengang, karena gue rasa penghuni berkaki lebih dari dua di kamar yang gue tempatin kayanya nggak cuma kecoa. Waktu gue masih nginap di kamar smoking floor, kaki and tangan gue sempet gatel banget dengan bekas gigitan serangga. Awalnya gue kira karena serangga yang mungkin nyerang waktu main-main di pantai. Cuma dua gigitan aja, so I didn't take it seriously.

Setelah kita sadar bahwa kita tinggal di smoking floor, akhirnya kita minta pindah kamar di non smoking floor. Nah setelah 2-3 hari di kamar ini tiba-tiba jidat and kaki gue diserang serangga yang gue nggak bisa liat penampakannya. Kutu kah??? Gue nggak tau yang jelas GATAL BANGET SODARA-SODARAAAAA!!!!!! Ada kali belasanan bentol...ntar gue itung dulu, bekasnya bahkan masih ada sampe sekarang. 6 di jidat, dan entah berapa di kaki... total jendral pokoknya banyak!!! Nggak cuma gue yang kena, laki gue juga. Alhamdulillah banget anak gue nggak kena. Kalo nggak bisa nggak tidur gue sepanjang malam sampe gatalnya ilang, dan gatalnya nggak ilang sampai berhari-hari lhoooooo. Ih, alhamdulillah anak gue nggak kena, boro-boro kutu, digigit nyamuk aja anak gue gatalnya berhari-hari. Bahkan kadang sampe sekarang masih gatel tuh bekas gigitan yang ada di kaki gue.... parah ya book! :(

Gue langsung telpon room service minta diganti semua seprei, bantal, selimut, dan gue bilang gue digigit serangga yang nggak keliatan di kamar itu biar disemprot gitu. Kali ini gue yakin kena di kamar karena setelah pindah ke kamar itu sebelum kena gigitan serangga gue belum main-main ke pantai. Kadang pas frustasi karena gatalnya pengen rasanya gue minta suami request pindah hotel sekalian, tapi nanggung karena kita cuma nunggu beberapa hari lagi buat masuk ke housing sementara kalau mau pindahan barang yang di bawa segambreng. Dan setelah segala-gala diganti tetep aja gigitan serangganya nambah dong.

Bugs problem itu adalah masalah yang paling fatal. Masalah-masalah lainnya jadi sepele deh, such as: suami gue minta semirin sepatu tapi nggak disemirin padahal udah ditaro di tempat semir sepatu, laundrynya yang harga bintang lima tapi nggak ada wangi-wanginya acan, kualitas makannya yang sama sekali nggak bintang lima; nasinya yang terlalu keras lah, variasi makanan breakfast yang sangat terbatas lah, kadang bahkan beberapa menu bisa kehabisan. Oh come on! Gue pernah tinggal di hotel yang nggak bintang empat pun, tapi variasi menu breakfastnya lebih bagus dari Le Grandeuruo! Menu yang selalu ada di buffet pas breakfast (gue sampe hafal): Sossis & bacon , sup kacang merah, kentang yang masaknya berubah-ubah kadang rebus, goreng, panggang..., mi goreng atau bihun goreng (yang kalau datangnya kesiangan mienya udah kering bener), nasi yang kadang-kadang diganti sama nasi goreng, dan yang pasti berubah-ubah tiap hari adalah sayurnya, terus ada buah-buahan, yoghurt 3 rasa, macam-macam roti yang selalu sama, bread pudding (yang selalu sama juga), cereal, milk and juices. Terus ada stall sandwich dimana tamu bisa meracik sendiri sandwichnya, ada stall omelet dimana kokinya masaknya agak lama jadi tamu males nunggu tapi minta diantar.... nggak jarang kita jadi ilfeel mau minta karena lah kokinya mana??? ...rupanya kokinya lagi antar-antar omelet pesanan customer. Ada lagi stand bubur ayam dan bubur ikan. Trus terakhir ada stall makanan yang selalu ganti-ganti antara nasi kuning, rawon, soup kimlo, tekwan, atau lontong sayur. Biasanya kalau kesempatan nginap di hotel bintang ini kesempatan gue buat makan keju-keju mehong, jangan harap nemu keju mehong di Le Grendeuruo... nggak ada keju disini! *ngekngoook*

Eh tapi pernah lho ada tamu yang marah-marah sama salah satu petugas restaurantnya, yaaa nggak marah-marah kaya politikus lagi adu debat di tipi gitu sih, tapi lumayan nyentil lah. Gue nggak sengaja dengar si Bapak Tamu (BT) ngomong gini : "makanannya cuma ini doang?"
Petugas : "iya Pak, tapi bapak bisa ambil sepuasnya kok."
BT : "ini mana mienya, habis? Buahnya cuma segini? Ini petugas yang bikin omelet mana? Kok nggak ada?"
...
Selanjutnya gue nggak denger karena langsung duduk nemenin anak gue sarapan, tapi kalau waktu itu lagi nggak pegang piring rasanya gue mau kasih standing applause ke si Bapak Tamu seketika!

Apa lagi dah? Tentunya masalah wallpaper kamar yang robek pun jadi terlihat sepele kaan? Terus lampu kamar yang tiba-tiba mati juga sepele kan? Dua kali lhoooo lampu kamar kita mati, dan cuma kamar tempat keluarga gue nginep doang yang mati. And when I said "lampu kamar" I mean segala listrik di kamar gitu deh. Kece kan? Terus masalah playground buat anak-anak yang nggak ada...? Hah? Emang itu masalah ya???  Lobby yang kecil untuk kelas bintang lima pun kayanya bukan masalah dong yaaak...*standar langsung drop!* -___-"

pemandangan laut dari jendela kamar diwarnai wallpaper yang blewer... :p
Tapi biar gitu tetep aja hotel ini rame. Menurut Billy kebutuhan hotel di Balikpapan emang tinggi banget, jadi mungkin karena itu juga standar hotel bintang lima jadi nggak terjaga kali yak. Walaupun kualitasnya drop dibanding kelasnya tetep aja tamunya banyak. Selama gue tinggal disitu gue pernah ketemu sama rombongan family gathering perusahan kontraktor yang kayanya dari Smarinda, pernah juga ketemu sama rombongan partai biru yang ngadain rapat di situ. *tsk!* Dan waktu liburan Natal yang jatoh pas long weekend hotel mendadak rameeee sama keluarga-keluarga yang bawa mobil. Gue rasa Balikpapan ini jadi semacam Bandungnya Jakarta bagi orang-orang Samarinda, if u know what I mean.  Dan dikala hotel itu lagi rame-ramenya dengan keluarga, surprisingly mereka menutup restaurant untuk sarapan dan mindahin ke ruangan lain. Waktu ngeliat restaurantnya ditutup kita pikir mereka emang antisipasi untuk tamu yang membludak biar cukup, karena waktu rombongan family gathering dari Samarinda yang pas weekend juga gue sempet terpaksa berbagi meja sama tamu lain saking penuhnya. Ternyata eh ternyata, sarapan dipindah ke ruangan yang lebih kecil jadi untuk sarapan kita harus antri pake waiting list. Blaaaaaah.....! Restaurantnya ditutup buat acara Christmas brunch, yang gue nggak tau deh free buat tamu atau buat tamu undangan atau siapa, yang jelas kamar gue nggak dapet undangan tuh... cih!

Tapi akhirnya waktu kita check out kebetulan Billy diajak ngomong sama salah satu petugas yang ternyata berpangkat "duty manager"... jeng jeng jeeeeeng!!!! Namanya gue lupa, lagian kalau gue inget pun kan nggak layak lah ya gue tulis disini. Waktu Billy tanya si bapak yang ngajak ngobrol ini kerjanya sebagai apa, dan beliau jawab bahwa ternyata dia adalah sang duty manager langsung lah Billy kasih tau apa-apa yang menurut Billy sebaiknya jadi review buat sang manager. Sayangnya laki gue cuma inget urusan nasi keras, sepatu nggak disemir doang.... untung gue denger, gue langsung dong dong dong nambahin urusan bugs problem sambil kasih liat bukti jidat jenong kece gue yang mendadak totol-totol thanx to their outstanding pet control! Billy bahkan nggak bilang rusan wallpaper yang robek. Laki gue itu sangat lembut hati, padahal gue sempet ketemu beberapa kali sama si duty manager ini. Sayang waktu itu gue nggak tau dia siapa, kalau nggak dia bakalan dapat kritikan lebih pedas dari sambal lado gilo dari gue. :p

Gitu deh review gue soal hotel Le Grandeuruo. Hmmmm... kalau ente-ente mau main ke Balikpapan dan nyari hotel bintang lima, yah gue nggak suggest hotel ini deh dengan dasar pengalaman gue.


Yuuuuk mariiiii...