Sunday, October 28, 2007

I've done unpack!.


Hhh..after 12 hours on road, no AC, no bath, no facial cleanser cause I put it on my locked suitcase, and share sits with a couple with 2 y o kid who can't stop kicking me... I've finally arived at Gayo.
I miss home already! Hihi..

Btw, i'd like to complain about that moron airasia staf and its stupid system at the check-in that has made passangers to queue an hour instead of just ten minutes. They shouldn't hired imbeciles! Thanx to them, i've lost my precious last minutes with my family, and I even forgot to wish my mom happy birthday before I leave! Hah!

Happy birthday momy!

Anyway,thanx to mr.Aditrance who has brake in the terminal to give my bags that i left outside and saved me a lot of time hehe.. How the hell did he do that?! Super cool! Hihi..

So here I am, back to town with thousands hills. Zzzzzz...

Monday, October 22, 2007

Oi!


Untuk kepompong yang belum mau menjadi kupu-kupu
Untuk kecebong yang belum mau keluar dari air
Untuk daunan yang belum mau menyatu dengan tanah dan menjadi humus
Dan untuk malam yang belum mau menjadi fajar
Tolong hentikan waktu sejenak!
Bilang pada Adam, Hawa masih ingin bermimpi tentang bintang!

Saturday, October 20, 2007

I got a big punch till KO last night

Ha ha ha ha ha!!!! (tertawa malu!)
Ehm, jadi begini... seperti yang kita lihat di sini, saya sedang berada di depan komputer rumah, duduk di atas kursi empuk dengan AC menyala, sementara perut terisi dengan makanan bergizi kualitas 4 sehat 5 sempurna dari masakan Mama atau persediaan di rumah. Sementara nanti siang saya akan makan-makan dengan saudara-saudara saya, beramah-tamah, ketawa haha-hihi, dan sore nanti mungkin akan berlanjut ngumpul dengan teman-teman, dan besok, dan besoknya lagi, dan mungkin besoknya lagi. Oh... hidup begitu nikmaaaaaaaaaat!

Sementara kontrak kerja saya tinggalkan da lupakan tanpa merasa bersalah, eh... ada sih rasa bersalah dikit, dikiiiiiiiit aja. Dan kalau ada yang nanya kapan kembali lagi ke Aceh, saya akan jawab sambil cengengesan dengan sedikit rasa malu yang ditutupi kulit badak, "akhir Oktober tuh hehehehe..." Yah, kan wajar lah saya kan kerja di tempat yang jauuuuuuuh terpelosok, jadi kalau sekalinya pulang, ya nggak apa lah nyuri waktu ekstra. HA HA HA HA HA HA HA!!!!! (ketawa malu.... dan malu-maluin!"

Tapi tadi malam saya kena pukul telak. Ibarat pertandingan tinju, tadi malam saya kena pukulan KO pas di tengah muka yang membuat saya sempoyongan dan jatuh tak bergerak! Seorang teman dari daerah tetangga bertanya kapan saya kembali lagi ke Aceh, dan saya jawab akhir Oktober seperti biasa.Kemudian dengan cengengesan seperti setan (yang sebenarnya adalah untuk menutupi rasa malu, karena saya yakin orang-orang ini pasti sangat takjub melihat saya bisa 'cuti' dua kali dua minggu bahkan lebih dalam jangka waktu enam bulan...) saya mengatakan dengan bangga: "hidup makan gaji butaaaaa!!! HA HA HA HA...!!!!!" Tapi teman saya dengan ringannya menjawab: "hehehe... corrupt."

BAH!!!!! Saya memang malu sedikit karena kabur dari kontrak kerja, dan yah... mungkin memang makan gaji buta sedikit, tapi nggak pernah kepikiran jadi korup! Saya?? Diana Saib???? Manusia yang sering memaki-maki koruptor dan bekoar-koar menentang korup dalam bentuk apa pun(walaupun koarnya hanya melalui tulisan-tulisan sepele dan pembicaraan dengan teman-teman aja), nggak taunya bisa karup juga?????????? BAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Apa kata dunia!!!!!!!!

Sekian detik kemudian otak saya bekerja jeras, memikirkan celah atau alasan apa pun supaya pelarian dari kontrak kerja seperti ini nggak masuk kategori korupsi...... dan ternyata tidak berhasil! Saya pun bertanya ke Papa saya, dan jawabannya:

"Euuuuuh... iya! Emang! Kamu mah makan gaji buta udah nih, itu korup!"

"Trus, kena tanggung jawab akhirat juga dong neh..."

"Lha iya! Banyak-banyak aja istighfar... hehehe..." terus ngeloyor pergi ke mesjid.

Yaaaak...! Sempat terpikir untuk pulang weekend ini juga. Lagi pula pegawai negeri ken memang baru kerja hari Senin besok, jadi secara teknis saya baru korupsi tiga hari kerja, karena saya mulai bolos tiga hari sebelum cuti bersama. Eh... tapi dua bulan lalu saya juga izin 12 hari kerja untuk kabur ke Jakarta sih hehehehe......... sial! Tapi untuk pulang weekend ini, tiket juga belum dibeli, obat-obatan, alat dan bahan yang mau dibawa ke Aceh juga belum dicari. Lagi pula saya udah janji untuk pulang tanggal 28. Oh, ternyata begitu berat untuk jadi orang jujur!

Dan akhirnya setelah memikirkan masak-masak dan kembali bertanya dengan Papa (yang merupakan guru dan sepuh saya dalam memerangi korup) sepulang beliau dari mesjid, akhirnya saya memutuskan untuk tetap pulang tanggal 28 dengan konsekuensi saya harus mengganti setiap hari kerja yang sudah saya curi setelah kontrak saya selesai. Yah, berdoa aja supaya masih ada umur sampai pertengahan Mei 2008. Kalau ternyata (mudah-mudahan jangan sampe, tapi ketentuan Allah siapa yang tau...) umur saya nggak sampai, yah apa boleh buat... di akhirat nanti saya kena deh divonis bersalah karena korupsi hari kerja. Yah... untuk itu, mungkin memang perlu banyak-banyak berzikir aja dari sekarang hehehehehe....(masih ketawa malu!)

Maaf yaa, Ibu Menteri udah nyuri-nyuri hari kerja... hehehehe....

Perangi korupsi dari diri sendiri! hihihihi...

Thanx for the KO punch, Mr Akazmofa.

Tuesday, October 16, 2007

KETUPAT LEBARAN DARI GAYO

CHAPTER I

Imam itu membacakan doa dalam bahasa Arab dengan suara dan gaya khas Aceh, atau lebih tepatnya Gayo. Ini imam kalau nyanyi bisa jadi Tompi kedua deh, begitu pikir saya. Sekitar 150 makmum mengaminkan doanya. Saya melihat sekeliling; suarau ini penuh. Bangunan sederhana seluas 13x10 meter ini dibangun dalam bentuk rumah panggung. Lantai dan dindingnya dibuat dari papan kayu pohon pinus, memang itu pohon yang banyak terdapat disini. Dinding dalamnya dicat biru muda, dan putih di bagian luar. Lantai kayunya ditutup dengan tikar-tikar dan sajadah-sajadah panjang. Sebuah lampu kristal sederhana tergantung di tengah langit-langitnya yang dicat putih. Surau ini memang mungil dan sederhana tapi begitu bermanfaat untuk menampung jamaah dalam radius 1 km.

Surau ini menyerong terhadap petak-petak tanah sekelilingnya. Sebelah timur laut adalah sawah dan kebun bawang; sebelah utara dan barat laut adalah rumah penduduk; sebelah barat dan barat daya adalah tanah kosong luas yang sebagian kecilnya dipinjamkan oleh pemiliknya kepada petani kecil untuk berkebun; sedangkan sebelah selatan, tenggara, dan timur adalah rumah dan halaman dari pemilik tanah kosong tadi, rumah dimana saya membayar untuk tinggal.

Saya teringat saat pertama kali mendatangi surau ini bersama Ibu untuk shalat Zuhur, beliau menceritakan bagaimana dulunya surau ini dibangun. " Dulu tanah surau ini tanah kita juga, Diana. Bapak yang menghibahkan untuk dibangun mesjid, mesjid kecil-kecilan aja buat nampung orang kampung." Ibu sangat bangga dengan mendiang suaminya, dan nggak jarang beliau menangis saat bercerita tentang almarhum. Saya sudah banyak mendengar cerita tentang mendiang suami Ibu, bahkan sebelum saya mendengarnya dari mulut Ibu sendiri. Bapak adalah orang yang sangat jujur, begitu yang saya tangkap, bahkan mungkin terlalu jujur untuk bekerja dengan pemerintah daerah yang baru mekar yang masih sangat hijau dan basah. Menurut cerita-cerita dari orang-orang yang berbeda, beliau meninggal akibat diracuni dengan ilmu hitam oleh orang yang tidak senang dengan kejujurannya. Wallahualam bin sawab.

Sang imam membacakan shalawat untuk ajakan tarawih diikuti dengan sautan makmum, dan kami semua berdiri untuk memulai tarawih. Saya menengok ke belakang, surau ini benar-benar penuh bahkan sampai shaf paling belakang. Subhanallah, Bapak memang sudah tiga tahun meninggal tapi berapa banyak pahala yang tetap dia dapat, terus mengalir setiap harinya, setiap surau itu digunakan untuk shalat berjamaah atau sekedar pengajian.

Apa ya tabungan saya kalau sudah jadi seperti Bapak??

***



CHAPTER II

"Ngantuk ya, Dok?" Perempuan itu tengah tersentak dari tidurnya saat saya menengok ke arahnya.

"Iya nih. Udah ketiduran deh saya, ngantuk banget."

Saya tersenyum ke arahnya dan mengamati beliau merapihkan jilbabnya untuk bersiap kalau dipanggil kembali ke ruang praktek, saat itu kami sedang berada di ruang istirahat dokter. Perempuan itu sangat sederhana, mengenakan gamis dan jilbab panjang yang menggantung sampai bawah perutnya, punggung dan telapak kakinya tertutup kaus kaki. Mukanya polos tanpa make up, tapi ntah apa yang membuat beliau bagitu sejuk untuk dilihat.

"Dokter Saripah, ada pasien!!" Seorang perawat memanggil beliau dari pintu kami dengan ketus. Saya melihat ke perawat tersebut dengan tatapan datar, saya tidak senang dengan orang yang tidak senang dengan orang saleh seperti dokter Saripah. Tapi memang begitu lah yang diramalkan Quran, orang-orang muttaqin seperti dokter Saripah tidak pernah lepas dari diperolok-olok dan dimusuhi.

Saya kembali tersenyum saat beliau melewati saya untuk meninggalkan ruangan kami. Diam-diam saya adalah pengagum berat dokter Saripah. Saya banyak mendengar cerita tentang beliau. Perempuan ini adalah ibu dari sembilan anak! Tapi bukan itu yang membuat saya kagum, melainkan bagaimana dia benar-benar bisa menempatkan diri sebagai ibu dan istri yang benar-benar sesuai dengan syariah. Sosok yang baru bisa aya kagumi, tapi nggak yakin bisa saya contoh... he he he!

Dokter Saripah tinggal bersama suami dan kesembilan anaknya di rumah sewaan sederhana di tengah pasar. Dengan penghasilannya sebagai seorang dokter, saya yakin ia sebenarnya mampu menyewa rumah yang jauh lebih bagus dari itu. Disamping jadwal tugas jaga praktek di rumah sakit yang sibuk, di rumah dia masih sanggup mengurus tiga balita dan satu anak remajanya yang terbaring cacat akibat kecelakaan. Malahan menurut cerita beliau, anak-anaknya lebih dekat dengan beliau ketimbang suaminya.

Perawat saya pernah bertanya kepada beliau ketika kami sedang mengobrol di ruang kerja saya tentang cara untuk jadi ibu yang sabar, "caranya banyak-banyak aja istighfar. Anak-anak memang cobaan, tapi kalau mereka minta diperhatikan oleh ibunya itu hak mereka. Saya nggak pernah keberatan kalau anak saya minta gendong walau mereka udah berat juga, memang haknya untuk dipeluk dan digendong ibunya. Anak-anak kecil itu masih dominan terhadap rasa takut, itu tugas ibu untuk membuat mereka merasa aman." Begitu kurang lebih jawab beliau.

Suami dokter Saripah sebenarnya sarjana, tetapi memilih bekerja sebagai penarik becak motor. Dengan profesi yang jauh lebih tinggi dari pekerjaan suaminya, dokter Saripah tidak pernah menganggap remeh malahan tetap tunduk terhadap suaminya. Suaminya melarang beliau berdandan, beliau tidak berdandan. Suaminya melarang beliau menumpang becak motor atau ambulans rumah sakit yang menjemput tanpa ada muhrim yang menemani, beliau pun memilih berjalan kaki ke rumah sakit kecuali kalau memang ada muhrim yang menemain. Dan itu sering menjadi bahan olok-olok orang yang pengetahuannya terbatas.

Beliau dicemooh karena berjalan kaki ke tempat kerja, karena mempunyai demikian banyak anak, ditertawakan karena menyewa rumah kecil di tengah pasar sementara beliau adalah seorang dokter. Padahal Allah menjanjikan surga untuk istri dan ibu seperti dokter Saripah, insyaAllah.

Yaaaaaaaaak... sosok yang baru mampu saya kagumi, tapi bisa nggak ya saya contoh??? He he he... beraaaaatttt!!!

***



CHAPTER III

"Dah makan ko? Ambik pirinng mu makan terus sini!"

"Wah... Diana dah kenyang Pak. He he he..."

"Apa ni? Nggak mau lagi ko makan di sini? Aku benci kali ada orang lapar di rumahku. Ayo ambik piringmu, makan terus sini!"

"Mau kok, Pak. Tapi Diana udah kenyang, suer! Besok deh ya, insyaAllah Diana makan di sini. He he he... Diana ke depan dulu ya, Pak." Saya pun meninggalkan orang tua itu dan berjalan ke ruang tamu rumahnya.

Ruang tamu itu berukuran 3x3 meter, hanya diisi oleh satu set sofa tua dari bahan bludru yang sudah banyak sobekan disana-sini, satu meja tamu kayu beralaskan taplak sulaman sederhana dan vas bunga kecil dengan bunga palsu murah di dalamnya, dan dua buah kursi plastik dengan meja di sisi lainnya. Lantai ruang tamu itu dari ubin tua berwarna kuning dengan permukaan yang kasar, bukan keramik, bukan pula semen. Sisi timur ruang tamu itu dibatasi oles susunan papan kayu tua yang sisi luarnya menghadap ke jalan, dengan pintu di tengahnya yang lebih sering terbuka pada siang hari. Rumah ini sebenarnya adalah rumah toko, tapi digunakan hanya sebagai tempat tinggal oleh pemiliknya.

Saya duduk di atas sofa bludru tua yang menghadap ke jalan, sofa itu sebenarnya sudah kempes dan keras tapi tidak pernah ada yang mengeluh, sofa itu tetap nyaman dan berguna sesuai fungsinya. Saya tersenyum sendiri mengingat bagaimana Bapak selalu memaksa saya untuk makan di rumahnya, nggak beda sama Ibu. Bapak dan Ibu sangat cocok, seperti puzzle yang saling mengisi. Kalau Bapak itu sederhana tapi pendiam, sedangkan Ibu sederhana tapi suka cerita. Keduanya insyaAllah orang-orang saleh, dan saya sangat beruntung mendapati mereka sebagai orang tua angkat selama berada di daerah mereka.

Bapak dan Ibu adalah orang-orang yang sangat sederhana. Bapak bukan orang yang bekerja dan menjadi budak uang, tapi beliau bekerja karena itu ibadah. Beliau adalah pensiunan pegawai negeri dari departemen agama dan pernah menjabat sebagai anggota DPRD pada masa ORBA, tetap saya berani menjamin beiau adalah pegawai negeri yang bersih InsyaAllah, lihat saja bagaimana gaya hidup dan rumah mereka sekarang.

Semenjak pensiun Bapak bakerja untuk mengurus kebun dan kolam-kolam ikannya, bukan untuk menghasilkan uang, tapi untuk sekedar memenuhi kebutuhan keluarga dan kesenangan beliau. Saya pernah mengajak orang tua saya melihat kebun dan kolam-kolam Bapak, dan pikiran kami sama; kebun dan kolam-kolam ini bisa menjadi asset yang menjanjikan kalau Bapak mau. Tapi Bapak lebih memilih mengelola kebunnya kecil-kecilan dan menikmati hasil panennya dengan keluarga.

Beberapa kali orang-orang mencuri hasil kolamnya, tapi ketika salah satu anaknya yang menyumbang untuk membeli makanan ikan marah-marah karena itu, dengan tenang Bapak menjawab, "orang itu nyuri mungkin buat makan. Mungkin mereka memang lapar, ikhlas aja! Ko coba ingat-ingat, jangan-jangan uang yang ko pakai buat beli makan ikan itu nggak bersih."

***

un poème pour le ciel


Hélas le ciel!

Je ne croix plus au miracle

Ni a l’amour ni au sentiment

Le vent a cassé mon aile

La terre a gelé mon esprit

La dernière c’est la fin

Allez dire aux nuages pour s’évanouir

Arrosez l’arc en ciel au peint noir

Mais laissez les étoile se rayonnent

Car ses sont mes rêves, mes espoirs

Je vais souffler a soleil pour qu’il le crie á l’univers

La pensee que je pense, le dernier zèle que je garde

« Ce qu’il y’ a au passé dois rester en oublie.

Maintenant c’est maintenant et demain ! »

Monday, October 15, 2007

H O P E



push me to the future
pull my mind to the past
my hair, my toe, my soul...
dancing for what is best for tomorrow
what is best for tomorrow?
tomorrow is blur but should be promising!

my new look blog!

I got this new template from a Spanish site, ha ha ha ...! wanna try?

http://blogandweb.com/category/plantillas-blogger/

but the problem is some of the links are in Spanish which I can't even understand! Can you speak Spanish?? Well, good luck then...


courtasy of ikramputra..., thanks!