Saturday, February 14, 2009

I listen to them with total respect

These gentlemen are the most affecting men in my life, who are all connected to the dots of my fate. Their words are my lectures, kinda my walking encyclopedia. I'll ask them if I get confuse depending on the case and situation. Dear folks, let me introduce you to....

First: is my dad


There is no doubt that he's my role model in manner, faith, honesty... seriously, I cant stop typing even until the screen is full of words to mention what has he thought me! The point is he's my dad, my main role model in life so far. He still the number one person I'd listen to. NO doubt on that!

Ever since I was born, my dad has been worked on an oil company. A company that gives their employers (and family) some quite satisfying accommodations including dental health care, which somehow introduced me to this man bellow like ten years ago while at that time I was only one of hundreds of his patients...


Number two: Drg Sucitro Wongso, sp. prost; my dentist, my boss, my private lecturer in dentistry


I owe this gentleman his skills and experiences that he shares me freely. I still remember when I was so down and disappointed cos i didn't pass the test to take geology, and everyone around me kinda really failed to hide their disappointment on me, but this man said to me "this is good news!!! It's blessing in disguise! Don't be sad and what were you thinking by taking geology???..." And he continued enlighten my spirit by telling me the steps I should take, as by the time I knew I have failed in taking geology I didn't have choice but to take dentistry which I already applied for my backup. If not because of him that time, it wont be that easy for me to recover from my failure. And he didn't just stop till that. Every time I came visit him just for accompanying my sisters or might to check for my own teeth, he always ask me if I have trouble in my studies, and if there is he'd help me gladly. He really did!

When I've finished my temporary contract with government for so called PTT, I came visit him just to ask what does he think I better do next and what did he do on his time like mine. I was jobless that time and very busy spreading my CVs. Coincidentally he was looking for a dentist to replace him while he planned to go for vacation, then he asked me for it. Being his patient for years I know this man wont ever messing around with his works, so this offer is not a joke at all, it's a great honor instead! So I toke it, worked for him as an apprentice until I replace him for couples of days. But then somehow he likes me and he hired me till now... hehehe, alhamdulillah!

I mostly pretty much enjoy working there as my start in career, until one day which introduce me to this patient whom I guess will very much change my life....

the last: Billy Sunyoto, ST; my (hihihihi... it still feels odd saying this in public but I love the fact!!!) future husband in couple more weeks, insyaAllah. ^______^


Billy works on the same company where my dad had worked on (but they don't know each other cos my dad is geologist while he's a mechanical engineer). As my boss's patients are mostly from few oil companies in Kuningan Jakarta, and some of his patients also become mine depend on the case, so Billy has become my patient too.

It was just six months ago when he came for the second time to check his teeth to my boss, and my boss refers him to me with a memo that says "ITB graduate, 27 years, unmarried, BE NICE!!!!"
The note was put behind Billy's head so he knew nothing while I and the nurses giggled badly for it. What the...?? Boss.. oh... boss! But somehow I just think and pray slightly and silently "...well God, if You think this is the one then please make it easy."

After I've done my work on Billy, my boss continued his cupid works to him. I don't really know what has he said but more or less is "... that dentist is still single..." I can imagine his face while saying it hehehehe... But his cupid work works! Billy tried to find me on the internet with all the info he got about me which are only: my name is Diana and I graduated from Trisakti University. Period! He said he found 6000 results from google but he finally found me at least hahaha...

With all due respect dearest, I put you in number three today but you will surely humping to number one one day ;)

Amazing life so far? Alhamdulillah! God must love me so much to give me those dots of fates. And it surely continues....


Dear God, please protect me from loving anything more then I love You and the prophet. Amin!

Monday, February 9, 2009

Ketupat dari Gayo

Belum lah lama aku meninggalkan Bapak serta merta meninggalkan keluarga dan kampungnya, selama itu pula Bapak sakit. Batuknya tak kunjung sembuh, malah kian parah. Bukan karena ku beliau sakit, tapi aku juga tak percaya jika karena umur. Bapak yang sudah 7 dasa warsa lebih merasakan hidup masih kuat menanami sendiri kebunnya, memarangi gulma-gulma di dalamnya, menebarkan bibit ikan di kolamnya, mengambil sendiri hasil panen kebunnya. Bapak yang begitu tebal kulihat kulit telapak tangannya karena kerja kasar, masih mampu membaca tanpa bantuan lensa, tak ada menu makanan yang dipantang selagi halal, tak ada satu pun penyakit sistemik langganan manusia berusia tua dia derita; yang aku yakini sebagai akibat baik dari kebiasannya meminum bergelas-gelas air putih sebangun tidur dan tidak pernah makan berlebih-lebihan.

Kemurahan hatinya dan Ibu telah memberikanku atap untuk tidur selama satu bulan. Tahu beliau sedang sempit hatiku karena jauh dari keluarga, beliau hibur aku dengan mengajakku menikmati kebunnya bersama Ibu, anak-anak dan cucu-cucunya. Tulus mereka menolongku tanpa berharap pamrih. Jika tahu aku berniat membalas kebaikannya dalam wujud lembaran kertas bernilai pasti merah padam muka beliau karena marah. Sungguh putih hatinya, besar hutang budiku pada Bapak.

Sebulan setelah aku meninggalkan tanah Gayo, kutelpon Ibu untuk sekedar menanyakan kabar. Masih riang suara Ibu, bangga dia anak angkat dari Jakarta masih ingat padanya. Ketika kutanyakan kabar Bapak, masih lah tenang suara Ibu mengatakan bahwa batuk Bapak tak kunjung sembuh. Ia kemudian bertanya padaku apa kira-kira sebabnya. Ibu yang polos, beliau menganggapku orang yang serba tahu.

Pada awal Ramadhan 1430 Hijriah kembali kutelpon Ibu. Kembali kutanyakan kabar Bapak, keadaan beliau tambah parah. Beliau tak bisa makan, habis kurus badannya cerita Ibu. Tak ubahnya cerita setelah Syawal kecuali Bapak yang semakin parah. Beliau bahkan tak bisa berbicara denganku di telpon.

Beberapa minggu setelahnya, setelah shalat subuh dan mulai bersiap untuk pergi kerja Papaku memberi kabar berpulangnya Bapak. Yana, anak kandung Bapak yang kuliah di Jakarta memberi kabar. Tidak keluar air mataku saat itu, kecuali aku merasa sangat beruntung sempat mengenal manusia tulus seperti beliau, semoga Allah menerima segala amal ibadahnya.

Lalu kemarin, pada hari yang sama ketika Yana memberitahukan bahwa madu yang diberikannya adalah titipan lama dari Bapak untukku, Ibu pun bercerita tentang beliau dan Bapak.

"Tak bisa kugantikan baiknya Bapakmu itu, Nak ku. Luar biasa baiknya dia. Sayang kali lah dia ke aku ni..."

Dalam terawangannya Ibu bercerita berkali-kali Bapak dalam sesak nafasnya dengan daya yang semakin melemah menyodorkan tangannya pada Ibu seperti hendak meminta maaf.

"Kenapa ken Bapak? Tinggal sikit kah umurmu kau rasa?" Ibu mencontohkan pertanyannya dengan logat Gayo yang kental.

"Mana bisa kutinggalkan ko sekarang. Ko ni manja kali kulihat, gak satu pun ko cocok; nggak dengan menantu, nggak dengan anak. Itu semua salah ku, aku yang buat ko manja kali. Aku minta maaf, Mak'e."

"Bukanlah Bapak yang banyak salah sama aku. Aku ni lah yang banyak dosaku ke Bapak" jawab Ibu.

Berkali-kali Bapak menyodorkan tangan kananya pada Ibu di hari-hari terakhirnya. Sampai pada hari terakhir hidupnya ketika beliau telah dilarikan ke rumah sakit, dengan jarum infus yang ditusukkan pada kulit tuanya, dengan masker yang menyuplai oksigen menutupi hidung dan mulutnya, dalam sesak nafasnya yang tinggal satu-satu, Bapak kembali menyodorkan tangan kanannya pada Ibu. Ibu menyambutnya, di belakang beliau dua dari empat anak laki-lakinya menemani. Dalam genggaman maafnya dengan Ibu, cerita Ibu, Bapak menengok pada salah satu anak laki-lakinya dan tertariklah nafas panjang berat terakhir beliau. Inna lillahi wa inna illahi roji'un...



Berkaca-kaca mataku mendengar cerita Ibu, merinding aku dibuatnya. Selalu kagum aku dengan Bapak, benar-benar beruntung aku mengenal beliau.

Doaku menyertai Bapak, sebagai sesama hambaNya.

Monday, February 2, 2009

Jakarta, oh I hate you!




Kamu membuatku muak
Kemacetanmu nyaris membuat atrofi otot paha
Banjirmu adalah cerita lama yang menyebalkan tiada tara
Langitmu yang tak lagi pernah biru membuat durjana
Dan oksigemu, huh.. tipis seperti pakaian perempuan penggoda
Kamu seperti binatang jelek bercangkang emas dengan status ibukota
Dan sialnya.. Oh sungguh sial,
Aku terjebak dalam pusaran gravitasimu, lemas tak berdaya
Ah, aku muak denganmu!